Catatan Kecil Mengenai Ada dan Waktu (Being and Time)

Gambar oleh: raptisrarebooks.com
‘For manifestly you have long been aware of what you mean when you use the expression “being”. We, however, who used to think we understood it, have now become perpelexed.’ — Plato

Kalimat di atas merupakan kutipan dalam bukunya Heidegger Being and Time (1962). Dalam buku tersebut, Heidegger memberikan sebuah pertanyaan perihal pemahaman yang merujuk kepada kata “being”. Apabila kita mengajukan pertanyaan mengenai “being”, sejatinya yang kita pahami selama ini ternyata tidak menjangkau maksud keseluruhan dari kata tersebut. Ternyata tidak semua orang — khususnya pada zaman ini — yang tidak termasuk ke dalam orang yang tidak mengerti mengenai pertanyaan tersebut. Dengan kata lain, menurut Heidegger, mestinya kita sekarang memperbaharui sebuah pemahamaan akan “kata” tersebut.

Seturut pemaparan Macquarrie dan Robinson dalam catatan kaki, Heidegger menerjemahkan dialog Plato tersebut yang semula dari kata ‘seind’ menjadi ‘sein’ dalam bahasa Jerman. Di samping itu, kata ‘seind’ atau pun ‘sein’ mestilah dibedakan pemahaman keduanya. Karena, kata ‘seind’ merujuk kepada sebuah entitas, sementara kata ‘sein’ ialah dalam bentuk yang terus menjadi, suatu aktivitas dimana dalam bahasa Inggris sebagai bentuk infinitif (to be).

Kedua kata tersebut masih harus dibedakan dari nomina ‘Sein’ atau dalam bahasa Inggris ‘Being’ dan juga ‘Seindes’ yang merujuk kepada entitas being. Keduanya dibedakan berdasarkan penggunaan huruf kapital dengan memberikan nuansa berbeda dari pemahaman pada umumnya. Untuk kemudahan menyampaikan maksud — walaupun pemahaman yang sebenarnya mustahil dapat direngkuh — dalam penulisan ini, saya merujuk kepada istilah yang diajukan oleh Hardiman (2016) bahwa Sein diterjemahkan menjadi Ada, sedangkan Seindes menjadi mengada atau ada dengan huruf kecil. Sehingga yang ada hanyalah Ada dan mengada/ada pada uraian selanjutnya.

Heidegger melanjutkan bahwa memang Ada adalah sebuah kata dan bahasan yang sangat umum tetapi juga merupakan sebuah konsep yang ‘kosong’. Pembahasan mengenai Ada sudah ada sejak para filsuf Yunani kuno, terutama Plato, Aristoteles, lalu para filsuf abad pertengahan, hingga Hegel sampai Nietzsche (atau para pemikir post-strukturalisme). Dari rangkaian tersebut, pemahaman akan Ada tidak dapat dikatakan telah selesai untuk diperbincangkan. Justru pemahaman akan Ada masih terus diperbincangkan, ia tidak akan mungkin bisa selesai, dengan kata lain, Ada masih diselimuti oleh kegelapan. Karena Ada itu sendiri selalu menolak untuk bisa didefinisikan, meskipun kenyataannya kata Ada selalu diperbincangkan dan juga digunakan dalam bahasa sehari-hari. Misalnya dalam sehari-hari kita selalu mengatakan bahwa teman kita itu ada, benda itu ada di meja, orangtua kita ada, buku-buku novel, cerita pendek, antologi puisi, esai ada di bagian kategori sastra, ruang ini ada, alam semesta ini ada, dst. Apakah ini semua menunjukkan bahwa Ada adalah penjumalahan dari seluruh entitas? Tidak. Ada bukanlah sekumpulan dari entitas-entitas yang mengada, bukan sebuah hal yang statis. Sebab menurut Heidegger hal-hal tersebut lebih dikenal sebagai “mengada”.

Lebih jelasnya, Ada yang dimaksud di sini tidak bisa disamakan dengan sebuah benda, entitas, hal-hal yang lumrah, yang tampak. Melainkan, “Ada” itu menampakkan dirinya dari yang-tak-tampak dalam sebuah realitas, dan lekat kepada Dasein. Heidegger juga menyebutkan bahwa pembahasan Ada ini berawal dari pertanyaan ‘apa itu Ada? (what is Being)’ karena pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa Ada itu harus mendapatkan definisinya yang jelas dan ketat seperti misalnya Ada adalah alam, kesadaran, akal, dlsb. Dengan kata lain, konsepsi kita menurut Heidegger sebenarnya berkisar pada pemahaman ‘adalah’ tersebut.

