Kita adalah dua orang asing.
Kita adalah dua orang asing. suatu siang bertemu di sebuah tempat jahit. engkau menunjuk sebuah model baju dari majalah. entah mengapa aku merasa aneh. di gambar tersebut jelas-jelas bajunya bercorak bunga-bunga, sedang engkau membawa kain hitam. aku ingim bertanya, tapi sungkan.
aku bertanya kepada penjahit, bisakah dijahitkan untukku sebuah baju bermodel sederhana tetapi dibuat dengan tujuh lapis kain. si penjahit mengerutkan dahi, dia seperti berpikir keras dan berusaha menjawab pertanyaanku. bisakah kau hidup dengan mengenakan sepotong baju yang terbuat dari tujuh lapis kain? tanya si penjahit padaku. aku mengangguk, tuhan bagiku tidak pernah salah mengatur segala sesuatu.
aku melirik pola baju di majalah yang engkau pegang, sedang sebaliknya kau melirik kain yang aku genggam. kita pernah bertemu sebelumnya? katamu. aku terkaget, menebak-nebak apakah kita akan berkenalan lalu bersalaman atau tidak. aku takut, aku belum siap sebelum jahitanku selesai.
hendak dipakai kemana baju yang kau pesankan itu? tanyamu lagi. kali ini aku menjawab, sebagai bentuk rasa hormat dan sedikit penghargaan. aku akan memakainya untuk pulang. kalau kamu? aku akan pakai baju ini untuk melayat.
apakah kita pernah bertemu sebelumnya? kali ini tanyaku. iya, kita pernah bertemu — kita adalah perasaan-perasaan yang didoakan untuk tidak berumur panjang, bedanya; aku adalah kesedihan, sedang engkau adalah keikhlasan.
penjahit di hadapanku kini terbingung-bingung dengan apa yang harus dikerjakannya, dia diminta menjahit kesedihan sekaligus menjahit keikhlasan. bisakah kita saling berbagi perasaan-perasaan yang sederhana? menggabungkan kainmu dengan kainku? memperpendek motifku dengan menambahkan motifmu? tanyamu. tidak, kita adalah dua orang asing. kita adalah masing-masing. kataku.
