Perang melawan buta huruf

Membaca dan menulis layaknya sebuah kunci paten dalam menggapai berbagai ilmu pengetahuan. Dengan membaca seseorang dapat mengetahui,mempelajari,mengamati berbagai aspek baru dalam kehidupan,bertambah luas ilmu pengetahuannya juga cara pandanganya dalam mengarungi ranah kehidupan dunia. Dengan menulis seseorang dapat berfikir,mengaplikasikan semua ilmu pengetahuan,juga sebagai media berekspresi.


Kemampuan membaca menulis dianggap penting karna melibatkan pembelajaran berkelanjutan oleh sesorang sehingga orang terrsebut dapat mencapai tujuannya, dimana hal ini berkaitan langsung bagaimana seseorang mendapatkan pengetahuan, menggali potensi, dan berpartisipasi penuh dalam masyarakat yang lebih luas. Keduanya seakan tidak dapat dipisahkan dalam proses menuntut ilmu. Karna wujudnya saling melengkapi satu sama lain, berbeda tapi satu arah dan saling memenuhi. Kecerdasan bangsa pun dilihat dari kemampuan baca-tulis rakyatnya.


Jika di tinjau pengertiannya, wikipedia menyatakan buta huruf atau tuna aksara adalah ketidakmampuan seseorang untuk membaca. Ternyata definisi buta huruf saat ini telah berubah, menurut Gordon More pendiri Intel, Buta huruf di abad 21 bukanlah orang yang tidak dapat membaca dan menulis, tetapi orang yang tidak mampu untuk belajar, tidak mau belajar dan tidak mau belajar lagi segala sesuatu yang sudah dipelajarinya.Sebagai seorang sales people kita di tuntut untuk terus belajar dan belajar lagi, bila kita tidak mau dan berhenti untuk belajar maka kita telah menjadi seorang sales people yang BUTA HURUF.


Mirisnya, masyarakat indonesia pada umumnya masih sangatlah bersahabat dengan buta huruf. Sebagai anak bangsa yang hidup di zaman teknologi informasi saat ini, kita tentunya sangat prihatin melihat masih banyak penduduk Indonesia yang buta huruf. Negara ini tidak akan berkembang selama angka buta huruf masih tinggi. Kita tidak ingin negeri tercinta ini terus-menerus tertinggal dari negara-negara maju. Apalagi memasuki era globalisasi dan liberalisasi yang menuntut setiap negara melakukan penyesuaian langkah kebijakan untuk menghadapinya. Era globalisasi dan liberalisasi disebut-sebut akan terealisasi pada 2020.

Tahun 2020 dianggap sebagai tahun yang sangat penting dengan terbentuknya perdagangan bebas baik di tingkat regional maupun internasional. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara telah merumuskan visi kawasan regional ini dalam bentuk ASEAN Vision 2020 di Kuala Lumpur pada tanggal 15 Desember tahun 1997.

Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan ini perlu melakukan pembenahan di segala bidang agar bisa meningkatkan kemajuan bangsa. Untuk meningkatkan kemajuan bangsa Indonesia, salah satu parameter yang digunakan adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Elemen yang paling mendasar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah pemberantasan buta huruf dan aksara. Buta huruf berkaitan penuh dengan kemiskinan, kebodohan, kelemahan serta ketidak berdayan suatu kaum. Maka untuk memberantas semua kelemahan itu kita harus memeliki industri yang mapan dan berkualitas canggih yang mampu memumpuni keaksaraan yang di alami masyarakat indonesia saat ini. Ada bebrapa kesamaan antara industri dan pendidikan. Suatu industri memproduksi suatu barang, sedangkan pendidikan memproduksi lulusan. Jenis dan kualitas barang yang di produksi industri harus memenuhi standar mutu agar dapaat di terima dan mampu bersaing di pasaran,demikian pula pendidikan,macam juga kualitas lulusan harus memenuhi kebutuhan yang sesuai dan memenuhi tuntutan pengguna .

Usaha juga upaya dalam pemberantasan buta huruf sudah terjadi sejak awal kemerdekaan indonesia, sejak zaman kepempinan bung hattahingga pak SBY sudah terlalu banyak progam kerja juga tuntutan yang dikerahkan oleh pemerintah. Mulai dari progam wajib belajar 9 tahun,kejar paket A,B,C. Progam BOS, beasiswa pendidikan dan lain sebagainya. Tapi tingkat jumlah putus sekolah pun tidak ada habisnya.

