Gunting Rumput
Jalanan sepi beserta siksaan surya pada makhluk-makhluk bumi di bagian belahan bumi yang ditentukannya. Seorang gadis berambut pendek bersemangat mengejar tujuannya.
“Bisakah kau berjalan?! Tungkai kakiku pegal!” Gadis lain berstatus sebagai temannya bergerak sejauh yang ia bisa. Ini semua hanya karena faktor kepanasan.
Gadis periang itu menoleh, “”Kita hampir mendekati sebuah rumah!”
“Tapi kau bisa tidak terlalu terburu-buru, ‘kan?”
“Aku terpanggang!” Beserta semangatnya.
Pada akhirnya gadis dibelakangnya menyesal mengatakan itu. Ada beberapa pepohonan berdahan rontok di berbagai penjuru yang terlihat di padang rumput mulus ini. Namun ia tahu Blitz tidak tertarik pada benda-benda itu.
Tessa mengeluarkan kata-kata dan Blitz memproduksi tenaga di tubuhnya. Di pinggir rerumputan liar ia menjatuhkan diri, menarik resleting dari tas gendongnya, mengeluarkan air botol.
“Hei, cepatlah!” Blitz menjeda menunggunya hingga berdiri. Tessa sedikit menggeleng-geleng terhadap semangat aneh bawaan anak itu sejak dulu.
“Kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini!”
Tessa butuh waktu untuk menyadari lebih dalam.
“Wah, panas!” Berlari sambil mengepak-epakkan lengannya.
Menyadari lebih dalam tentang bagian dalam diri orang itu. Mungkin.
“Bersabarlah sedikit!” Tessa terseok-seok melangkah sebelum mengolahnya menjadi berlari.
Bersama sepoian angin hangat dan pemandangan yang terdapat kecacatan akibat ulah makhluk hidup, rumah satu-satunya di pinggir jalanan sepi. Dan penempatannya –cukup- tidak strategis.
“Rasanya jadi ingin mandi.”
“Kau bisa mendapatkan itu jika saja kita ke rumah nenekku sebentar. Seperti yang kusarankan.”
“Membosankan. Kau mau merepotkan seorang nenek?”
Tessa memilih tidak bicara, mengayuh kakinya. Tidak begitu cepat.
“Wow, kau tidak bisa mengalahkanku.” Ia akui tidak terpancing. Karena rumah itu tidak begitu jauh sekarang.
Blitz mengangkat pukulannya ke langit sebagai sang juara di depan teras sana. Orang yang bersangkutan berdecak.
Tessa tersengal sambil membetulkan kenyamanannya pada strap tas, mengikuti arah pandang Blitz.
Ini tidak seperti rumah. Toko swalayan kecil atau semacamnya. Bagian depannya lebih dominan kaca-kaca besar memanjang. Anehnya tidak terlihat jelas barang-barang yang — seharusnya — tersusun bersama berbagai bahan pokok jika itu benar-benar swalayan.
“Salon. Kebetulan yang tepat!” Blitz beberapa langkah menuju pintu.
“Sa-Salon?” Tak terlihat perabotan persalonan di dalam sana. “Apanya yang kebetulan?”
“Di krimbat.” Berseri-seri.
“Uang kita tidak akan cukup untuk perbekalan nanti. Kau bisa menata rambutmu sendiri.”
Bahu Blitz merosot. “Aku hanya menumpang keramas saja. Sadarilah cuaca hari ini.”
“Kau pikir cukup dengan rambut basah saja?”
“Yah, supaya tidak terlalu gerah.” Dia menggaruk-garuk belakang rambut pendeknya. “Lagipula, rambutmu yang panjang itu apa tidak mengganggumu? Kau tidak punya niat untuk memotongnya?”
“Perempuan murni itu suka rambut panjang,” ejeknya beserta seringaian tersamarkan.
Blitz memutar bola matanya, menggapai gagang pintu. “Oh, terima kasih.”
“Hei, uang kita tidak akan cukup! Keras kepala!”
“Aku hanya ingin di keramas saja. Tidak mahal, kok.”
Kening Tessa berkerut tatkala pintu terdorong pelan-pelan.
“Oke, bagus. Beli shampoo satu sachet di kedai jauh lebih murah.”
“Bu-Bukan aku yang mendorongnya!”
Tertera seorang perempuan sekitar dua tahun lebih tua dari mereka, wanita berparas cantik jika saja poni didahinya tidak berpola kotak-kotak. Dia tersenyum bersama polesan merah muda dipipinya.
“Selamat datang.”
Blitz menjawab kalimat yang sama, tersenyum gugup.
Perempuan itu mengenakan rompi putih berenda di setiap sisinya yang sebatas lutut. Dilapisi gaun biru langit cerah. Bersama kaos kaki biru turquoise dan sepatu putih, kesannya kurang lucu.
Itu bukan bagian dari komentar Tessa. Ia mengkhawatirkan soal Blitz yang benar-benar berniat mengeramas rambutnya karena ini bukan tempat yang mereka kenal. Dan lingkungannya seperti…
Seperti tidak dijamah seseorang.
“Apa yang ingin kauperbaiki dari rambutmu?”
“Sekedar membersihkannya dengan air. Bisakah?”
Perempuan itu antusias, “Wah, itu bagian pekerjaan yang kusukai! Silahkan masuk.”
Mereka berdua beraut ganjal. Insting Tessa sudah benar pada ketidaknyamanannya berada disini. Di tempat asing.
“Apa permintaanku tidak aneh?”
“Apanya yang aneh? Musim panas itu tidak bisa disalahkan. Sangat wajar jika lawan matahari adalah air. Ya, ‘kan?”
“Yah, kita bisa menggunakan alternatif yang sangat murah, melalui perjalanan kami…………” Tessa menggamit pergelangan tangannya Blitz, namun ditepisnya.
“Aku baru mau pergi setelah kepalaku segar.”
“Aku bisa menyiramimu dengan air nanti.” Tessa berbisik tajam, merapatkan giginya.
“Semuanya akan baik-baik saja.” Perempuan itu memberi ruang namun tidak membuka pintu sepenuhnya. “Kerugiannya, kau harus bersabar menungguku membetulkan pipa yang menghubung kekerannya.”
“Tidak masalah.” Blitz riang melangkah masuk. Tessa berdecak.
Tiba gilirannya ikut bersama Blitz, perempuan itu mendorong bahunya.
“Yang tidak akan melakukan perubahan pada rambutnya, tidak boleh masuk.”
“Kenapa begitu?”
“Aku sudah menyediakan deretan tempat duduk bagi yang menunggu temannya.” Menunjuk dengan telapak tangan santunnya pada empat kursi hijau daun persis di rumah sakit.
Tessa mundur menuju salah satu kursi yang berdampingan dengan pintu sebelum akhirnya perempuan itu menutup pintu. Peraturan salon yang aneh, memang.
Setidaknya atapnya menguasai lantai, tempat yang strategis untuk beristirahat dan memejamkan mata.
.
Ia kaget dari tidurnya. Punggungnya baru terasa linu saat terperanjat sekaligus. Langit sudah menguning tapi pintunya masih tertutup. Agak mustahil Blitz masih di dalam.
Apakah Blitz meninggalkannya?
Hanya pandangannya berdiri lalu mengitar mencari sudut-sudut. Tidak, tidak. Ia telat menyadari kalau tas milik Blitz sudah jelas di bawa oleh orangnya.
Kau mengagetkanku, batinnya disertai desah lega yang tak terlalu dikuasai hatinya. Perjalanannya, Blitz yang belum keluar dari sana, apalagi yang ditakutkannya? Perempuan salon itu pasti mengada-ada.
Tessa berbalik dan terbelalak oleh kaca-kaca besar yang tak cerah itu lagi. Mirip toko yang tutup. Langsung wajah dan dua tangannya menempel mengerubungi matanya di samping pelipis.
Remang-remang. Rabun. Sangat tidak jelas.
Tessa ingin mendengarkan suara-suara.
Sama sekali tidak ada.
Ia benar-benar tidak mengerti! Tak ada salon atau toko manapun yang akan mempermainkan pelayannya. Dan temannya.
Pintu itu dicoba didorongnya. Pelan-pelan, sedikit ada kemacetan pada pintunya.
Tidak ada kalimat seruan. Kilauan cahaya langit sore menyejukkan hanya meraup objek-objek ringan beberapa petak di samping kaca, seperti poster macam model rambut di dinding, lemari peralatan berhias, dan seperempat sudut meja make up. Cahaya itu membelah dan ia satu-satunya bayangan manusia yang berdiri.
“Blitz?” Ia ingin memiliki balasan bayangan dari arah yang bertentangan itu.
Alas sepatunya mencapai petak demi petak lantai seraya menyebut nama orang itu. Memanggilnya lebih keras lagi.
Tidak, tidak keluar.
Tessa berhenti di perbatasan kegelapan. Mengedar menelisik pada cahaya remang yang sesuai tingkatan cahaya, ia memilih yang cerah. Lantas pandangannya jatuh ke bawah.
Dan menjerit. Sekeras-kerasnya.
.
.
.
.
Genre: Friendship, Mystery, School Life
Note: Idenya sudah ada di tahun 2014, tapi sangat rabun tak tahu akhirnya. Dan sekarang adalah jawabannya.
Warning: Gore, misteri kekanakan, dan non-mainstream dalam tugas sekolahnya. POV ceritanya jatuh pada tiga orang; Kino, Giunia dan Rio.
Summary: Kino ditugaskan mencari gunting rumput oleh kelompoknya, untuk membentuk semak berbunga titahan tugas sekolah. Tapi siapa sangka, ia meminjam pada masalah baru mereka.
.
.
.
“Gila~. Udara hari ini sangat tidak merestui………..” Diantara meja-meja bundar yang kosong terbakar matahari di depan teras rumah, Kino mengangkat dagunya di terpa awan panas dan ia mengeluh tentang itu. “Aku gerah.”
Tegak sempurna menoleh ke belakang, Rio berjongkok di tepi teras kayu sejengkal itu, sedang memanggang telur.
“Dan kau malah menggunakannya untuk hal seperti itu!” Setengah menghardik.
Di samping kiri kakinya, tiga telur ayam tidur tak beraturan dan di sisi yang lain satu piring telur setengah matang. Yang memanggang membalikkan badan telur dengan spatula, cuek seperti biasanya.
“Jangan berisik! Kami juga mengalaminya sepertimu.” Gadis berkucir dua berambut pirang panjang, Meyrisa, duduk menumpangkan kedua kakinya ke atas meja bundar di teras, mengibaskan kipas bermotif bunga teratai berlangit putih miliknya.
Kino geram. “Lalu kau hanya santai begitu saja? Sedangkan kita membutuhkan siang untuk mencari semak berbunga.”
Sepertinya Meyrisa tidak begitu memikirkan semak berbunga. “Kenapa kau yang repot? Kita sudah membagi tugas. Kau mencari gunting rumput, Giunia yang memotongnya, dan aku yang mencari semak itu. Bersama Adhira.”
“Aku merasa perlu memperingatkan!” Kino menghentakkan kakinya menaiki teras. Mereka lunglai karena faktor musim dan seperti lupa masalah penting. Itu tidak disukainya meskipun dirinya tidak begitu peduli pada tugas sekolah. “Seharusnya aku yang menjadi ketua di kelompok ini!”
“Wah, kau mau adu kekuatan dengan Adhira?”
Adhira, si perempuan kelaki-lakian, terkadang kekesalannya pada orang itu disembunyikannya dalam hati. Ia pernah kena tampar satu kali.
“Pemilihan suara terbanyak.” Cara damai.
“Ah, lagipula siapa yang akan memilihmu? Mereka tidak akan tertarik pada lelaki yang lebih menonjolkan emosinya.”
Kino meletakkan kedua tangannya pada pinggangnya, bersiap menyemburkan kata-kata lagi, “Memangnya setiap pemimpin harus yang tidak banyak berbicara? Apa itu yang kau sebut bijaksana?” Dahinya berkerut.
