Profesi? Vs Maqom ?

Kita sering digelintiri oleh kata profesi, mungkin bagi sebagian manusia, profesi ialah pangkat yang paling bergensi dan harus diperjuangkan hingga nafas terhenti.
Profesi selalu menjadi langganan yang patut dibanggakan, sebab semakin hebat, semakin menjulang pula derajatnya. Era modern telah mencipta perlombaan dalam sisi ini. Kita hidup untuk mencari tinggi tinggian pangkat. Seorang tukang permen gulali, hanya pantas dianggap pedagang asongan biasa tanpa memandang bagaimana letak derajatnya di depan Tuhannya. Pemandangan semacam ini sudah menjadi nafas kehidupan kita di era yang sering kita sebut zaman modern.
Sekelumit pemikiran primitif kembali disuduhkan oleh para tokoh zaman yang konon modern ini, mereka kehilangan titik inti yang wajib diperjuangkan. Berjalan tanpa ruh bagai jalannya tengkorak, hampa. Karna sudah semestinya kita memelekkan mata dan cara pandang kita, bahwa inti yang kita jadikan tujuan bukanlah profesi belaka.
Manusia mempunyai banyak sisi, ada yang menonjolkan kehebatannya pada sosial, ada pula yang disibukkan pada ritual peribadatan pada Tuhannya saja. Tapi yang harus kita ambil ialah menengahi keduanya.
Beralih pada sebutan kedua yakni maqom, maqom kata serapan bahasa arab yang berarti tempat berdiri, kedudukan, martabat. Arti ini lebih menitik beratkan sisi spiritual dari profesi itu sendiri, karna jika profesi ialah dimensi bungkus manusia, maqom ialah dimensi isi manusia itu sendiri.
Setiap kita tidak akan pernah tau dimana keberadaan kita di hadapan Sang hakim, kita hanya ditugasi berbuat baik dan mengemban tanggung jawab sebagai kholifahnya di bumi ini. Sebagai kholifah gencaran yang wajib menjadi sasaran utama ialah meninggikan derajat untuk dapat terus bercengkrama dengan baik dengan yang memberi amanat.
Mendapatkan maqom yang baik tidak sekedar menyibukkan pada sajadah dan berdoa saja. SeruanNya untuk mencari ilmu tersebar pada setiap huruf yang kita teladani setiap harinya, juga untuk bersosial ada sekitar 70% contoh didalam isi al quran.
Bukan bermaksud menyepelekan mereka pada pemegang profesi tinggi, namun dalam kacamata etisnya, jabatan tinggi tak ada artinya tanpa derajat tinggi di sisinya. Juga bukan menyetop kratifitas untuk terus berkembang pada ranah jabatan dan pemegang kuasa, arahan untuk mendapatkan profesi dan maqom dalam satu waktu berdampingan telah disebut "wa laqod karromna bani adama" penggunaan kata karromna menandakan bahwa dalam memuliakan manusia Tuhan mengajak manusia itu sendiri ikut andil menjadi hakim penilainya. Sebab jika Dia berhekendak memuliakan sendiri siyak yang digunakan wa laqod karromtu bani adam, tapi pada kenyataanya itu tidak bisa dipakai.
Untuk semua itu, bukan anjuran mencari maqom atau mengejar profesi, kita hanya diharuskan melek akan keberadaan keduanya dan terus berusaha menitik beratkan yang menjadi prioritas.