Kasus pembunuhan yang gagal diputus majelis.

sudah berhari-hari ia duduk di kursi pesakitan. di kakinya menacap kebenaran, di pangkunya bersemayam kegamangan.

sudah ratusan pertanyaan diberikan padanya. terdakwa kasus pembunuhan paling keji. pada majelis ia telah mengakui semua perbuatan. saya memang membunuhnya yang mulia, katanya. saya menembaknya tiga kali, mencongkel matanya, mengguliti kulitnya, mempreteli isi perutnya. tapi ia tetap duduk di sana, tak ada putusan yang mampu diputus.
sebenarnya tak ada yang tahu benar sudah berapa hari ia duduk di sana, sudah berapa lama sidang itu berlangsung. keluarga korban mogok, menolak kerja, maka itu waktu berhenti. kasus pembunuhan keji itu memakan korban dari pihak waktu, sebuah jam dinding.

dengan lapar dan kantuk yang tebal, terdakwa mengajukan permohonan, ia minta waktu bicara semenit saja.

kalau ada yang belum tuan-tuan terhormat ketahui tentang kasus ini, katanya. sesungguhnya itu adalah tentang alasan sebenarnya mengapa saya membunuh jam dinding.

ia menarik nafas dalam.

aku selalu sakit hati pada jam dinding, ia selalu cepat berganti dari detik ke menit, dari menit ke jam, lalu siang ke malam, lalu hari ini jadi besok.

aku selalu sakit hati karena jam dinding seakan tak peduli, terus berjalan, sedang aku belum bisa membahagiakan orang tua, mereka yang kini tua dan ringkih.

majelis hakim terdiam, mereka diam-diam menangis, begitu juga keluarga korban, keluarga besar waktu yang meminta keadilan.

aku selalu takut kehabisan waktu, itu sebab aku menghabisi jam dinding, katanya.