Untuk menyelidiki pemahaman yang masih tertutup oleh kegelapan mengenai Ada, Heidegger di dalam bukunya tersebut mengajukan sebuah upaya, bahwa Ada ini haruslah dapat diselidiki, dipahami, diteliti, dan dapat diakses sebagaiamana Ada itu sendiri. Untuk melakukan penyelidikan terhadap Ada, Heidegger menggunakan istilah tersebut dengan anggapan bahwa karena manusia atau Da-Sein dalam bahasa Jerman dengan memberikan tanda pisah (-) yang dapat diartikan ‘Ada-di-sana’. Menurutnya manusia itu mampu menyelidiki, menanyakan Ada-nya ketimbang makhluk lainnya. Sebab itu, Ada selalu merupakan Ada-nya entitas, Dasein, manusia itu sendiri. Tetapi, di sisi lain ungkapan manusia itu lebih kepada abstraksi, seluruh kumpulan ketimbang kondisi yang riil bahwa manusia itu memiliki peristiwa, dari ia lahir, tumbuh, dan mencapai akhir hidupnya.

Manusia dan Usaha Membuat Ada Tampak

Sebelumnya, kita telah mengetahui bahwa Ada ini lekat dengan manusia, walaupun pemahaman akan Ada tersebut masih samar. Dalam hal ini, Heidegger berupaya untuk meneliti dan menyelidiki Ada dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Fenomenologi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani kuno phenomenon yang berarti ‘menampakan dirinya’ (showing itself). Seperti halnya teologi, biologi, sosiologi, fenomenologi berasal dari kata phenomenon dan logos yang berarti suatu ilmu yang mempelajari mengenai fenomena, peristiwa. Istilah yang terkenal untuk menggambarkan secara ringkas usaha apa yang dilakukan oleh para fenomenolog (orang yang melakukan penyelidikan suatu fenomena menggunakan pendekatan fenomenologi), yaitu: “kepada hal-hal atau peristiwa itu sendiri (to the things themselves!). Maka dari itu, fenomenologi ialah sebuah upaya untuk memberikan suatu gambaran yang terang mengenai sesuatu, secara terlihat apa adanya. Dengan menggunakan pendekatan dari kacamata fenomenologi, maka pertanyaan yang pada mulanya lebih merujuk kepada ‘apa itu Ada?’, kini menjadi ‘bagaimana Ada itu dapat dipahami oleh manusia?’

Dari sini kita bisa bertanya, apakah dengan menggunakan pendekatan fenomenologi, maka kita secara mudah memahami Ada? Tidak juga. Karena pada dasarnya fenomenologi ialah untuk meneliti suatu fenomena itu secara apa adanya, pada titik itu juga ia menyaratkan bahwa fenomena itu juga bisa saja seolah-olah menyerupainya (semblance), sehingga ia bukanlah sesuatu yang sesungguhnya tampak pada dirinya. Misalnya, kita bisa saja menyangka bahwa seseorang dari jarak yang lumayan jauh itu adalah kawan dekat kita, ketika kita mendekatinya, ternyata orang tersebut ialah orang lain yang sama sekali tidak kita kenal. Atau, karena kita telah mengetahui bahwa sebuah meja itu ‘ada’ sebagai tempat untuk meletakkan buku, handphone dan lainnya, maka kita juga beranggapan bahwa manusia atau diri sendiri itu ialah apa yang biasa orang-orang pada umumnya lakukan. Dari sini, sebuah fenomena mengenai Ada itu tampak seolah-olah, meniru, daripada yang semestinya.

Hal yang disinggung di atas bukanlah menjadi hambatan untuk manusia untuk melakukan penyelidikan mengenai Ada. Sebab, fenomenologi berkutat kepada suatu “penampilan” (appearance) yang juga berarti bahwa Ada bisa saja terungkap dari yang tampak, dengan kata lain Ada adalah yang-tak-tampak dari yang tampak atau Ada itu seolah-olah yang tampak dan membuat manusia tidak perlu bertanya lagi mengenai hal tersebut. Misalnya, bahwa ketika badan kita merasa panas, kita beranggapan bahwa hal tersebut akan hilang jika kita menuju tempat yang dingin atau mencari angin.

