Kesatria

Samuel gerald
Jul 30, 2017 · 4 min read

Cerita kita mungkin merupakan cerita fiksi yang indah

Don Quixote de la Mancha karya Miguel de Cervantes

Pada saat ini mungkin kalian telah membentuk cerita-cerita baru di benak kalian. Bahwa dalam cerita ini, kalian adalah salah satu orang yang menjadi pejuang dan harapan dari angkatan. Kalian segelintir orang yang bisa menanamkan visi dan keinginan mulia untuk berkontribusi di masyarakat. Kalian menjadi aktor yang membuat kampus dinamis kembali. Kalian punya tanggung jawab yang berat untuk memegang peran yang dianugerahkan pada kalian. Semua orang pasti mempunyai angan-angan yang menjadi refleksi dari hidup, tetapi izinkan saya untuk menceritakan jalan kehidupan melalui sebuah karya sastra yang lampau bertajuk Don Quixote de la Mancha.

Cerita Fiksi Don Quixote

Dikisahkan seorang bernama Alonso Quixano, seorang laki-laki yang memiliki banyak uang dan menghabiskan waktu luangnya dengan membaca begitu banyak buku dongeng tentang pengorbanan para kesatria. Akibat kurang tidur dan kebanyakan membaca, otaknya mengering hingga mengira dirinya sedang hidup di zaman dahulu kala. Zaman ketika para jagoan bertempur memperjuangkan hal-hal yang luhur semisal kebenaran dan keadilan. Sang tokoh protagonis mengganti namanya dengan panggilan Don Quixonte, dan tiba-tiba memutuskan meninggalkan rumah, berkeliling naik kuda lengkap dengan baju zirah untuk memenuhi panggilan kesatrianya, meluruskan segala hal yang salah di masyarakat serta membawa keadilan bagi dunia. Petualangan ini pun menjadi seru sebab ia menganggap segala hal di dunia nyata seturut fantasi dari bacaannya. Ia menamai kudanya Rocinante, lalu merekrut seorang pengawal bernama Sancho Panza yang sebenarnya hanyalah seorang petani sederhana. Ia juga menunjuk sesosok gadis-yang-entah sebagai cinta imajinernya yang ia beri nama Dulcinea del Toboso, yang darinya ia memperoleh nilai-nilai kebenaran dan keindahan. Lalu ada pula kincir angin yang dikiranya raksasa yang harus dikalahkan, sekawanan domba yang dianggapnya pasukan musuh, hingga sosok penyihir virtual yang dijadikan kambing hitam yang selalu mengecoh pikirannya

Ketika kalian membaca cerita ini, mungkin kalian akan tertawa ataupun mengerutkan dahi, keheranan mengapa ada cerita tentang orang yang begitu bodoh mau termakan dongeng bacaannya dan menjalani hidupnya selayak kesatria sebenarnya. Cara dia melihat dunia pun kelihatannya begitu aneh, karena mana mungkin kita melihat seorang gadis dan menjadikannya cinta sejati kita, padahal kita baru melihatnya di tepi jalan dan bahkan tidak pernah berbicara dengannya seumur hidup seperti Don Quixote. Tetapi apakah benar kenyataan kita tidak seperti cerita ini?

Realita Akan Pengalaman

Kita mendasari cara pandang kita dengan apa yang kita lihat, pahami, dan jalankan seumur hidup. Seperti membaca kitab suci, memahami ideologi-ideologi baru, membicarakan keadilan dan HAM, ataupun hobi kita sehari-hari saat menonton film ‘mindblowing’ karya Christopher Nolan, membaca novel-novel cinta Dilan, Rindu, The Architecture of Love, membaca puisi karya Sapardi Djoko Darmono yang menyentuh seperti “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana”, novel Max Havelaar Multatuli terjemahan H.B. Jassin yang memberi semangat untuk menolak penindasan dan korupsi, dan segelintir karya-karya lainnya yang sempat kita baca saat senggang. Akankah beberapa karya tersebut merupakan fiksi sama seperti bacaan Don Quixonte sebelum ia berkelana? Dan apakah kita juga terjerumus dengan bacaan-bacaan tersebut, membawa diri kita melampaui cerita narasi yang indah untuk memperjuangkan apa yang kita maknai dalam hati? Apakah kita pernah melakukan hal-hal aneh seperti meramal kekasih kita akan ada dimana selayaknya Dilan kepada Milea saat akan menuju sekolah, ataupun mencoba menjalani kisah action seperti Thomas yang melawan mafia hukum Indonesia di Negeri Ujung Tanduk karya Tere Liye?