Perempuan itu memeriksa kukunya, “Tidak juga, sih. Sebaiknya kau banyak belajar dari orang yang memanggang telur itu. Kurasa dengan begitu para gadis akan mengantri padamu.”
Ia melirik pemuda itu. Apa yang membuat mereka tertarik pada orang itu?
“Semua tergantung perangai. Keluarlah sesekali dari zona amanmu.”
“Ah, diam kau!”
“Mungkin dia lapar.” Kino cepat melemparkan pandangan pada Rio yang mengetuk telur kedua dari terakhir, mengumpulkan cangkangnya di bawah tanah.
Aroma telur yang terhirup, ia baru merasakan perut kosongnya, “Yah, kau benar.” Nadanya seperti menunjukkan tidak suka. Tapi Kino tidak merasa bersalah.
Menyondongkan tubuhnya agar terlihat di ambang pintu, memanggil gadis yang setia di meja pembuatan hamburger. “Apa masih ada hamburger yang tersisa?”
Giunia menggeleng lesu, tampang Kino jelas dengan kemarahan khas-nya.
“Huh, menyebalkan sekali!” Ia berjongkok di dekat piring telur.
“Dia sudah memasakkan telur untukmu. Berterimakasihlah.” Meyrisa berkomentar.
Lagi-lagi matanya menuju pemuda polos tapi dingin itu. Dibanding-bandingkan, rupanya. Hal yang wajar mengingat hanya ada dua lelaki di kelompok ini.
“Aku tahu tempat salon yang murah, barangkali ada yang ingin di krimbat.” Si Pembawa Topik Baru menerima pasang mata dari tiga orang. Adhira melilitkan handuk pada kepala dan tubuhnya, menunjukkan setengah dirinya di bingkai pintu.
Kino gerah di dalam hati.
“Kami tidak sedang membahas salon, Kapten.”
“Oh, aku pikir kalian membahas itu.” Perempuan itu melesat pergi, masuk kembali ke dalam.
Ada kalanya ia tidak mengerti pada perilaku mendadak dari Adhira. Kapten yang payah, batinnya.
“Mau mencicipinya sedikit?” Rio memamerkan tumpukan telur-telur hangat di depan mulut Kino. Model-model telur yang bukan seleranya, kuning telur tak matang.
Ia segan mencubit telur kedua dari atas. Hambar. “Tidak asin.”
“Ah, betul juga, ya. Aku lupa tidak membawa garam.”
.
-Tugas dan petualangan menariknya-
.
Meyrisa riang melambaikan tangan diantara dua orang lelaki. Petang dengan rona oranye gelap dan kekurangan cahaya menyembunyikan wajah mereka.
Kino merespon melalui wajah sebal dan desisannya kala gadis itu meneriakkan sesuatu yang tak sedap tentang dirinya.
Dua perempuan yang setia berdiri di belakang mereka masih melambaikan tangan sampai mereka tidak berpaling ke belakang lagi. Akhir sore yang indah.
“Ayo, kita pulang.” Adhira menyisipkan tangan di saku jaket berisi kunci.
Giunia memendam permohonan yang segera ingin disampaikannya. Itu teraut dari wajahnya. “Boleh aku menginap dirumahmu?” Tersenyum lebar.
Adhira membuang napas.
.
“……. hutan di pemukiman kecil yang terbakar akibat ganasnya matahari…..”
“Wah…..” Giunia melototi televisi sembari menyedot jus dari sebuah kotak. Kepulan asap berkobar ketika air dari selang menyiraminya.
“…… maka dihimbau agar senantiasa menghindari sengatan matahari…..”
Giunia terkejut pada pernyataan buruknya musim panas, yang bisa saja membuat sebagian besar orang malas berpergian. Kecuali jika mereka memiliki pekerjaan atau semacamnya.
Terlebih Si Pemilik Restoran Kecil-Kecilannya.
“Restoran kita akan memiliki sedikit pelanggan……” Adhira lesu membenturkan dirinya ke bantalan sofa. “Payah.” Telapak tangannya ia gunakan sebagai bantalan untuk kepalanya.
“Mungkin kalau di pagi hari tidak begitu sedikit. Ada banyak pekerja dan pelajar.”
“Besok hari Minggu.” Suara Adhira tajam dan tak sopan.
“Betul juga.” Giunia terpojok. Ia ingin cepat-cepat menghabiskan minumannya. “Lagipula, kita kekurangan daging dan sebagian bumbu dapur hampir habis.” Ia tidak begitu mengingat bumbu dapur.
“Begitukah? Berapa jumlah uang yang dimiliki?”
Mengangkat bahu, hari ini ia tidak sempat menghitung uang. Perannya di bagian dapur bersama Adhira. Dia merupakan sahabat dekat sebelum kedatangan tiga orang yang sering singgah kesana berkat tugas sekolah. Mereka tiga orang berbeda-beda. Maksudnya, tidak berteman, tapi saling mengenal.
Ada yang tidak mengenakkan dari mata dan hatinya. Giunia menguap. “Bolehkah aku lebih dulu ke kamar?” Berdiri susah payah dari duduk santainya.
“Kau harus memutar alarm karena kita akan pergi berbelanja.”
“Pukul berapa?”
“Terserah.” Adhira mencuri keripik dari toples disampingnya.
Giunia bergerak malas menuju satu-satunya mulut ruangan disana. Tempat tidur rapi, seprai yang masih dingin, kamar Adhira yang sedikit kewanitaan itu. Terkadang itu tergambar jelas dikepalanya, dan ia ingin segera merasakan seprai dingin.
.
-Dan keseriusan dalam berteman-
.
Kino berbelok teratur dari lika-liku meja restoran di dalam ruangan. Hanya ada dua orang di meja mengitar di pembatas kaca antara penjual dan pembeli.
Ia menempati bagian yang kosong. Matanya sibuk mencari sebelum mulutnya. Lantas empat jarinya menggertak-gertak di atas meja. Lama, lama, lama.
Di balik kaca, Adhira membawakan hamburger hangat, disetorkannya melalui lubang kotak dari kaca bawah, dan tangan lain di sisi Kino menyambutnya. Meyrisa.
“Sejak kapan kau ikut membantu?”
