Cinta-cintaan

It’s funny yet confusing how this hate-love-relationship going, hari ini sayang-sayangan, besoknya bisa jadi cakar-cakaran. And it has been going on over than 2 years, marahan.. baikan.. marahan.. baikan.. marahan lagi.. baikan lagi..

Capek…? Banget…!

Seperti siang kemarin, kita berantem hanya karaena masalah “sepele”

Walaupun dinilai (oleh saya sendiri) “sepele”, tapi bukan berarti tidak penting, bahkan cukup prinsipil untuk hal yang dinilai “sepele” (?)

Kita punya rencana untuk membuat clothing line, bisnis bersama yang diharapkan mampu menambah isi kantong bersama pula. Tapi di suatu siang, dia pulang dengan membawa sekantong penuh berisi bahan pakaian dan menyapa dengan sumringah “Haiii honeyy.. I’m going to start my business…?!”

He said “my business” instead of “our business” and he mean it. I mean, kalaupun serius mau bikin bisnis bersama, harusnya saya dilibatkan dalam memilih atau membeli sample kain untuk menjadi sample design prototype. But he did it by him self and clearly announced “my business” instead of “ours”

Marah banget..? Enggak sih, marah biasa aja. Not really surprised, it’s happen thousand times.

Buat saya, ketika 2 orang sudah memutuskan untuk terikat satu sama lain dalam sebuah komitmen maka hanya akan ada kita. Harusnya “kita” saling membunuh ego masing masing yang diwakili dengan subjek “kamu” atau “aku”. Tidak bermaksud dan berarti membantai karakter, sisihkan saja egonya dan biarkan karakter kita tinggal.

Susah…? Memang…! Tapi bukankah di situ letak pejuangannya…? Berjuang mempertahankan sekoci yang berisi 2 ego yang seringkali berlawanan arah untuk tetap berlayar dan sampai tujuan dengan selamat…?

Itu menurut saya.

Sebelum pertengkaran yang terjadi kemarin siang, kita sudah melewati banyak pertengkaran serupa tapi tak sama. Dan yang membantu saya tetap waras adalah 2 pasang telinga yang menampung semua keluh kesah dari waktu ke waktu dan selalu memberikan 2 pemikiran yang berbeda. Salah satunya mewakili perasaan, dan yang lain mewakili logika.

Bingung…? of course…!

Yang satu selalu menggiring logika saya ke arah yang lebih terang, yang membuat saya kehilangan alasan untuk tetap tinggal. “There is no point for you to stay, you already know the answer.. you already know the reason.. what are you waiting for” She said.

Di kubu yang berlawanan arah “Why you always looking the on single reason to leave among 1000 reason to stay…?” Begitu anjuran dari seorang teman yang kebetulan baru saja menikah setelah 10 tahun membina hubungan. Love is in the air…!

Akhirnya…? Nggak jadi putus lah, buktinya masih ribut gegara sekantong kain. Lucu ya…? Having a fight over a bag full of fabrics.

Tapi apakah nggak jadi putus gegara masih cinta…? I’m not sure.

Kata seorang teman yang kebetulan psikolog, cinta hanya bertahan hanya +/- 4 bulan setelah komitmen diketok palu. Selebihnya adalah toleransi yang berkuasa, dan akhirnya akan menjadi kebiasaan.

So, ini toleransi…? Mungkin, nggak ngerti juga. Statement di atas kan baru sebatas hipotesis yang akurasinya masih dipertanyakan. Hipotesis kan dibuat manusia, manusia kan gudangnya salah. Ya kan…?

Saya berpegang pada “rasa”, karena katanya rasa nggak pernah bohong (katanya).

Jadi, apa rasanya…? Well, sebenarnya susah untuk diuraikan. Sama ketika saya diminta menilai sebuah masakan, “Gimana rasanya…?”, palet saya cuma ada “nggak enak” “enak” atau “enak banget” nggak bisa se-detail juri masterchef.

Begitupun dengan perasaan, palet saya terbatas tidak bisa menggambarkan jelas dan detail apa yang dirasakan. Yang jelas semuanya jadi terasa lebih hambar, no more sparks dan agak tidak nyaman.

Jika dibandingkan dengan awal kita berpacaran, saya akan sangat gelisah ketika ditinggal sebentar tanpa ada kabar. Sekarang…? Sekarang justru merdeka ketika dia pergi (Kita tinggal satu rumah, btw).

Seharusnya itu cukup menjadi alasan untuk berpisah…? I don’t know, I don’t know what I want… I only know what I don’t want.

And what I don’t want then…? uhm, I don’t want him to leave me..

wait.. no.. no.. no.. salah…! I don’t want to leave him. That’s 2 different statements.

And I don’t know why’ It just seems so wrong if I leave him.

Terus gimana…? To be honest I don’t know, just let it flow. What I learn from what I have been through that sometimes questions aren’t always need to be answered in a spesific time, sometimes we need to wait. And sometimes, we have to learn to let it go and let it be mistery, unanswered.

Itu menurut saya.

Pokoknya let it flow, life isn’t always about romance kan…? And romance isn’t my things at the moment. Terus apa dong…?

Anything but romance, such as… career…? Self-development…? How to gain prosperity…? etc.. etc.. etc..

Self-centered ya…? Tapi bukannya manusia memang rajanya egois…? Egois sudah mendarah daging semenjak kita masih dalam janin sepertinya. Dan pacar saya juga mengajarkan hal yang sama, bahwa manusia memang sangat egois.

Lantas, bagaimana cara memperjuangkan sekoci yang berisi 2 ego yang berlawanan arah…?

Embuh…! Nggak tau…! I don’t know…!

I’m tired, I don’t wanna think about this (at least for now). I can’t change him, but I can change myself.

Apa yang bisa saya rubah…? Mungkin ekspektasi saya yang dirubah…? memposisikan ekspektasi di level yang tidak terlalu tinggi adalah jalan teraman menurut saya. He doesn’t hurt me, my expectation does.Safe yourself from your own expectation. Mengurangi sesedikit mungkin goncangan dan konflik sepertinya juga menjadi kunci bahagia di lingkungan yang tidak membahagiakan. (?)

Dan kemudian let it flow..

Just let this hate-love-relationship flow and see where it goes. Arguing over something, and then get mad to each other, and then stop talking to each other for few days, and then bury the hatchet…! Uhm, long way to go…

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Mr. Dee’s story.