Kepada perempuanku.

denganmu aku hanya ingin yang sederhana
tanpa ingin menjadi pemenang kecuali mati dikenang

aku hanya ingin berlari, menari
membentang tangan seperti bocah yang sibuk mencari seimbang karena takut terjatuh
melewati alang-alang, melompati batu-batu tajam, menuruni curam lalu membasuh kaki dan lupa diri
untuk itu aku mengundangmu, untuk itu aku memintamu, untuk itu kekasih

aku tidak butuh bisa makan enak
aku tidak butuh menjadi kaya raya
aku hanya butuh nanti bisa punya tidur yang nyenyak
setelah tua dan mati dengan karya

denganmu …

aku tetap ingin menjadi anak kecil yang lugu
yang tidak pernah ragu pada angin untuk bisa terbang
yang bisa terus menyanyikan lagu
yang bisa tetap percaya matahari bisa dipetik dengan tangan telanjang

denganmu …

aku ingin hidup yang manis
yang tidak peduli setan dengan apa itu nanti
yang bisa tetap tersenyum dan bertukar peluk meski ternyata hidup kita tragis
yang bisa tetap menerima sakit sebagai nikmat yang paling pasti

tapi bila ingin kau pergi, pergilah
aku hanya akan menangisimu satu kali lalu setelah itu sudah
tapi bila ingin kamu meninggalkanku
aku juga akan meninggalkanmu

aku akan masuk ke hutan lalu turun ke lembah sunyi
menukar duka dengan suka
aku akan menyusuri pesisir lalu menerjang ombak sendiri
menyiram luka dengan cuka

denganmu aku hanya ingin yang sederhana
tanpa ingin menjadi pemenang kecuali mati dikenang
denganmu aku hanya ingin yang biasa-biasa saja
cukup melihatmu menyulam baju anak-anakku dengan keringat yang tak mengkerut saja,
aku tenang-aku senang.

Like what you read? Give SepedaMalam a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.