Bertemu Ide dan Macan yang Kehilangan Identitas
http://www.harryvenning.co.uk/illustration.html

Hari semakin sore, saat hujan baru saja reda. Beberapa mahasiswa beranjak meninggalkan kampus.

Saya yang duduk di dekat pintu keluar, harus berulang-ulang menjawab sapa dan pamit dari teman-teman yang juga beranjak meninggalkan kampus. Kami (se-fakultas) memang nyaris saling mengenal satu sama lain [1]. Hal itu yang membuat ‘saling sapa’ menjadi sebuah tradisi.

Saya sebenarnya ingin mengikuti mereka yang meninggalkan kampus, untuk ke warung, membeli makan. Namun, lebih dulu, saya harus memenuhi janji bertemu dengan seorang bernama Ide, yang akan datang beberapa menit lagi.

Perkiraan saya salah, ternyata tidak butuh satu menit, Ide sudah datang menghampiri.

Walaupun sebelumnya kami sama sekali belum pernah bertemu, dari kejauhan saya sudah yakin bahwa yang berjilbab biru dan memegang buku catatan itu, adalah Ide. Mahasiswi dari fakultas lain memang sangat mudah teridentifikasi di sini.

Ide adalah mahasiswa yang aktif di salah satu media massa mahasiswa. Di hari sebelumnya, Ia menghubungi saya lewat layanan percakapan online.

Ia menanyakan tentang beberapa hal mengenai pengaderan dan organisasi yang saya ikuti di kampus. Handphone saya terlalu kecil untuk menjawab itu semua. Akhirnya, saya memintanya datang hari ini, dan melanjutkan percakapan, atau lebih tepatnya, ,melakukan wawancara.

“Kita’ ketuanya?”, tanya Ide untuk memastikan.

“Iye’, duduk ki’”, saya menjawab sambil mengambil koran — terbitan pers kampus yang berserakan — untuk melapisi tempat duduk di samping saya yang lembab.

(Cerita selanjutnya saya sampaikan dalam bentuk transkrip wawancara)

Saya : Baru ka’ ingat kalau sekretariat ta’ dekat ji dari sini. Pantas cepat jeki’ datang.
Ide : Iye’ dekat ji, beberapa langkah ji dari sini.
Saya : Jadi apa mau ki’ cari tahu ini?
Ide : Ee, mau ka’ tanya-tanya soal pengaderan di organisasi ta’. Seperti, berapa jumlah mahasiswa yang ikut pengaderan, dan berapa yang tidak? Kenapa ada yang tidak ikut dan bagaimana tanggapan ta’ kalau ada yang tidak ikut?
Saya : Pengaderan yang mana? Yang kayak seremonial?
Ide : Iye’, pokoknya pengaderan yang dibikin di organisasi ta’.
Begini, kemarin dapat ka data, bahwa ada beberapa mahasiswa di sini tidak mau ikut pengaderan, alasannya karena yang didapatkan di pengaderan, bisa ji dia dapatkan di tempat lain. Terus pengumpulan ji terus di bikin, membosankan. Bagaimana tanggapan ta’ soal itu?
Saya : Oh.. masa’ mau ki’ percaya kecutnya jeruk dari penjelasan orang yang tidak pernah makan jeruk?
Ide : Maksudnya?
Saya : Maksudnya, kalau mau ki’ cari data tentang pengaderan, tanya ki’ orang yang sudah ikut pengaderan. Kok tanya pengaderan ke orang yang tidak ikut.
Eh, tunggu dulu, kalau boleh tau, angkatan berapa mahasiswa yang sudah kita’ wawancarai itu?
Ide : Angkatan 2015
Saya : Angkatan 2015? Organisasiku belum pi menginisiasi pengaderan apapun untuk mahasiswa angkatan 2015. Aih, salah wawancara ki’.

(Percakapan berhenti sejenak, karena beberapa teman yang lewat menyapa dan berpamitan untuk pulang)


Dari gemuruh bunyi genting, saya yakin hujan turun sangat deras. Niat untuk ke warung harus ditunda sementara.

Hari sudah siang, dan perutku belum terisi sejak pagi. Tapi untuk saat ini, lapar lebih baik ketimbang harus keluar dan berbasah-basahan membeli makanan.

Untung saja sekretariat hari ini ramai dengan teman-teman yang sedang mengobrol di tengah aktivitasnnya dalam menjalankan tanggung jawab organisasi. Hal ini membuat laparku lebih tersamarkan karena curi-dengar obrolan mereka.