“Baru saja. Kupikir tidak ada salahnya mencoba.” Meyrisa memamerkan gaya mengangkat piring layaknya para pelayan lainnya. Dia menarik segaris senyuman. “Bagaimana menurutmu?”
Pada dasarnya, Kino tidak bisa menilai penampilan. “Biasa saja.” Lagipula, dia hanya melengkapi badannya dengan celemek hitam.
“Uh, kejamnya!” Meyrisa berbalik. Kino menyeringai sebal, menonton gadis itu sampai benar-benar bosan. Itu bukan kemarahan nyata dan ia tidak terlalu bersyukur untuk itu. Salah satu yang membuatnya heran adalah; bagaimana ia bisa cepat akrab dengan orang-orang ini?
Kepalanya meliuk dan Adhira ada disana, “Aku menyerah.”
Bola mata Adhira baru saja bergilir padanya. Mengatakan sesuatu, tak bersuara. Tidak di mengerti, dia turun membungkuk mengarah pada lubang persegi panjang, “Apa yang kaukatakan?”
Kino terpaksa melipat lengannya lalu menaruh dagu diatasnya, “Aku menyerah soal mencari gunting rumput itu.”
“Kenapa?”
“Tadi malam aku sudah ke rumah pamanku, kakekku, pamanku yang lain……. Dan semuanya tidak punya. Kau tahu, mereka tidak menanam apapun atau membuang waktu mengusir rumput liar.”
Alis Adhira naik sebelah, “Jadi kau hanya mengelilingi keluargamu saja?”
Ah, sial. Kino merasakan sesuatu yang panas di wajahnya selain cuaca hari ini.
“Yang penting aku sudah berusaha, ‘kan? Dan aku menyerah.” Menegakkan tubuh spontan.
Adhira menantangnya, itu terlihat dari ketajaman matanya. Tak lama karena dia menjawab bahu yang di tepik Giunia.
Mereka mempermasalahkan hamburger di pangkuan tangan Giunia. Menarik roti atasnya dan Adhira mengangguk setelahnya.
Kino tidak perlu tahu tentang hamburger. Ia sudah bisa menebak bahwa setiap hamburger yang sudah jadi pasti akan di dorong keluar dari kaca itu.
Tapi Si Pelayan malah duduk disampingnya. Ia melirik memberi desisan.
Oh, bukan. Rio, dia menutup kepalanya dengan topi dari jaket abu-abunya. Kesan misterius.
“Apa yang kaulihat?”
“Yah, ternyata ada orang yang tidak bisa memilih baju yang tepat…..” Ia sadar pakaiannya pun tak sepadan. Berupa kemeja panjang.
Lawan bicaranya sudah membungkuk menyerukan akhiran katanya ke kaca itu, lalu seolah menyetujui sesuatu.
Tidak di dengar. Ia gemas. Mungkin dengan orang ini ia akan mengalami berbagai jeda dan kerumitan dalam pergaulan.
Menggaruk kuping, malas. “Disaat seperti ini kau bisa santai, ya.”
Mata mereka bertemu. Rio tampak menyeramkan.
“Kau hanya kurang usaha dan membuat genting sebuah masalah. Jadilah dewasa, tugasmu tidak seberapa.” Dia seperti membaca kegundahan dihatinya. Kino perlu tiga detik untuk terbelalak.
“Apa maksudmu?”
“Memangnya dengan mengatakan menyerah, kau tidak akan di tanggung oleh pencarian lagi?”
Kino tidak mungkin mendadak mengamuk untuk masalah sekecil ini. Ia tidak suka tugasnya karena sebuah alasan; bahwa dirinya adalah pindahan baru di kawasan ini. Apa itu salah?
Rio menarik burger beralaskan piring yang keluar dari kaca. Dia memijat roti empuk itu sebelum mengangkatnya.
“Jangan-jangan kau sudah datang lebih awal dariku.”
“Hmm?” Rio mengulum pertanyaannya dalam kunyahannya.
“Lalu memergokiku berbicara dengan Adhira.” Kino mencari-cari tempat yang bisa menjadi persembunyiannya. Meja pelanggan dibelakangnya masih diduduki orang yang sama. Dan yang lainnya dimuati orang kecuali yang dekat kaca di pojok kanan.
“Kau menuduhku.”
“A-Aku tidak menuduhmu! Maksudku, kau juga menuduhku.”
“Aku tidak menuduhmu. Yang tadi itu namanya menebak.”
“Aku juga menebak!” Rio menyantap hamburgernya. “Hei, jangan makan saat orang berbicara padamu!”
Di balik layar, Giunia menonton para pelanggan bersama sesuatu yang membuatnya resah. Ia bersedekap, menggerak-gerakkan kepalanya seperti angin, setengah melamun.
“Tadi malam kau tidak bilang persediaan tomat juga ikut menipis.” Ada dua pembeli mengkritik potongan kesukaan mereka tidak tercantum didalamnya. Itu kejadian pertama kali bagi Adhira.
“Yah, aku tidak tahu, sih.” Menyisir rambut dengan jari, beberapa helai rambut berjatuhan. “Rambutku rontok. Aku ingin memotongnya sejengkal.”
“Salon itu. Sudah lama aku tidak kesana.” Adhira memberikan secuil senyuman.
“Salonnya seperti apa?”
“Tidak begitu mewah, sih, tapi pelayannya ramah, mereka tampak seperti orang-orang yang jujur.”
“Begitukah?”
“Lingkungannya juga menyejukkan karena salon itu di bangun di tengah-tengah padang rumput.”
Giunia terbengong, tapi tidak tertarik. “Maukah kau mengantarku kesana?” Ia hanya ingin mencoba.
Mengangguk antusias. “Besok.” Lalu meninggalkannya, menuju pintu keluar. “Kalian berdua.” Memanggil Rio dan Kino disana.
“Aku ingin menyerahkan pekerjaanku dan Giunia pada kalian besok untuk sementara.”
Dan, yah, pemuda cerewet memprotes soal cara penyajiannya.
“Kau hanya memanggang roti dan daging di atas besi panas, lalu menyusun bahan-bahannya. Harus disajikan menurut keinginan pembeli.”
