Spotlight Sebuah Pertunjukan Teater

Keraguan dalam menentukan “fokus” tata cahaya

Beberapa tahun menjadi babu di pentas teater kampus; khususnya kampus ungu eF-Be-eS U-eN-Ye, belum ada hal mengagumkan yang bisa saya kenang, sebab saya tergolong jago kandang bila dibandingkan beberapa kawan pe-ngeset lampu yang malang melintang serta lebih populer di dunia per-lampu-an— semisal ADIF!, yang kini tengah meniti pendidikan di sebuah perguruan seni terkenal di kota Jogja. Namun paling tidak saya mendapatkan gambaran (yang amat kecil) seputar “dunia” yang unik ini. Saya sempat tergabung di beberapa komunitas (lokalan kampus only), sebut saja mereka Relung, Sarkem dan Sangkala.

Meskipun ada banyak teori seputar tata cahaya yang bisa menjadi acuan, dasar, landasan praktis, atau semacamnya dalam melakukan aktifitas yang lebih dominan dengan usung-usung-nya ini. Dari hasil pengamatan saya, penata cahaya di teater (khususnya guru, kakak, adik, kawan, serta rekan) pada umunya kurang tertarik untuk sekedar membaca atau mencari referensi dalam bentuk teks, baik yang deskriptif maupun naratif. Kecenderungan ini mungkin dipengaruhi oleh iklim berkesenian di kampus yang cenderung lisan, serta kultural.

Budaya untuk berdiskusi memang sudah muncul di dunia titer kampus akhir-akhir ini, didukung oleh persaudaraan titer se-tanah air yang saat ini begitu eratnya. Sehingga budaya lisan-kultural dalam menimba ilmu titer khususnya tata cahaya, dengan sendirinya akan membantu para lightingman titer kampus dalam mengembangkan pemahamannya.

Namun saya gelisah — didukung oleh minimnya pengalaman — mungkin kegelisahan ini lebih mirip dengan jeleh. Sebab beberapa kali ngeset lampu, kebutuhan untuk sekedar menerangi sebuah adegan seringkali diintervensi oleh kebutuhan-kebutuhan lain mendesak, dan yang dianggap lebih penting dalam sebuah pertunjukan. Saya kadang menyikapi keadaan tersebut dengan berlapang dada — semisal mengikhlaskan beberapa buah lampu par 64 yang sebelumnya saya siapkan untuk menerangi beberapa titik kecil di adegan tertentu, untuk kebutuhan menerangi muka seorang aktor, atau sekedar nge-blok sebuah permainan di panggung — mengahadirkan ke-realisan “ruang”. Tentu saja hal-hal semacam itu adalah konsekuensi dari minimnya jumlah lampu yang saya miliki, keterbatasan materi, atau semacamnya.

Pertunjukan teater umumya memiliki durasi yang panjang. Pentas dengan durasi tersingkat yang pernah saya ikuti adalah pementasan naskah Operasi (Putu Wijaya) yang dipentaskan oleh mahasiswa kampus ungu dalam rangka menempuh mata kuliah kajian drama. Pentas tersebut berdurasi sekitar 30–45 menit saja. Dengan durasi yang sedemikian singkat, saya sebenarnya masih bisa merasakan “lamanya” sebuah pertunjukan teater. Walapun kebanyakan penonton yang hadir malah “belum ngeh” dengan pementasan tersebut. Ini bisa murni selera, didukung oleh harapan pribadi, baik kita yang berposisi sebagai kelompok penampil, maupun mereka yang berada di kursi penonton untuk menikmati pertunjukan titer tersebut.

Sedangkan membicarakan pertunjukan teater, akan menyeret kita kepada persoalan kajian naskah, esensi cerita, dramaturgi, pola penggarapan aktor, “tema” diusung oleh tim artistik, dan sebagainya.

Dalam tugasnya sebagai tim artistik, penata cahaya sering mengalami kebingungan (mungkin disebabkan oleh minimnya referensi, seperti saya ini) — yang mungkin dipengaruhi oleh penilaian estetis masing-masing individu serta kerangka atau konsep yang umum dalam proses merencanakan sebuah tata cahaya — . Paling tidak sesudah membaca naskah, penata cahaya harusnya bisa memiliki gambaran-gambaran kecil yang nantinya bisa ia gunakan menjadi dasar atau inti dalam men-design tata cahaya untuk naskah tersebut. Nyatanya, saya belum pernah mendapat ilham semacam itu selama berproses bersama kawan-kawan kampus tercinta.

Saya selalu meyakinkan diri saya sebelum memulai sebuah penggarapan pentas teater, layaknya kebenaran, bahwa yang namanya proses dalam menggarap sebuah pertunjukkan selalu bergerak, bukan hanya proses latihannya saja, namun juga hal-hal berbau konseptual, baik yang mengarah ke teknis pertunjukan maupun yang berkaitan dengan inti cerita, esensi, atau isu utamanya. Namun yang coba akan saya tekankan disini adalah bagaimana prinsip ‘selalu bergerak’ tersebut malah membelenggu pikiran saya, sebab justru karena prinsip yang boleh dibilang meremehkan tersebut, seringkali malah membuat saya mengulang tata cahaya yang sama, untuk pentas yang berbeda, daur ulang ide. Mungkin hal ini juga disebabkan oleh tingkat kreatifitas saya yang rendah.

Bagaimana sebenarnya cara paling ideal yang harus ditempuh seorang penata cahaya menyikapi sebuah pertunjukkan? Haruskah dalam menyusun lampu-lampunya, ia bertumpu pada jenis naskah yang ia mainkan — realis, surealis, absurd,dan sebagainya — ataukah ia boleh menerobos batas-batas tersebut dan menciptakan tata cahaya yang benar-benar “semaunya” sendiri untuk memberikan sebuah pertunjukkan yang “bagus”, atau seorang penata cahaya harus memposisikan dirinya sebagai salah satu penunjang sebuah pertunjukkan atau bagaimana?

Saya setuju dengan pendapat bahwa tim tata cahaya, layaknya tim-tim lain dalam sebuah kelompok pementasaan, harus sinkron dan tidak saling berebut tonjolan satu sama lain. Namun disisi lain, ada keinginan untuk memberikan “bantuan lebih” dalam sebuah pertunjukkan, yang kadang menabrak beberapa kaidah umum perlampuan. Seperti yang sering saya lakukan ketika mendengar keluhan sutradara seputar kurang greget-nya permainan para aktor yang dihasilkan. Yang saya lakukan ketika menghadapi keluhan sang sutradara semacam itu adalah melakukan beberapa penambahan lampu yang murni didasari oleh hasrat mendapatkan tampilan visual yang ‘indah’ — misalkan memasang beberapa lampu yang nantinya memberikan efek ‘kejut’ bagi penontonnya, atau membuat efek-efek khusus yang menurut saya indah secara visual, namun sebenarnya kurang nyambung dengan pementasan tersebut.

Ada beberapa pertimbangan yang menurut saya harus kita cermati ketika akan mulai menggambar design tata cahaya — sebagian kecil merujuk pada beberapa buku seputar teater dan tata cahaya yang pernah (sekilas) saya baca — yaitu:

Keberadaan sutradara sebagai konseptor utama sebuah pementasan

Sutradara mungkin memiliki peranan paling penting dalam sebuah pertunjukkan, walaupun itu juga baru bisa disimpulkan setelah kita mengenal sutradara macam apa yang sedang kita hadapi. Ada sutradara yang otoriter, ada sutradari yang demokratis, ada sutradara yang liberal — mirip sistem pemerintahan negara.

Sutradara yang otoriter mungkin adalah jenis sutradara yang paling membosankan. Sifat sutradara ini sudah tentu akan membelenggu segala ide dan kreativitas yang seorang penata cahaya punya. Akan tetapi disisi lain, sutradara ini justru bisa saja memberikan jalan bagi si tukang lampu menuju konsep tata cahaya yang ‘bagus’, cerdas atau orisinil. Dengan catatan sang sutradara hanya mengharuskan terbentuknya gambaran umum bagaimana cahaya dalam pementasan tersebut akan dilakukan, dan ia tidak terlalu detil pengetahuannya seputar lampu. Sutradara yang demokratis tentu akan menjadi favorit, selain karena sifat demokratis yang dimilikinya, terjadi tukar pikiran atau ide yang menurut saya adalah hal yang peling penting, dan sang sutradara akan tetap menjaga pementasan tersebut tetap pada jalur awalnya, sekalipun banyak hal yang sudah dikompromikan dengan sang ligtingman. Sedangkan sutradara yang liberal menurut saya adalah sutradara yang paling menakutkan, mengapa? Sebab sutradara semacam ini justru akan membawa para penata lampu yang awam (seperti saya) dalam situasi serba bingung. Sebab biasanya sutradara jenis ia tidak memakai patokan dasar.

