Setapak-setapak menuju rumah.
jika ingatan adalah kantong, pasti sudah limbung aku memikul kenangan. masa kanak-kanak
matahari tergelincir. aku menggulung benang dan menenteng layang-layang bapak. digendongnya aku seperti pemenang, menuruni bukit setelah lelah kami mengudara. tanah merah yang pinggirnya ditumbuhi pakis adalah pemandangan. rumahku ada di lembah
setiap aku melihat layang layang
pasti aku ingat bapak, ingat akan masa kecilku yang menempel dilangit biru dan angin sibu-sibu di kampungku
aku pernah tergelincir. waktu itu tanpa bapak aku pergi ke bukit menerbangkan layang-layang, lalu layang-layang bapak yang juara itu putus. aku berlari mengejarnya, jatuh terluka dan menangis. bapak marah padaku, katanya aku lebih berharga dari layang-layang. aku dipeluknya, pelukan yang membuatku ingin terus-terusan menangis.
jika ingatan adalah barang, bisa ditenteng kesana kemari. aku ingin membawa layang-layang, yang dibuat bapak dengan tangannya sendiri. aku ingin menggendongnya, membawa terbang seperti dulu bapak menerbangkanku.
waktu kecil, aku adalah layang-layang. sampai kinipun tetap layang-layang. setapak demi setapak mencicil perjalanan ke bukit.