Rio mengiyakan menyetujuinya. Sedang yang satunya sepertinya membutuhkan paksaan untuk menaklukannya.
“Sepulang sekolah?”
“Ya. Jika ada ibuku di dalam, kau tinggal menawarkan diri saja.”
Kino diam-diam menguak kekesalannya.
“Oh ya, soal gunting rumput itu. Apapun yang terjadi, kau harus tetap mencarinya. Minta saja Rio mendampingimu jika tidak berani.”
Mengerucutkan bibir. “Aku bisa mencarinya sendiri!” Berbalik, lain kali ia tidak akan mengatakan apapun tentang tugasnya.
.
-Lalu sebuah bencana menjadi kekasih-
.
Nyanyian motor halus seperti jalanannya. Tidak cepat atau lambat, namun kala lokasi telah nampak Adhira menancapkan gas.
“Oi, pelan-pelan!” Giunia terlalu menikmati ladang kosong sedikit nyawa ini. Rambutnya terasa berkibar. Sedang Adhira memiliki ide ringan yang tak terpikirkan olehnya. Memendam rambut panjangnya di dalam jaket.
“Tidak berubah!” Adhira bersemangat. “Aroma diperjalanannya, rerumputannya…..”
Giunia menggerak-gerakkan kepala bertingkah dewasa. Juga tak tahan pada sengatan matahari yang lebih merebak. Seharusnya Adhira memberitahunya untuk membawa topi.
Karena gadis itu, berkat karakternya, berpakaian ala ‘mereka’ pada umumnya. Ia menggaruk dengan telunjuk jeans yang menempel dipahanya tatkala mereka benar-benar sampai di muka.
Sepi. Tak ada seorang pun. Tampilannya seperti toko swalayan. Apa ini yang namanya salon?
“Tapi tidak dengan kekosongan ini.” Dengan kaki kanannya ia menekan ‘kaki’ motor agar bisa berdiri sendiri.
“Jadi ini salon favoritmu?”
“Dulu salonnya tidak seangker ini!” Adhira lebih dulu maju. “Kau akan terkesima pada bagian dalamnya.”
“A-Aku rasa kita harus menunggu.” Menunggu orang. Tetangga, yang satu wilayah, orang yang melintas…… tidak ada. Giunia tidak menemukan siapapun.
Giunia mendekat mencegah mendorong pintu.
“Salon ini memang begini. Mereka sedang memberimu kejutan.”
“Tapi kalau ternyata salon ini sudah dikosongkan?”
“Apa kau tidak melihatnya dari kaca?” Adhira melalui gestur kedua tangannya mempersembahkan kaca-kaca itu.
Kaca-kaca panjang sampai lutut tinggi normal seorang remaja dan selebar setengah lengan mereka. Yang berjejer dibelakangnya adalah berbagai produk persalonan. Salon ini seperti mendukung apapun di dalam urusan itu.
“Mungkin salonnya tutup.”
Adhira terbawa suasana. “Lihat ini!” Menganjur pintu itu sampai lengan terentang. Maka seorang wanita tersenyum manis menelungkup tangan kanannya di depan gaun pendeknya.
“Eh?”
“Selamat datang.”
“Tadi kau mengungkap kata jamak pada satu orang? Keren,” bisik Giunia, mengejek.
“Memang ada beberapa orang, kok. Ya, ‘kan?” Adhira beralih pada perempuan itu.
“Sayangnya hanya aku saja.”
“Kenapa? Mereka ada di dalam, ‘kan?”
Memudarkan senyuman, perempuan itu nyaris menguap. “Salah satu dari mereka adalah sepupuku dan menyerahkan bangunan ini padaku. Setelah sukses, mereka pindah ke kota.”
“Huh.” Adhira tertekuk kecewa.
“Tapi karena sudah terlanjur tidak ada salahnya mencoba, ‘kan? Kalaupun mencari mereka, aku rasa alam tidak mau membantumu.”
Giunia membenci keterasingan. Ragu. “Apa sudah pernah ada yang kesini?” Ia tahu pertanyaan ini bisa menyinggung yang bersangkutan. Nyatanya dia malah tertawa garing.
“Sudah banyak. Mereka masuk secara bergantian. Hahaha…….. konyolnya peraturanku!”
Adhira dan Giunia saling pandang.
“Kalau begitu, urusi temanku yang rambutnya rontok ini, ya.” Adhira merenggut kaos berlengan panjang dari pergelangan Giunia. “Aku ingin melihat karya pesalon yang baru ini.”
“Maaf, yang boleh masuk hanya yang akan diurusi saja.”
“Lho, jadi itu peraturanmu?” Giunia tercengang.
“Yap. Bukankah itu yang kalian sebut sebagai kejutan?”
“Tapi, mereka tidak merahasiakannya!” Adhira menentang. “Justru mempertontonkan pada yang lain!”
“Mungkin kita memiliki perbedaan peraturan dan itu tidak salah, bukan?”
“Aku lebih suka peraturan mereka!” Adhira seperti tidak menyukai perubahan itu dan Giunia berpikir untuk mengikuti aturan mainnya.
“Baiklah, aku masuk.” Aura yang diterimanya tidak baik hanya dari ambang pintunya saja. Pastilah karena ruangan yang tak hangat.
Perempuan itu menjadi sopan sambil mengekor.
“Aku juga.” Dia sempat menghentikan perempuan itu sebelum pintu pelan-pelan menutup.
“Aku ingin rambutku di cat dengan warna yang gelap dari ini.”
“Yah, tetap saja kau harus di luar untuk menunggu giliran.”
Sementara membelakangi mereka, Giunia mendongak meraup segala isi dengan kapasitas ringan cahaya. Tiga kursi untuk di salon beserta deretan mejanya. Lalu lemari etalase banyak memaparkan kotak-kotak dari jenis mereka yang berbeda-beda di setiap rak.
Tidak terlalu buruk untuk jenis ruangan salon. Tapi kesendiriannya itu yang ganjil.
Sedikit yang tertangkap dari perkataan mereka, Giunia tentu mengambil logika. “Hei, ada tiga kursi disini. Kau bisa menunggu disana.”
