Hajinguk! Medsos

Media sosial, sebuah judul yang telah berkembang biak dari permaknaan asli. Sebab jika dirunut dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, makna media sosial sebagai sarana komunikasi yang ditujukan untuk tempat berbagi sesama sosial, mutlak telah keluar dari jalur orbitnya. Media sosial yang ada di tengah tengah kita kini, ialah media yang menjadi ajang pamer, ajang berlomba kekayaan, ajang sindir menyindir tanpa asal juga usul, parahnya media saat ini menurut mas Prie GS, ialah ajang privasitasi diri sendiri. Karna kita telah dimabukkan olehnya, dilumatkan dengan kehidupannya. Seakan menjelma sebagai ruh yang hidup dalam jiwa yang berhasil mengalahkan kehidupan dalam dunia asli. 
Faktanya, para manusia kekinian telah meleburkan segenap hasrat mereka dengan dunia maya melebihi kadar manfaat yang seharusnya didapat. Menyadur kembali pandangan mas Prie Gs, karna sungguh, pemblokkan pada diri sendiri dan alam sekitar sudah mejadi keadaan yang sangat lumrah dalam dewasa saat ini. Tetangga yang seharusnya menjadi teman karna setangga kini hanya tinggal atap yang bertangga, alias belum berhasil menjadi teman berikut jiwa, mungkin raga telah bersama dalam kurun waktu yang lama namun jiwa belum sempat bertegur sapa. Disini, masihkah fungsi media sosial lebih mensosialkan kita?
Ironisnya, bukan hanya batasan sesama tentangga, antar anak, ibu, dan ayah yang berada dalam satu atap pun telah melahirkan sekat. Semua sibuk pada dunianya masing masing. Sang anak akan merasa tertinggal eranya jika satu hari tak update berita atau status. Dan dengan mudah menolak permintaan sang ibu mengangkat jemuran ketika sedang asyik tenggelam dalam pengarungan balas berbalasnya media sosial. Karna letak wibawa balasan di dunia maya melebihi derajat pentingnya membantu orang tua. Serta reputasi dunia maya telah mejelajahi segalanya, kini.
Dituhankan oleh otak sendiri, disempitkan oleh perilaku pribadi, kita telah menciptakan labirin dalam perputaran ulah yang kita jalankan. Semboyan mendekatkan yang jauh dalam waktu yang sama menjauhkan yang dekat ialah memperkerjakan sebuah bangunan dengan tujuan menghancurkannya ketika sudah jadi, sia sia. 
Para ahli google sendiri, telah bersepakat bahwa anak anak yang tumbuh tanpa pengaruh alat persegi tipis android itu, akan jauh lebih menumbuhkan kepekaannya terhadap sosial, juga melahlirkan tingkat kreatifitas yang tinggi pada lingkungan. Mereka pemegang saham facebook atau google sendiri berusaha mencari sekolah yang tidak mengenalkan anak pada alat eletronik sebelum masanya tiba (SMA). Karna jika ditelaah melalui kacamata psikologi, meninggalkan anak bermain dengan alat eletronik di rumah sendirian sama halnya membiarkan anak bermain dengan orang yang sama sekali tidak dikenalinya, sangat fatal.
Panduan membenahi cara pandang yang sudah menjadi momok publik harus dimulai melalui ranah yang paling kecil, sebagai pendidik, orang tua tidak boleh dengan serta merta membiarkan anak anak asyik pada alat eletronik apapun, yang dengan itu menyebabkan mereka kecanduan dan menjadi jembatan dalam mengalihkan dunia asli ke dunia maya. 
Karna, dalam menghadirkan makna sarana komunikasi pada sosial kita harus merekonstruksi media sosial dengan segala marabahayannya saat ini dengan memepererat hubungan silaturrahmi, membangun semangat kreatifitas terhadap lingkingkungan juga upaya upaya lain agar tidak tenggelam dalam suramnya media dewasa ini.
Alat eletronik, android, smartphone, facebook, twitter serta berbagai antek media social lainnya sekedar sarana, yang dalam pemakaiannya pun ada undang undangnya khusus. Bagi masyarakat Indonesia, budaya membaca, menulis, dan berdiskusi adalah bentuk urgen yang tidak bisa ditoleransi, kita bangsa yang merdeka maka harus menerapkan kemerdekaan dalam memperlakukan diri. Kemerdekaan ialah lautan semua suara, maka jangan kita kerdilkan jiwa merdeka ini dengan menyekat batas lingkungan, memfokuskan batas pandangan pada hal hal yang memperbudak diri kembali. 
Perilaku mengikuti era hanya akan menumpulkan cara berfikir otak, mematikan semangat bersaing, karna kita tak perlu meraut kembali daya otak untuk menghafal sejarah sejarah bangsa atau sekedar menyalurkan opini pada penerbit agar membentuk sebuah karya, karna karya yang teramazing kini adalah status yang disertai ribuan likers dan wibawa yang teratas adalah subcrise terbanyak kunjungan dan paling banyak ditampilkan, atau foto dengan wajah tipuan manipulasi kamera, hajinguk.
Mari bersosial dengan tidal bermedia sosial, mari kembalikan makna sosial pada khittahnya, boleh mengambil manfaat pada media sosial tapi tidak dimanfaatkan oleh medianya. Sebagai wajah penerus, kita miskin akan pengemban tanggung jawab. Jika terus terjerumus pada mode era kekinian habislah riwayat bangsa kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.