Menurut saya, sutradara adalah orang yang menjadi acuan dalam sebuah pementasan. Mengesampingkan berbagai faktor yang mempersulit perpindahan ide dari sang sutradara ke si tukang lampu, sutradara harus menjadi titik awal munculnya konsep pemanggungan atau, minimal, ia adalah tempat mengkonfirmasi ide-ide yang dimunculkan si tukang lampu dalam pementasan nantinya. Pernyataan tersebut murni rangkuman pribadi saya dari beberapa episode masang lampu yang pernah saya alami. Situasi terburuk yang pernah saya alami saat ngeset sebuah pementasan adalah ketika kehadiran tata cahaya menjadi sekedar tontonan “mandiri” pentas tersebut dan sama sekali tidak berinteraksi dengan hasil kerja tim pementasan secara utuh. Kejadian semacam itu biasanya saya alami ketika sedang mengahadapi sutradara yang mungkin belum terlalu mengenal tata lampu, atau ia yang membebaskan sang penata lampu dari segala tuntutan.

Menurut saya, intinya, sutradara harus berusaha menyambungkan gambaran-gambaran pementasan yang ia miliki dengan si penata lampu, sehingga hasil tata lampu yang dihasilkan nantinya punya arah yang jelas, sekalipun arah tersebut ternyata salah — baik dari konvensi, kaidah, atau hal-hal semacam itu — .

Tata cahaya, pentingkah keberadaanya dalam pementasan titer anda?

Mengacu pada beberapa kecenderungan seniman teater saat ini, menurut saya aturan dalam menata cahaya (konvensional) sudah tidak lagi dianggap penting. Cahaya yang berasal lampu-lampu titer semacam par 64, fresnel, elipsodial, sekarang ini sedang bertarung dengan kuatnya semangat kontemporer, yang juga sedang menjangkiti di hampir semua bidang kesenian, dimana mulai muncul seniman-seniman yang ingin keluar dari aturan-aturan titer konvensional. M. Sodiq atau Soblog, salah seorang cah-titer jebolan lokal kampus saya, beberapa kali ingin menghadirkan tata cahaya yang tidak berasal dari lampu-lampu teater konvensional tersebut. Pentas monolog yang terakhir kali ia sutradarai pun bisa dibilang experimental (atau ngawur— bila kita sedang bicara kaidah). Pertunjukkan tersebut beberapa dialognya dilantunkan dengan irama nge-rap, dan tata cahaya-nya disusun agar sama sekali tidak menerangi wajah sang aktor. Selain gumanan penonton yang merasa tidak nyaman dengan “kegelapan” tersebut, komentar para penonton di diskusi yang diadakan setelah pementasan berakhir kebanyakan mempertanyakan maksud dan tujuan dihadirkannya tata cahaya semacam itu dalam pementasan eksperimental tersebut.

Tentu “maksud dan tujuan” yang dimaksud disini begitu general, luas, kurang spesifik, dan didukung oleh pemahaman masing-masing. Dan memang, diskusi yang dihadiri cukup banyak seniman teater kampus dari beberapa belahan bumi Indonesia tersebut memang berakhir pada kesimpulan bahwa pemahaman seputar titer masing-masing partisipan diskusi amatlah berbeda. Beberapa orang yang terlibat dalam pementasan tersebut, termasuk sang penata lampu, Andrian ‘Kicot’ bahkan tak mau mengungkap maksud dan tujuan usaha eksperimental tersebut.

Sementara dalam kesempatan lain, saya menjumpai pementasan yang tata lampunya biasa saja, namun bagaimana adegan per adegan ia “mainkan” itulah yang luar biasa. Luar biasa disini tentu saja sangat dipengaruhi oleh selera keindahan visual saya.

Lalu bagaimana kita seharusnya memposisikan susunan lampu yang kita buat , seberapa pentingnya sebuah tata cahaya dalam pementasan— mungkin berkaitan dengan maksud dan tujuan pementasan. Menurut saya, itu pilihan masing-masing. Penonton bisa jadi tujuan utama sebuah pementasan. Dengan dasar seperti itu maka sudah tentu kita akan memposisikan tata cahaya sebagai bagian fitur kenyamanan menonton sebuah pementasan. Sementara tata lampu yang diposisikan sebagai ‘pemuas diri’ (atau kelompok) tentu akan lebih ‘personal’ dan seringkali keluar dari pemahaman umum tentang tata cahaya. Yang paling penting bagi saya sebenarnya adalah, bagaimana tata lampu tersebut tidak berdiri sendiri. Dan semua jalan bisa dilaluli untuk mencapai tujuan tersebut.

Kebutuhan dan persoalan teknis, seringkali membelenggu

Seorang penata cahaya adalah orang yang, menurut saya, akrab dengan persoalan berbau teknis. Dalam hal ini, cara penanganan persoalan teknis (baik diri sendiri maupun kelompok) amatlah berpengaruh dalam menyelesaikan tuntutan-tuntutan berbau teknis. Sempat mbabu di pementasan titer yang dimotori oleh orang-orang titer yang lebih tua dan berpengalaman, saya memang terkesan dengan cara mereka menangani persoalan ini. Manajemen sebuah pementasan menjadi sangat penting, dalam pikiran saya saat itu, sebab jalannya proses ngeset lampu menjadi lebih teratur dan tepat waktu. Namun ketika kembali pada lingkungan kampus yang saya miliki, hal semacam itu amat sulit diterapkan. Mengapa? Selain karena sifat teater kampus yang saya ikuti biasa bekerja dengan asas kekeluargaan — saling membantu — asas gotong royong, kebanyakan penggelut titer (termasuk saya sendiri), kurang sabar serta arogan.

Sementara di sudut lainnya telah berdiri sang penantang, yakni kebutuhan tata cahaya sebuah pentas. Bagaimana kebutuhan sebuah pentas teater ditentukan mungkin akan dipengaruhi oleh keterbatasan dana, sumber daya, sumber daya manusia, tempat pertunjukkan, cuaca (mungkin), dan lain sebagainya. Saya belum pernah ngotot untuk menghadirkan tata cahaya yang memang menjadi keinginan saya, sebab semua pementasan yang saya ikuti punya keterbatasan. Entah keinginan saya tersebut dilandasi oleh hasrat pamer kelap-kelip atau tidak, yang jelas dalam mempertimbangkan kebutuhan tata cahaya sebuah pentas kita akan selalu dikekang oleh ketersediaan pemenuh kebutuhannya. Sebagai bagian dari kelompok pementasan, sudah tentu kita tidak bisa melupakan keterbatasan tersebut (keterbatasan-keterbatasan semacam itu biasanya saya jadikan alasan untuk tidak memenuhi kebutuhan tata cahaya; ini sikap yang buruk). Seringkali, keterbatasan terebut menggagalkan maksud dan tujuan pementasan, khususnya tata cahaya.

Kebutuhan tata cahaya sebuah pementasan, biasanya selalu berkesinambungan dengan bentuk pementasan tersebut. Realis, nonrealis, atau banyak jenis lainya, akan menentukan bagaimana kita memilih ‘cahaya’ yang akan kita gunakan. Kemudian muncullah keterbatasan-keterbatasan tersebut.

Menangani dua hal ini tentu akan amat mudah bila kita berada di kelompok yang punya jam kerja teratur, job-des jelas, serta sumber-daya-dana yang berlebih. Namun bila kita berada di titer kampus, atau semacamnya, kerja seorang pemata lampu akan terforsir di kedua persoalan ini.

Selera, rasa, dan pengaruhnya

Pentas titer merupakan pentas yang menurut saya penuh intrik dan sentimentil (mengesampingkan kelompok titer dengan manajeman yang bagus). Dalam proses penggarapannya, kita akan selalu bertemu dengan selera, rasa, pendapat orang lain. Sebagai seorang penata cahaya, kita boleh saja berlapang dada dan memahami kepribadian semua orang yang terlibat dalam pementasan. Namun menurut saya, dalam posisi anda sebagai seorang penata cahaya, tidaklah terlalu penting untuk mendengarkan pendapat yang dipengaruhi selera rekan-rekan pementasan anda.

Saya seringkali mencoba memahami selera orang-orang yang berada di pementasan, dan berakhir dengan (yang menurut saya), kegagalan tata lampu saya secara umum. Contoh paling sederhana yang saya alami adalah mengubah intensitas pencahayaan yang memang sudah saya tentukan sebelumnya, yang dipengaruhi oleh keluhan sebagian besar komponen pentas.

Setelah saya amati, selain karena kebutuhan mereka sendiri (ada yang berposisi sutradara, stage manager, kameramen, make up, bahkan penonton), usul tersebut amat dipengaruhi oleh selera pribadi (kebetulan kebanyakan dari mereka kurang senang dengan redupnya pencahayaan yang saya hadirkan). Ternyata berubahnya intensitas pencahayaan tersebut, mengorbankan hal lain yang lebih penting, yakni bentuk pencahayaan panggung yang memang membutuhkan keremangan. Jadi perlu adanya usaha menyaring kritik dan keluhan sebelum kita menerimanya. Namun hal ini juga sulit untuk dilakukan, mengingat saringan-saringan tersebut harus melewati proses verifikasi yang bertele-tele dan rumit. Mungkin, pengalaman dan pengetahuan akan sangat berpengaruh dalam hal ini. Dan yang lebih darurat lagi, selera anda sebagai seorang penata cahaya perlu dikesampingkan.