Adhira menang. Perempuan itu memberi ruang, bertampang datar.
.
Giunia memejamkan mata menikmati penyucian rambutnya di tempat — semacam — wastafel.
“Wah, sepertinya enak juga, ya. Apa aku juga bisa di krimbat dulu?”
“Tidak tahu. Aku akan mencari informasinya di google.”
“Eh, jadi kau ini masih pemula?”
Ia mendengar semua yang merekakatakan. Setidaknya perempuan itu tak tersinggung menghadapi anak tak sopan.
“Namamu apa?”
“Aku Citrha. Kau bisa menganggapku sebagai temanmu.”
“Kukira kau lebih tua dariku.”
“Yah, tak lama lagi aku menghadapi ujian kelulusan.”
Mengangguk-angguk ringan, bahkan sukar digerakkan jika lehermu dalam kondisi menganga tak menyenangkan.
“Semoga kau lulus. Lalu ajak teman-temanmu untuk menjadi pelayan di salonmu.”
Diam beberapa detik.
“Maaf saja, ya. Aku tidak punya teman.”
“Ah, yang benar saja. Di dunia ini, tidak ada orang yang sendirian.” Adhira menyela pembicaraan mereka sambil mengangkat kotak bergambar rambut warna-warni satu per satu. “Tidak ada yang berwarna pink……”
Hei, jangan mengacak barang-barangku!”
Giunia menerbangkan pikirannya pada hal-hal lain. Tentang ia yang bisa saja berbisnis sendirian seperti perempuan didekatnya. Peraturan ‘hanya satu orang yang masuk’ cukup jelas alasannya.
“Oh ya, adanya peraturanmu itu memang….. agar orang yang seperti Adhira tidak menganggu peralatan-peralatanmu?”
“Begitulah.”
“Uh, dasar tidak sopan!”
Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas. Anak itu perlu bercermin.
.
Sekarang, giliran Giunia yang berkeliling diantara barang-barang. Auranya terasa seperti di rumah sendiri. Dengan handuk menghangatkan seluruh rambutnya yang terbelit tak berbentuk di dalam. Ini memang memalukan, tapi ia tidak ingin hanya diam menunggu giliran.
“Tidak bisa? Coba cari di sumber lain.”
“Ini sudah cukup memberiku keterangan yang logis. Mungkin warnanya akan luntur jika rambut dalam keadaan basah.”
Langkah bocahnya lebih menariknya pada meja rias. Empat patung wajah menyerupai manusia asli berjajar dipinggiran mejanya. Kau bisa memilih gaya rambut yang dipamerkan mereka, membelai surai mereka, dan……. Mencubit pipi mereka.
Tidak hanya kelihatannya, kulitnya pun seperti terbuat dari sesuatu yang elastis. Silikon, barangkali.
Bibirnya tak kalah unik; permukaannya pecah-pecah. Mereka juga memiliki kelopak mata yang memungkinkan bisa tertidur. Lebih pantas jika menjadi robot.
Adhira dan Citrha menempati meja ke tiga. Dia mengenakan kain putih yang dikhususkan untuk menutupi punggungnya — rambutnya terurai di semprot lalu di sisir.
“Kepala-kepala hias sebagus ini kau beli darimana?”
“Aku membuatnya sendiri.”
“Yang benar?”
“Kenapa tidak? Aku ahli menempelkan kulit pada rangkanya.”
“Jangan-jangan itu bakatmu, ya.” Adhira berpaling pada wajah-wajah itu.
“Bukan.” Kata dipertebal.
Giunia teringat dengan sebuah gambar berisi model-model rambut di dinding. “Padahal disini juga di pajang model-model rambut.”
“Kalau hanya empat patung saja, tidak cukup, ‘kan?”
.
-Pendapat yang berbeda-
.
“Gaya poninya jelek. Dia pasti jadi bahan ejekan disekolahnya.”
Giunia menengok restoran kecil di depan mereka di balik bahu Adhira. “Yah, kurasa dia sudah terbiasa sendiri.” Ia tidak merasa rambutnya telah berubah. Mungkin ini karena efek samping; yang dipotongnya sejengkal. Di belakang pula.
Kecepatan motornya menjadi drastis seperti saat salon itu hampir dekat. Giunia tidak perlu kaget lagi.
Pertengahan matahari sedang sepi dihinggapi oleh orang-orang di jalanan selebar ini. Hanya lurus saja dan kau memang sudah mendapatkan penampakan restoran itu.
Bahkan di kedua jalan yang berlawanan, pengendara motor dari kedua arah bersilangan di depan mereka.
Mereka menyeberang dan bersambut tiga orang dari satu meja bundar lima meter dari sini.
“Sepi pelanggan.”
“Dari tadi dan seperti biasanya.” Kino membalas sembari melipat lengannya di atas meja.
“Hei, kalian darimana?” Meyrisa agak cemberut.
“Dari salon.” Giunia menarik kursi disampingnya.
“Ke salon? Kenapa kalian tidak mengajakku?” Nada rendahnya kecewa.
“Nanti tidak akan ada yang menjadi waiter-nya.” Adhira berkomentar.
Meyrisa memberi asupan udara pada pipi kanannya. “Uh, padahal aku juga punya masalah pada rambutku. Aku tidak punya poni didahiku seperti kalian.”
“Cih, poni.”
“Kau juga tidak punya poni.” Kino meraba keningnya.
Giunia baru menyadari alat tulis dan kertas-kertas berserakan. Garis-garis tak jelas bentuk sedang dikerjakan Rio.
“Kami membuat kerangka untuk semak hias. Bagusnya bentuk seperti apa? Rio sedang menggambar contohnya.”
Rasanya agak memuakkan tiba-tiba di suruh berkhayal. Meyrisa menunggu bersama tampang manisnya, dan ia tahu Adhira tidak antusias untuk hari ini. Cukup saja dirinya bertopang dagu.
Adhira merentangkan lehernya ke depan, “Contoh seperti apa yang dia buat?”
“Tidak tahu. Daritadi belum selesai juga.”
Terlalu banyak di hapus. Kertasnya jadi agak lebam. Dari sini terlihat tanpa perlu seperti Adhira.
