“Tumpah sudah segala perihal rindu yang tak ada jawaban.”

Sajak Kereta kesunyian dan rel kereta yang pikun.

Tak ada yang perlu kau pilah dari tubuh kenangan. Bau minyak kayu putih tubuhnya, bola mata hitam yang patuh, atau pipi bulat yang kadang ingin kau lahap sampai habis. Mata nanarmu kadang ingin mencari ke sudut-sudut waktu. Dengan sabar seorang raib, kau menunggu hingga ia, yang mungkin saja. Dapat melihat dan meraba mana yang pilu, mana yang asing, mana yang gerimis, mana yang kepalang basah.

Tak ada yang perlu kau ukir dari tubuh kenangan. Tumpah sudah segala perihal rindu yang tak ada jawaban, pelukan yang merapat erat jarak, hujan yang merapal mantra pulang, atau dia yang tak kunjung tiba. Kau yang sayap hanya lilin, Dia yang umbra penuh cahaya. Kau yang kereta penuh sepi, dia yang rel kereta penuh lupa.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated SepedaMalam’s story.