Padahal, badan yang panas tersebut mengindikasikan bahwa ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi, yang misalnya itu adalah dampak dari pergantian suhu yang ekstrim, konsumsi makanan dan minuman yang tidak berimbang dan juga merupakan tanda dari dalam tubuh kita — dimana secara kasat-mata itu tidak terlihat — untuk segera ditangani. Oleh karena itu, dalam istilah Heidegger, karena fenomenologi itu mempersoalkan mengenai Ada dan hal itu pada beberapa kasus merujuk kepada suatu entitas, maka perlu untuk entitas atau manusia tersebut untuk melakukan penyelidikan Ada dan bentuk mendasar dalam menginterpretasi makna otentik dari Ada itu ialah bagaimana Ada itu mungkin diketahui oleh manusia. Dengan kata lain, diri kitalah yang pada akhirnya, menurut Heidegger yang mesti diteliti atau dinalisis. Sebab, setiap entitas (manusia) itu selalu mengarahkan kepada Ada-nya masing-masing, dan Ada merupakan persolan bagi setiap entitas.

Lalu pertanyaannya kenapa Ada itu hanya dapat dipahami oleh manusia dan bukan oleh hewan atau benda-benda lainnya? Singkatnya, karena manusia itu selalu merupakan bentuk yang menjadi ketimbang yang sudah selesai. Perbedaan antara manusia dengan benda ialah bahwa ‘esensi’nya itu tidak serta merta terletak dari yang tampak, alasannya ialah bahwa yang tampak tersebut ‘tidak tepat’ (inappropriate) untuk dikategorikan sebagai karakteristik dari manusia, sebab definisi bahwa esensi itu ‘sudah terletak’ atua melekat (present-at-hand), lebih tepatnya merujuk kepada suatu properti, benda. Misalnya bahwa, meja itu terletak di dekat pintu dan ia ada untuk menyimpan buku dan peralatan bagi manusia lainnya, atau bahwa batu itu ada begitu saja dan kerap kali dijadikan alat untuk menggosok, dijadikan pameran ‘batu ali’, dlsb. Benda-benda tersebut tidak bisa menanyakan kenapa mereka tidak dijadikan sebagai mobil, motor, handphone, dengan kata lain mereka itu ada yang tidak dapat menanyakan Ada-nya.

Sedangkan manusia itu bukan hanya ada, ia mengada yang menanyakan Ada-nya, oleh karenanya, ini merupakan persoalan yang mendasar untuk memahami karakteristik Dasein. Heidegger menyebutkan bahwa manusia itu berbeda dari benda-benda, maka dari itu ia juga dapat memilih dan menentukan Ada-nya. Akan tetapi, di satu waktu, manusia dapat mungkin mengetahuinya dan di waktu yang lain tidak akan mengetahuinya. Manusia juga tidak bisa ditentukan Ada-nya, misalnya berada pada posisi tertentu, tetapi Ada-nya bisa saja berada di suatu ruang, suatu sisi, suatu peristiwa, di balik penampilannya, di atas dirinya, di samping, bawah, atas, dst.

Dengan ciri khas mengadanya manusia di atas, Heidegger menegaskan bahwa keduanya itu tidak menunjukkan bahwa apabila Ada itu terlupakan atau tidak terlupakan (in-otentik/otentik) maka Ada itu cenderung sedikit atau banyak menghampiri manusia tersebut. Sebab Ada itu sudah selalu cukup-pada-dirinya, manusialah yang berbeda-beda menanggapi persoalan Ada tersebut berdasarkan ketersituasian, peristiwanya.

Manusia sebagai Ada-di-dalam-dunia (Being-in-the-world)

Telah disinggung di atas bahwa manusia itu ialah sebuah mengada yang menanyakan Ada-nya, secara eksistensial (existence/existentiale) manusia juga mesti berada pada suatu ruang, suatu tempat, suatu ‘dunia’ (Being-in-the-world). Heidegger begitu piawai menggunakan tanda pisah (-) dalam setiap kata yang digunakannya. Tepatnya, bahwa dengan menggunakan tanda pisah (-), Heidegger berusaha untuk mendekatkan pemahaman tersebut dengan suatu ketersituasian dari manusia. Dalam kata ‘di-dalam-dunia’ (in-the-world), Heidegger merujuk kepada suatu kondisi bahwa manusia itu “mendunia”. Sedangkan pada kata ‘Ada-di/dalam’ (Being-in) ia lebih menunjukkan bahwa manusia itu ‘Ada-di/dalam’ dengan kata lain bahwa manusia itu ‘ada-di/dalam’ suatu ruang, tempat yang merupakan bentuk eksistensial (existentiale). Dengan begitu, manusia itu ‘Ada-di-dalam-dunia’ (Being-in-the-world) merupakan bentuk eksistensial/esensinya di dunia.