Menurut data statistik yang ada, jumlah buta huruf yang ada indonesia sangatlah memeprihatinkan. jumlah angka melek huruf yang terdata saat zaman bung hatta menjabat sebagai wakil presiden hanyalah10 % dari rakyat, lalu lebih membaik di masa orde baru. Di tinjau lagi dari data UDNP tahun 2000, jumlah kemelekhurufan di Indonesia baru mencapai 65.5 %. Artinya, lebih dari sepertiga penduduk dewasa di Indonesia buta huruf. Tetapi perkembangan mulai di rasakan menurut data kemendikbud 2104 ,selama 8 tahun terakhir ini Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan berhasil menurunkan jumlah penduduk buta aksara dari 9,55% (6,39 juta jiwa) pada tahun 2005 menjadi 3,85% (6.165.404 jiwa) pada tahun 2013. Presentase tersebut merupakan angka yang sangat harus di syukuri. Target Deklarasi Dakkar tentang PUS, dikatakan, pada tahun 2015 Indonesia dapat menurunkan separuh penduduk buta aksara menjadi lima persen. Berdasarkan capaian penuntasan buta aksara, Pada tahun 1994 Indonesia meraih penghargaan “Avicena Award”, tahun 2006 meraih penghargaan dari Ibu Negara Amerika Serikan Laura Bush dalam acara “The White House Conference on Global Literacy”, dan tahun 2012 Indonesia meraih penghargaan “King Sejong Literacy Prize” dari UNESCO.

Seperti yang kita ketahui buta huruf sangatlah berkaitan dengan kata buta aksara,"Aksara" sendori secara etimogis berasal dari bahasa Sanskerta yaitu akar kata "a-" 'tidak' dan "kshara" 'termusnahkan'. Jadi, aksara adalah sesuatu yang tidak termusnahkan/kekal/langgeng. Dikatakan sebagai sesuatu yang kekal, karna peranan aksara dalam mendokumentasikan dan mengabadikan suatu peristiwa komunikasi dalam bentuk tulis. Peringatan Hari Aksara Tingkat Nasional Ke-49 tahun 2014, akan dilaksanakan di Kendari, Sulawesi Tenggara pada 20 September 2014. Tema Hari Aksara 2014 adalah 'Aksara Membangun Keadaban dan Keunggulan Berkelanjutan'. Dengan kegigihan makna yang terkandung dalam tema, kami semua berharap agar rakyat Indonesia dapat segera merealisasikannya.

Penutup

Perang melawan buta huruf ini adalah tanggung jawab setiap jiwa ,seberapapun usaha pemerintah jika kemauan yang ada pada tiap jiwa belum di tumbuhkan tidak akan berhasil. Kegigihan dalam proses pemberantasannya pun todak akan semudah mengecat rumah biasa, harus di kerahkan seluruh jihad dari nol hingga tak terbatas jumlah pengorbanannya, jiwa miskin dalam ekonomi tidak boleh menjadi halangan impian untuk maju yang miskin pula, semua sisi harus bergerak segesit mungkin. Tahapan pengenalan belajar membaca dan menulis harus di kenalkan oleh semua kalangan pendidik sedini mungkin.

Para ahli psikologi dan syaraf menyatakan, pada masa bayi berada dalam kandungan, maka pertumbuhan otaklah yang paling cepat di antara bagian tubuh yang lain. Pada bayi dilahirkan sel-sel otak (neuron) telah mencapai 25% dari otak orang dewasa serta mengandung 100 miliar sel otak. Pada saat anak berumur 3 tahun, pertumbuhan otak sudah mencapai 90% dari otak dewasa. Setelah usia 3 tahun ke atas tinggal fase pembesaran dan pematangan neuron. Oleh karena itu dalam usia dini anak perlu dikenalkan dengan dunia membaca. Otak mereka akan merekam isi bacaan apa pun yang disampaikan orang tuanya dalam gaya cerita. Hal ini telah dipraktikkan dan menjadi tradisi di Jepang dengan gerakan 20 Minutes Reading of Mother and Child.

rabat, 20 september 2014

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.