The Art of Engineering
Memanusiakan Seni Rekayasa

“Let us learn to dream then we may perhaps find the truth” — August Kekule
Sebuah penemuan besar terjadi pada tahun 1865, ketika August Kekule, ahli kimia dari Jerman menemukan bentuk struktur benzena. Kekule memiliki teori bahwa benzena mempunyai struktur yang melingkar. Yang menarik adalah, Kekule menemukan solusi struktur benzena tersebut dalam mimpinya. Dia ceritakan bahwa ia sedang berada pada kondisi Halbschlaf atau setengah tidur, dan melihat simbol kuno ouroboros yaitu ular yang menggigit ekornya sendiri. Setelah mendapat pengelihatan tersebut dan hasil eksperimen selama bertahun-tahun, August Kekule berhasil menemukan sesuatu yang baru atas dasar intuisi.
Dalam hal ini, Kekule telah mendasari penemuannya dari sesuatu yang bersifat imajinatif dan abstrak. Tetapi luar biasanya bagaimana ilmuan tersebut dapat berada pada kondisi dimana gambaran dari mimpi bisa menjelaskan fenomena alam yang dapat dibuktikan dengan pendekatan ilmu empirik. Dan dapatkah kita melakukan hal yang sama untuk memanfaatkan seni dalam kepentingan pragmatis rekayasa?
Seni dan Sains
Bambang Sugiharto, dosen filsafat Unpar, menjelaskan bahwa ilmu empirik merupakan salah satu upaya untuk memaknai pengalaman-pengalaman juga. Tapi ilmu empirik memaknainya dengan mereduksi, menciutkan, menyederhanakan atau menyingkatnya ke dalam kepentingan pragmatis. Cara pandang sains dan teknologi adalah cara pandang challenging, enframing, dan revealing. Seni, pada hakikatnya, memandang alam secara berbeda. Jika sains menyingkapkan realitas, seni justru menyingkap kekayaan realitas. Sains memang bermaksud untuk menjelaskan realitas, sementara seni lebih bermaksud untuk menyentuhkannya pada sensibilitas batin yang paling dalam.
Ouroboros
Selama ini seni menjadi sebuah sarana ekspresi keadaan yang bukan bertujuan hanya untuk memperlihatkan tetapi membuka pemahaman yang lebih dalam di suatu pemikiran. Ouroboros dalam pengelihatan Kekule menjadi titik tolak bahwa tidak semua permasalahan dapat dijelaskan dengan pemikiran empiris. Seperti kata Niels Bohr,
You are not thinking, you are merely being logical
Dalam hal itu, seorang manusia untuk mencapai keadaan yang utuh seharusnya mendalami seni. Seni dapat berbentuk sastra, lukisan, tarian, grafis, dan sebagainya.
Rekayasa
Seorang anak teknik mempunyai peran untuk mengolah masukan, memprosesnya hingga mendapat hasil yang baik. Yang berperan besar dalam kecakapan seorang mahasiswa teknik adalah analisanya terhadap suatu permasalahan menggunakan logika empiris. Tetapi ketika berkaitan dengan produk berbasis manusia, seperti pengembangan kelayakan hidup masyarakat, maka seni berperan besar untuk ‘menyingkapkan’ permasalahan secara keseluruhan. Sehingga bukan suatu yang aneh bila seorang mahasiswa teknik selalu ingin mempelajari seni dengan memperhatikan kebudayaan dan keadaan manusia di sekitarnya. Karena dengan logika itulah maka untuk mengenal kebudayaan dan memperhatikan seni yang berkembang di masyarakat seorang mahasiswa teknik perlu memposisikan dirinya dekat di lingkup masyarakat. Bung Karno adalah salah satu contoh orang teknik yang mengerti dengan baik pengaruh kebudayaan dan seni. Saat masa pengasingannya di Pulau Flores, ia menggambar pantai Pulau Flores selayak surga dan pulau tempat ia diasingkan seperti penjara. Karyanya dilihat oleh Basoeki Abdullah dan ia pun terpana, serta melukiskan kembali karya Bung Karno tersebut dengan media cat minyak.

Karya seni dianggap oleh Bung Karno sebagai sarana pembentuk identitas, seperti kesukaannya untuk mengoleksi lukisan wanita berkebaya untuk menumbuhkan kebudayaan wanita nusantara. Dengan itu dengan memahami kebudayaan dan seni, seorang mahasiswa teknik pun dapat berpengaruh lebih kepada masyarakat.
Ilmuan baik – Warga Negara baik
Sekarang ilmuan yang baik dalam pekerjaannya belum tentu menjadi warga negara yang baik. Karena dengan logika empiris, sebuah kesalahan di masyarakat dianggap dengan prespektif matematika sebagai kesalahan akan keseluruhan. Dengan melihat adanya pkl yang merusak estetika kota, maka regulasi kota dipersalahkan dikarenakan memperbolehkan keberadaan mereka. Padahal belum tentu kebutuhan akan kepatuhan akan sistem secara sempurna diaplikasikan di semua tempat. Atas nama perkembangan, sebuah pedesaan dibangun jalan raya dan infrastruktur, yang pada akhirnya menghilangkan kebudayaan dari pedesaan tersebut. Sekarang mahasiswa pun melakukan yang sama, dengan menjadi aktor penetapan keadaan ideal di media sosial menggunakan ilmu empiris mereka dan pengalaman yang ‘dikatakan’ mencukupi untuk mengomentari kebudayaan orang lain dan mempengaruhi pemikiran massa. Maka tanpa pendalaman yang baik terhadap seni dan kebudayaan, mahasiswa yang baik sekalipun akan berdampak buruk sebagai seorang warga negara. Seorang mahasiswa teknik harus tetap menjadi seorang manusia di tempat ia berada.
Samuel Gerald
Seorang mahasiswa teknik
