Biji Mata.


waktu kecil di rumahnya tak ada penerangan listrik. cuma ada lampu minyak, ditempel di dinding dan membuat dinding jadi hitam seperti dosa
bapaknya cuma kuli pabrik dengan upah kecil, tak mampu bayar ongkos pasang apalagi tagihan
tapi ia punya biji mata ibu, cahayanya terang dan diberi cuma-cuma.

waktu ia masih sangat kecil dan kerap terjaga di tengah malam akibat pipis di celana, biji mata ibu yang sepasang akan menyala, sekan meminta tenang dengan mengatakan hidup akan baik-baik saja.

ketika sudah remaja, biaya hidup jadi lebih mahal, uang pangkal sekolah ditagih mirip utang. meski di rumah sudah ada listrik dan lampu-lampu menyala terang, biji mata ibu masih sama, masih menciumnya dengan sorot meminta yakin dan percaya pada nasib baik.

sepasang biji mata ibu seperti doa. bicara lebih banyak dari kata-kata.

setelah dewasa ia pergi merantau. meninggalkan ibu dan sepasang biji mata yang pelan-pelan redup. ia kembali setahun sekali, ketika lebaran, menginap sehari lalu pergi lagi. biji mata ibu sudah kalah, bapak sudah kalah lebih dulu, sedang lampu-lampu di jalan-jalan makin terang, makin membuat silau, membuat ia lupa dulu di rumahnya tak ada listrik, hanya ada sepasang biji mata ibunya yang terus mendoakan kekuatan untuknya.

Like what you read? Give SepedaMalam a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.