Entah perempuan atau wanita

Kata perempuan sebagai peyangga peradaban, atau wanita sebagai perubahan kemajuan, sudah sangat berseliweran. Di sini kita tidak akan menelisik ulang dua formasi itu, namun kita wajib mencari tahu gerangan penyebab dua adigium yang hingga saat ini masih sekedar hinggap saja, belum teralisasikan dengan baik.
Imbuhan perempuan berjuang, perempuan bereksistensi, juga perempuan berkarya, terus bersebaran, namun bangsa kita tak juga lenyeh dalam memajukan rakyatnya. Faktanya, masih banyak perempuan perempuan yang buta huruf, perempuan perempuan yang mendapatkan pelecehan seksual, menjadi buruh, atau sekedar diperbudak oleh keluarganya sendiri, miris. 
Sebab semakin menjulang perempuan, di rancah perpolitikan dan agen agen besar Indonesia belum bisa menjamin tercakupnya wanita secara keseluruhan. 
Lalu seruan المرأة ناقصة عقل و الدين. Ialah perumapaan yang saat tidak etis dijadikan landasan terhentinya wanita berkecimpung dalam perkhilafahan. Karna sudah semestinya kita memelekkan mata, namun saya akui sebelumnya, jika terlalu menjadikan ibunda aisyah sebagai panutan, dan mengqiyaskan keadaan kini dengan masa beliau pun kita tak berhak. 
Lalu, seperti apa sebaiknya wanita zaman ini maju dan mengemban amanat kaumnya di era ini?, mungkin jawabannya simpel, kita mulai semua itu dr individual masing masing, setiap perempuan musti, kudu juga wajib mensejahterakan pribadinya, memantaskan diri mengabadikan setiap langkah eksistensinya, memperjuangkan hak haknya, dan hanya dengan 3 poin sederhana itu, wanita dapat hidup, hingga seribu tahun mendatang. Namun jelas, untuk merealisasikan itu, kita tak dapat tinggal diam, selalu ada aksi dalam setiap opsi, semua alternativ dengan tujuan orientasi yang jelas harus diterapkan.
Karna jika tidak profesional mengatur diri, jangan capek capek berangan membangun bangsa.
Juga, sepertinya bangsa kita butuh doa khusus yang serempak kita pinta pada Pemberi rahmat, الهم ادفعنا البلاء و الوباء و الفحشاء و المنكر، من بلدنا عذا خاصة و من بلدان المسلمين عامة.
Semoga curahan rahmat terus terahmati pada kita semua, khususnya perempuan.

Makhluk selalu menawan, perempuan. Bisa diperjuangkan namun seringkali jadi tawanan, perempuan. 
Hari kartini bukan soal selamat, tapi semangat!
Show your support

Clapping shows how much you appreciated Sarah Lathoiful i’s story.