Hal-hal bodoh yang mencintai kita saat hujan turun.

aku tak ingat benar bagaimana cara pisah memisahkan kita. sejak tak punya kamu, ingatanku lebih sering buruk, lebih sering lupa. tapi aku ingat bagaimana kita berjumpa, bagaimana hal-hal bodoh hidup sepanjang kata, sepanjang kita.

1.

sebelumnya aku tak pernah benar-benar suka hujan lebat. aku mulai menyukai hujan lebat karena kamu takut petir. kamu akan akan memelukku berkali-kali lebih erat ketika hujan lebat dan petir sesuka hati menghantam langit-langit.

aku selalu berusaha menenangkanmu, sambil terus berdoa dalam hati agar hujan tetap lebat dan petir tetap menggelegar.

2.

aku membacakan untukmu sebuah puisi, mengulang-ngulang pada bagian hujan.

” … hujan selalu turun seperti perangkap jala nelayan dan setiap orang, termasuk engkau, hanyalah ikan …”

lalu kamu bertanya padaku perihal apakah ingin jadi ikan, aku bilang ingin jadi nelayan, sebab dadamu juga laut, paling dalam, paling lapang.

3.

kamu akhirnya memberanikan diri pada hujan. ikut berdiri di depan jendela, lenganmu pada pinggangku, tanganku pada botol bekas bir.

dengan haru kubuatkan untukmu sebuah senja, seakan-akan jatuh di laut. itu sebab aku selalu menyisakan sedikit bir di botolku. berjaga-jaga jangan sampai ada hujan datang dan jalan-jalan tergenang. lampu-lampu jalan yang tenggelam dalam air yang tergenang bisa melipur sedikit sakit hati.

lihat, kubuatkan untukmu sebuah senja dari lampu-lampu jalan yang tenggelam dalam air tergenang. kubuatkan untukmu seorang, sepotong senja dalam botol.

4.

di meja makan kamu tersenyum, katanya tak ada yang bisa dimasak. lalu aku keluar ke depan rumah, memotong langit lembab dan menampung beberapa mangkok hujan. menanaknya, menjadikannya makanan.

aku menambahkan banyak garam. sebab engkau suka asin, langit lembab dan hujan dengan lahap kamu habiskan.

5.

apa yang paling kamu tunggu setelah hujan reda? suatu hari kamu bertanya begitu, tanpa ragu dan malu kujawab; membangun rumah kecil dengan anak-anak kecil di dalamnya bersamamu, menunggu hujan berikut datang dan menonton bersama, tanpa takut basah, dengan sikap pasrah.

Like what you read? Give SepedaMalam a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.