Mereka mengobrolkan tentang sebuah tulisan-tanpa-nama di koran terbitan salah satu pers Kampus [2]. Tulisan tersebut bercerita tentang Macan Ompong dan Lembaga kemahasiswaan.

Karena kesulitan untuk memahaminya, akhirnya saya masuk ke dalam obrolan mereka.

Obrolan menjadi menarik sementara genting bertambah gemuruh. Saking menariknya, saya langsung membaca tulisan di koran tersebut.

Tulisan itu bercerita tentang kritik terhadap lembaga kemahasiswaan, yang layaknya macan ompong.

Pemimpin lembaga mahasiswa tidak memiliki visi yang jelas, dan makin hari makin mengalami krisis kader. Seperti itulah kira-kira kesimpulannya.

Lembaga mahasiswa diibaratkan sebagai macan yang sudah ompong, dalam artian tidak memiliki kekuatan ‘menyerang’.

Tulisan ini membuat saya bingung, sambil merefleksi dan mempertanyakan beberapa hal :

Pertama, organisasi yang sedang saya masuki, termasuk sebagai lembaga kemahasiswaan, apakah organisasi ini juga bernasib seperti yang diibaratkan dalam tulisan?

Kedua, bukankah media pers yang menerbitkan koran ini juga termasuk lembaga kemahasiswaan? Apakah mereka sedang otokritik atau beda pemahaman tentang definisi lembaga kemahasiswaan? Atau, parahnya, apakah mereka mengibaratkan dirinya sebagai macan dengan spesies yang berbeda, seperti macan yang tak pernah punya gigi (anodontia-journalism), atau macan yang bergantung pada susu induknya (opportunism), atau juga, seolah-olah macan (psuedo-activism)?

Ketiga, mengapa tulisan ini tidak menampilkan nama penulisnya? Nah, ini lebih susah untuk mengibaratkannya. Macan macam apa yang bersembunyi?

Ketiga pertanyaan di atas menjadi tidak penting ku pikirkan saat hujan mulai mereda di awal sore.

Saya berusaha meninggalkan pikiran tentang Macan dan bersiap-siap pergi ke warung makan, kemudian membatalkannya lagi, karena teringat sudah membuat janji untuk bertemu Ide, sore ini.


Ide : Hah, serius ki’? Belumpi diadakan pengaderan? tapi di organisasi dalam fakultas lain sudahmi na bikin.
Saya : Beda-beda memang pengaderan di tiap fakultas, jangki’ samakan.
Ide : Oh, begitu di’. Saya kira sudah meki’ bikin. Astaga… (tertawa kecil)
Saya : (tertawa kecil) jadi masih ada mau ki’ tanya?
Ide : Eee, ituji saja dulu, nanti ku hubungi jeki lagi via online kalau masih ada.
Saya : Oke pade. Eh, saya lagi yang bertanya nah, bisaji toh?
Ide : Iye’ bisa ji.
Saya : Apa syaratnya kirim tulisan ke koran ta’?
Ide : Ih, menulis meki’, baru kirim ke emailnya, adaji tercantum di koran.
Saya : Oh, begitu di’, tidak adaji syarat lainnya kah? Karena beberapa kali teman-teman di Alliansi Pergerakan kirim tulisan, tapi tidak diterbitkan ji.
Ide : Ah, masa? Kirim mi saja, ada ji editornya itu.
Saya : Begitu di’? Setelah ini, mau ka’ pade kasi masuk tulisanku. Semoga dimuat ji.
Ide : Iye’ kirim meki. Balik ka pade’ dulu nah.
Saya : Iye’, hati-hati ki’, Ide. Kita’ tau ji jalan pulang toh?
Ide : Ku tau ji, ka dekat ji.
Saya : Iye’, siapa tau hilang ki’,nanti teman-temanta’ kehilang Ide.

(Ide pamit pulang)

_________________

Catatan Kaki :

[1] Pengaderan dan organisasi telah memberikan ruang untuk perkenalan itu. Tak heran, bila ada beberapa mahasiswa yang merasa terkucilkan karena tidak mengikuti pengaderan, dan beberapa di antaranya mengikuti organisasi lain untuk memenuhi kebutuhan bersosial di Kampus, ataupun kebutuhan-kebutuhan lainnya.

[2] Sebenarnya beberapa dari kami tidak begitu suka membaca koran, namun hal itu menjadi aktivitas yang tepat untuk mengisi waktu senggang di tengah derasnya hujan. Ditambah lagi, entah mengapa, di Kampus, koran berserakan di mana-mana. Hampir sulit membedakan antara koran dengan sampah Kampus.