Tak sadar bahwa terkadang fiksi-fiksi tersebut menjadi dongeng yang cukup berpengaruh karena dapat ditiru di kehidupan nyata, dan nyatanya berhasil. Buku-buku perjuangan tentang HAM membuka pemikiran kita tentang apa keadilan dan bagaimana menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Kitab suci mengajarkan kita bagaimana kita sebagai manusia berperilaku di kehidupan sehari-hari, serta mengakui realita tertinggi adalah keberadaan Tuhan. Banyak contoh lainnya yang bisa membuat kita berfikir, apakah selama ini cerita hidup kita adalah bentukan dari gabungan pikiran akan cerita-cerita yang kita terima selama ini?

Tentang Cerita Fiksi

Sekarang kita memiliki lambang angkatan yang terbentuk dari pikiran bersama, dan berharap akan menjadi fiksi yang indah akan dasar dari ideologi angkatan. Kita ditanamkan semangat selayaknya mahasiswa yang haus akan ilmu dan pengalaman dalam memperjuangkan kebenaran. Kita membangun nuansa solidaritas yang terbentuk dari kata-kata manis seperti keluarga, sahabat, dan harapan. Aku tahu semuanya terasa sebagai cerita-cerita Bab I di novel-novel persahabatan, dan berusaha membentuk alasan-alasan mengapa akan ada bab-bab berikutnya. Tetapi jika ini semua fiksi mengapa kita perlu menjalaninya?

Sebuah cerita hanyalah kunci, tapi seperti kunci, yang ada hanya membuat kita sampai di pintu. Menurut Boyd, apa yang mendorong orang ingin menggabungkan identitas mereka ke dalam cerita ialah kodrat manusia yang cenderung selalu ingin memasuki dunia tempat tinggalnya, yaitu dunia cerita. Jika kalian membaca cerita Don Quixonte, pada akhirnya ia benar-benar berhasil memperjuangkan keadilan selayaknya kesatria dalam cerita-cerita tersebut. Bagaimana dia membawa cerita itu dalam hidupnya membuatnya memperjuangkan apa yang orang lain tidak lihat sebagai ketidakadilan yang harus ditumpas.

Sanity may be madness but the maddest of all is to see life as it is and not as it should be — Don Quixote

Transformasi

Sekarang bagi kalian yang tidak ingin termakan cerita fiksi ini, hal yang terbaik jika merasa terjebak dari keberadaan ini yaitu membebaskan diri dari kutukan para pendongeng, lalu menjadi pendongeng itu sendiri. Ketika fiksi yang lama dianggap tidak relevan lagi, maka fiksi yang baru akan tercipta. Buatlah fiksi baru tersebut agar kita bisa melihat jalan hidup yang kau harapkan ada di benak orang lain. Aku mau kalian termakan dengan glorifikasi keindahan sejarah kemahasiswaan kampus ini dan mencoba untuk membawanya ke dunia ini, agar pada akhirnya walaupun kalian menolak relevansi cerita yang ada, kalian tetap menjadi seperti manusia, melihat dunia apa adanya berdasarkan pengalaman mahasiswa yang kalian miliki. Dan pada akhirnya memperjuangkan apa yang baik dari manusia, terutama di angkatan kita.

http://lsfcogito.org/don-quixote-de-la-hoax-sihir-narasi-dan-hegemoni-fiksi/

Hidup mungkin merupakan sebuah cerita, tetapi aku ingin kamu menceritakannya, agar aku tahu pada dasarnya kamu itu baik

Samuel Gerald Marpaung

Aksatrya Arghyabumintara (Kesatria yang menghargai negara)

    Samuel gerald

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade