Identitas

Sahaja jiwa mencari asa

Salah satu penemuan yang paling menarik bagiku ada saat berjalan pulang dari kampus gajah ke kosan, melewati rumah sakit Boromeus. Hari itu hujan dan jalanan sudah mulai tergenang, dan disana aku melihat bapak tukang parkir masih mengamankan motor-motor pengunjung di pinggiran jalan. Setelah memperhatikan lebih dalam, dia menggunakan jaket yang familiar. Warnanya merah dan sudah kusam. Saat itu aku sudah mulai menduga-duga, dan benar adanya. Bapak itu sedang memakai jaket himpunan Pangripta Loka untuk melindungi dirinya dari hujan, selagi tetap giat untuk bekerja. Entah kenapa tanpa berbicara sama bapak tersebut, aku tersentuh. Aku membayangkan mungkin setelah alumni ini lulus kuliah, dia siapkan waktu sebentar untuk mengunjungi bapak yang sudah tua ini, memberikan jahimnya dan mendoakan bapak ini supaya tetap sehat selalu. Atau memang alumni ini masih tinggal di Bandung dan tetap bercengkrama dengan bapak tersebut. Biarlah, kejadian itu mungkin atau tidak mungkin terjadi, tetapi aku melihat bahwa ketika mahasiswa benar berada di dekat masyarakat, hubungan seperti itulah yang harusnya terbentuk. Hubungan yang sangat dekat sehingga kita peduli akan apa kesusahan yang mereka miliki dan benar-benar berusaha untuk membantunya, bukan karena tanggungan tetapi karena memang mereka itu teman. Ekstrimnya saat kita lulus nanti, dapatkah identitas kita diberikan kepada pedagang asongan, tukang parkir, tukang sampah, pengamen, dan orang miskin lainnya selayak keluarga kita sendiri.

Ekstrim Pertama

Ekstrim pertama bagiku saat bercengkrama dengan pedagang favoritku di dekat gasibu, setiap kali pulang setelah olahraga pagi. Pedagang lontong ini menceritakan banyak hal tentang harapan untuk aku menjadi orang yang sukses dan bijak untuk membangun bangsa. Dia menceritakan pengalaman hidupnya dengan sangat ekspresif, seakan melihat sebuah drama, dengan gerakan-gerakannya yang unik. Ia bercerita tentang perjalanannya ketika merantau dari Padang ke Jakarta, dan melihat banyak orang jahat di Jakarta. Mereka yang rakus akan uang, kekuasaan, dan hidup hanya untuk menyenangkan diri sendiri. Aku pikir ini dampak dari pola pikir kapitalis dan mencoba untuk menjelaskannya pada beliau seadanya dengan perkataanku sendiri, tetapi dia menunjukkan bukan disitu permasalahnnya. Yang membuat kita itu berubah dari kebiasaan baik adalah pemahaman kita yang rendah tentang apa itu pancasila dan bagaimana mengamalkannya dalam hidup. Kita belajar untuk terus mendapat kemampuan agar bisa bertahan hidup di lingkungan ini, tetapi ketika suatu kelompok orang tidak mau untuk menghargai sesama dan bekerja hanya untuk diri sendiri, bukan untuk kesejahteraan bersama, orang-orang tersebut yang akan mencederai kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Mungkin aku mulai paham, kalau yang dia maksud adalah mahasiswa seperti aku terancam jadi orang-orang seperti demikian dan mengingatkanku untuk belajar dengan baik. Belajar dalam arti mengerti tentang posisi kita di masyarakat dan dampaknya bila kita menyianyiakan waktu untuk mempelajari apa yang diajarkan Pancasila dalam hidup bermasyarakat.

Ekstrim Kedua

Yang ini adalah pengalaman pahit saat survei permasalahan di Kota Kembang. Saat itu aku diajak teman untuk mengikuti kegiatan sospol, dan disana aku berencana untuk mewawancarai tunawisma di pinggir jalan. Ibu tersebut belum tertidur, sehingga aku ingin bercengkrama dengannya, dan juga memberikan uang seadanya untuknya esok hari. Entah kenapa, saat aku baru mau menghampirinya bersama temanku, ia marah dan berkata ia mengerti ia tidak boleh tidur di pinggir jalan, kemudian berjalan jauh menyumpahi kami….

Aku tidak mengerti kesalahan kami, apakah dari aura kami terpampang muka satpol pp yang mau mengusir Ibu tersebut? Tuhan jika aku berlaku salah, maafkanlah karena aku tidak pernah mau melakukan perilaku jahat apapun kepada Ibu tersebut..

Mungkin aku sadar bahwa disana, banyak orang yang benar dalam kesusahan. Dan bahwa pengabdian kita kepada mereka tidak pernah selesai. Atau, separah itukah pengabdian mahasiswa sekarang sampai Ibu tersebut hanya melihat kesengsaraan dan kecaman dari kami…

Tulisan ini hanya sebagai refleksi, dan belum disimpulkan, karena pengabdian masyarakat itu tidak akan pernah selesai.

Bandung, 30 Agustus 2017

Mahasiswa yang mencari harapan

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.