“Sebelumnya sudah kubilang lebih baik semak hiasnya di bentuk seperti pohon cemara, lalu di beri salju diatasnya.”
“Itu pola yang sangat mudah! Kau ini tidak ada kreatif-kreatifnya, ya.”
“Kalau melihat di film-film, biasanya wajah manusia atau tokoh-tokoh apalah itu.” Adhira berujar di tengah perilaku drastis Meyrisa dan Kino sambil bersandar santai.
“Itu terlalu sulit. Diantara kita tidak ada yang pernah menggunting semak, kan?”
“Lalu yang mudah itu bentuknya yang bagaimana, hah?! Kau membuat kami hampir gila!” Tangan si pemilik suara terkepal hingga terlepas mendarat di tepi meja.
“Aku juga tidak tahu makanya aku meminta pendapat! Hentikan saja idemu itu!”
“Lagipula, kita hanya kesulitan membuat salju! Bukankah tidak mudah membuat salju bohongan? Itu pertengahan yang kauinginkan, bukan?”
Meyrisa tak kalah membuat kepalan di serong kanan depan wajahnya. “Ini musim panas! Samakan dengan musimnya, dong!” Mereka duduk berhadapan , mengisi energinya dengan napas terputus-putus.
“Yah, sepertinya kalian memang sudah meributkannya dari awal.”
Giunia masih terbang dalam lamunannya. Citrha, orang itu memiliki kesamaan pokok dengannya. Tentang teman yang tak pasti, menyuruh perempuan itu lebih mandiri. Memang seharusnya ia bersyukur nasibnya berbelok. Seandainya dia memohon membutuhkan seorang pekerja, itu bisa menjadi beban pikirannya. Merias rambut orang memang lebih sesuai dengan dirinya. Tapi sahabat tidak bisa ditinggalkannya.
“Tidak mau membagi pikirannya?” Ia merasa dunia berhenti. Seketika Rio berseberangan dengannya menunjuknya oleh bagian runcing pensil.
Dan yang disekitarnya menjurus padanya.
“A-Aku masih teringat pada beberapa kejadian di salon.” Giunia meyakinkan mereka. “Dia punya peraturan unik.”
“Peraturan?”
“Ya, peraturan yang asing. Kalau kau kesana, dia akan mengatakan kalimat itu.” Giunia berharap cemas ceritanya tidak begitu kering dinikmati.
“Salon yang mana?”
“Di padang rumput, satu-satunya yang berdiri disana.”
Rio berpikir dan ia tak keberatan menunggu.
“Memangnya kalimat apa yang diucapkannya?” Meyrisa bertanya pada Adhira.
“Semacam kejutan.”
Ia terkesiap tatkala Rio mengarahkan mata padanya.
“Salon yang misterius itu. Yah, aku pernah lewat ke padang rumput itu.”
Tersenyum paksa. Giunia kaku bersikap ramah pada orang yang mengagetkannya. Tak berapa lama ungkapan itu membuat gadis berkucir dua melengking antusias.
“Baguslah! Tolong antar aku kesana, ya!” Mengatupkan kedua tangannya. “Ya, ya, ya……….”
Rio mengusap-usap telinganya, “Aku juga jadi penasaran.”
“Hore! Besok kita kesana!” Suara bocah secara kejam menusuk lubang telinganya, Adhira mengkritik dan Giunia nyaris menempelkan telapak tangannya ke telinga.
“Salon, salon, salon, selalu itu yang kalian lenceng dari topik!”
“Kenapa? Kau iri karena tidak diajak?” Meyrisa menyeringai.
“Aku tidak akan iri oleh kegiatan perempuan! Mereka berdua tidak terlihat ada perubahan!” Kedua jari ‘trend’dipakai orang saat berfoto masing-masing di tunjuk pada Adhira dan Meyrisa.
“Itu karena kau belum melihat pesona rambut belakangku.” Siku Adhira menumpu pada meja, kepalanya miring diletakkan di bahu yang menumpu itu.
“Ah, aku tidak butuh!”
.
-Dan sebuah dengusan konyol-
.
Jika kau bertanya apa yang tidak disukai seorang lelaki sedikit bicara ini, salah satunya adalah di suruh mengecilkan ukuran semak-semak di belakang pagar dan mengusir rumpur liar.
Melepas ikatan tasnya dari punggung pergi ke garasi lalu muncul bersama gunting rumput. Ia menghempaskan napasnya ketika tak sengaja silau memantul melalui bagian besi menuju matanya, dielakkannya oleh kelopak mata dan sedikit gestur kepala.
Hari Minggu, ia mendapat tugas seperti ini dari ibunya. Namun sebuah perkumpulan kemarin itu menimbulkan hukuman neraka matahari saat ini.
Gunting besar itu memotong kecil-kecil bagian dasar dari dedahanan. Itu membutuhkan keseimbangan karena bobot gunting yang tak biasa untuk barang yang terbiasa dibawanya. Ini kali pertama ia melakukan ini, tidak di sore hari agar tidak lupa.
Ia menaruh gunting sembari menurun ke bawah, selagi tangannya agak bosan pada gunting maka rumput liar menjadi yang terbaru untuknya. Dandelion dan rerumputan entah apa namanya ini hampir menyamai pagar kayu setinggi jenjang kakinya yang diberi cat putih.
Menyiapkan jari-jarinya dengan berolahraga semraut, memeluk batangnya dan mencabutnya kasar.
Masih banyak lagi rumput-rumput bermasalah berjejer di pinggiran deretan pagar yang mengelilingi rumahnya berbentuk persegi. Baru mencapai setengah dari barisan depan rumah.
Dan dari pandangannya menuju rerumputan selanjutnya, sepasang kaki berjeans berdiri di sela-sela pagar.
“Rio!” Kesalahannya, Rio hanya tidak melongok ke atas. Maka menimbulkan degup jantung meningkat.
“Kau……” gumamnya. “Untuk apa datang kemari?”
“Ah, kau sudah lupa, ya!” Rasanya ia ingin memperkecil volume suara itu. “Kita ‘kan mau ke salon!”