Sebagai bentuk contoh dari drama manusia dan Ada-di-dalam-dunia ialah misalnya ada seseorang lelaki yang telah lama tinggal di rumahnya, jika dibandingkan dengan rumah orang lain, bentuk rumahnya itu begitu tradisional, akan tetapi, lelaki itu tetap tinggal di rumahnya dan tidak memilih untuk tinggal di rumah orang lain atau pun menghancurkan rumah tersebut. Menurut Heidegger, cara mengadanya lelaki tersebut dikarenakan ia memiliki ‘suasana berada-di/dalam’, ia memiliki ingatan dari pertama tinggal di rumah tersebut hingga usianya saat ini, maka lelaki tersebut dapat mengenali sesuatu yang ada pada dunia dan hubungannya selama mendunia itu ia telah lalui berdasarkan peristiwa dirinya, suatu pengalaman.

Dengan kata lain, apakah definisi dari ‘dunia’ itu subjektif? Lantas apa yang disebut dengan ‘dunia’ yang kita tinggali saat ini? Lalu Heidegger mengatakan bahwa ‘dunia’ yang dimaksud bukanlah yang kita kenal, tetapi lebih kepada cara manusia memahami ‘dunia’ tersebut ‘suatu cara mendunia di dalam dunia’ (the worldhood of the world as such). Singkatnya, istilah ‘mendunia’ di ‘dalam dunia’ di sini ialah bentuk eksistensial dari manusia. Di sini memang ada kecenderungan salah pemahaman mengenai ‘dunia’. Akan tetapi, Heidegger telah memberikan antisipasinya untuk salah pemahaman itu.

Menurutnya, “dunia” bisa saja didefinisikan sebagai sebuah konsep ontical yang merujuk kepada penjumlahan dari keseluruhan entitas yang telah ada di dalam dunia. Tetapi, menurut Heidegger, “dunia” di sini harus difungsikan sebagai istilah ‘ontological’ yang berarti bahwa ‘dunia’ tersebut memiliki entitas-entitasnya di dalamnya yang berbeda dari sesuatu yang benda yang sifatnya present-at-hand. Misalnya, ‘artis dunia’, ‘atlit dunia’, ‘matematik dunia’, dst. Hal ini dapat dipahami karena manusia itu miliki dunia (belonging to the world) dan bahwa “dunia tersebut merupakan dimiliki oleh manusia.

Dengan kata lain, manusia itu bisa memahami Ada-nya itu apabila manusia itu dipahami sebagai sesuatu yang terus menjadi karena esensi dari manusia itu menurut Heidegger ialah ‘Ada-di-sana’, Oleh karena Ada-nya itu yang berada ‘di-sana’, ‘di-seberang’, maka hal ini memungkinkan bahwa Ada itu seolah-olah sudah dan selesai menampakkan dirinya. Selain itu, dengan mengetahui bahwa dirinya itu berbeda dengan benda-benda yang telah tersedia, maka manusia tersebut mesti dipahami dalam arti eksistensialnya yang berhubungan dengan suatu cara mendunia di dalam dunia dalam kaitannya memahami Ada itu sendiri. Sebab manusia itu pada suatu waktu ia merupaka ‘ruang’, dan ‘waktu’, serta di lain waktu ia juga bisa menjadi suatu ‘benda’ atau pun terjerembab ke dalam suatu ‘Ada’-nya yang bukan miliki manusia itu sendiri.

Daftar Pustaka

Hardiman, F. Budi, Heidegger dan Mistik Keseharian, cet, ke-3 (Jakarta: KPG: Kepustakaan Populer Gramedia, 2016).

Heidegger, Martin. Being and Time. [pen. John Macquarrie & Edward Robinson (UK: Blackwell Publisher, 1962).