Rio membuang rerumputan yang dipegangnya didepannya dengan reflek, sekelabat gambaran salon itu dikepalanya. Salon yang membuatnya penasaran sejak itu.
Bagaimana mungkin sebuah bangunan pelayanan untuk masyarakat didirikan di tempat seperti itu? Meski tidak punya insting yang kuat, setidaknya ia memiliki label; bahwa ada sesuatu yang tidak beres disana.
Tapi ia bingung kapan pertama kali dugaan itu menggerayangi kepalanya jika tak sengaja mendengar rangkaian huruf-hurufnya.
“Hei, jangan diam saja! Ayo, bergegas!” Dedaunan kecil menghujani singkat kepalanya.
“Jangan mencabut sembarangan semak-semak itu!” Ia tetap marah karena hal yang sama; Meyrisa mengagetkannya. Semak-semak rapi itu memang tidak memerlukan perbaikan apapun, kelihatannya.
Jika melihat senyuman nakal Meyrisa, maka ia mengingatkan bahwa tak seharusnya kemarahan ditunjukkan dengan terang-terangan.
Memalingkan wajah.
“Wah, ternyata sikapmu berubah 1800 kalau latarnya di kampung halaman.”
“Diam kau.” Aksen rendah sebagai pengakhiran dari kemarahan.
Gadis itu malah berdekih, cepat-cepat ia mengganti. “Tunggu aku atau membantuku mencabut rumput-rumput liar agar kita bisa cepat-cepat berangkat.”
Meyrisa memerhatikan telapak tangannya, agak kecewa. “Yah, aku harap tanganku tetap terawat………”
.
-Lalu semuanya begitu cepat menghilang-
.
Rio mengatur letak motornya setelah gadis berkucir itu mau turun berdasarkan perintahnya. Hanya tiga atau empat langkah menuju arah timur laut berdiri dibelakangnya. Dari bangunan abu-abu yang tak terlihat seperti salon, memang misterius.
“Kau yakin tidak salah tempat? Apa mereka memang datang kesini?” Meyrisa berbalik.
“Tentu saja hanya salon ini yang di kawasan ini.”
“Tapi, salonnya sedang tutup.”
Kaki ringannya tidak mau diajak diam bersama dugaan-dugaan menarik hatinya. “Kau lihat saja.” Ia mencari-cari sesuatu yang dapat ditelisik di dalam ruangan selain bayangan dirinya dan objek sekitar. Meski hanya dengan seperti ini saja, firasat tentang adanya orang di dalam sana memang benar. Mungkin saja, peraturan yang dimaksud Giunia akan keluar sebentar lagi.
Ia sudah tidak sabar.
Pintu di ketuk berulang. “Permisi, apa ada orang? Salonnya ini sedang tutup atau apa?” Meyrisa sampai berjinjit — mengetuknya dari berbagai arah pada bidang pintu. “Aku butuh kepastian!”
Rio bosan berpikir terhadap kelakuan berisik yang kurang diperlukan jika saja seseorang mau mendongak dulu pada sesuatu yang bulat di dinding. Tapi ia sama sekali tidak punya niat menyongsongkan tangannya karena suara itu sepadu dengan bunyi bel.
“Ah, aku malah bertindak bodoh.” Kalimat itu bersamaan dengan bunyi kunci dan pintu menyeret sedikit demi sedikit.
“Maaf, aku malah membuatmu bertindak bodoh.”
Mereka dibuat kagum oleh pakaian maid perempuan itu.
“Tidak apa-apa, kok. Aku mau menyantumkan poni sesuai rambutku. Tapi kau yang menentukan, ya.”
Ia sudah memposisikan diri di belakang Meyrisa dan menunggu datangnya peraturan itu.
“Yah, semoga puas dengan hasilnya, ya.” Perempuan itu tersenyum manis. “Ah, ada pelanggan lain juga, ya.”
Mata mereka bertemu dan perempuan itu lantas menyingkirkannya.
“Bukan. Dia itu hanya pendamping.”
Baru saja ia akan menafsirkan sesuatu dari pancaran mata itu. Apa wajah datarnya salah?
“Silahkan masuk, kalian berdua.” Lengan yang disembunyikan itu terlentang membuka mulut ruangan hingga menganga sempurna.
Ada dinding peredam suara yang terbuat dari tempat telur diberi lapisan cat abu-abu yang lebih muda dari abu-abunya semen. Lalu semua yang didalamnya persis seperti salon. Hanya sederhana jika dilihat dari meja dan kursi-kursinya.
“Wah, aku sudah tidak sabar!” Lengan perempuan itu terulur sejajar dengan bahu menunggu Meyrisa menghampirinya.
“Rio, masuklah!” Wajah yang berseri-seri setara dengan bocah yang mendapat kebebasan.
“Aku ingin menikmati pemandangan.” Melambai sekilas seperti mengusir sesuatu. Tidak dengan pembicaraan apapun — tadi Meyrisa tampak hendak menggerakkan mulutnya, namun — pintu terdorong tak terlalu sempurna. Apa ini yang disebut dengan peraturan tanpa kalimat?
Bosan. Peraturan yang tak menarik. Ia memutuskan menjalankan yang dikatakannya sebelumnya; menginjak padang rumput yang leluasa ini.
Hampir disekelilingnya — di depan harus menyeberang dulu dari jalan aspal — menampakkan bahan yang sama; padang rumput.
Ia tahu pilihannya memang salah jika dari awal kedatangannya kesini untuk mencurigai tempat ini. Setidaknya harus ada kejadian ganjil.
Rio lambat laun melaju tanpa sadar ke kiri keluar dari perbatasan salon. Dan bertemu dengan pepohonan rimbun yang gelap tak jauh dari sini.
Memang bukan pemandangan aneh juga. Namun tempat itu bagian mistis yang cukup menarik.
Menarik untuk dikunjungi, ia pastikan hanya menonton luarnya atau setidaknya ingat jalan jika ingin masuk.
Salon ini tidak sekecil seperti di muka. Pinggirannya cukup memanjang sampai hanya beberapa langkah mendekati hutan jika di hitung dari ujungnya.
Salon yang sangat sederhana.
Hingga sampai diperujungan, Rio mundur dua langkah sedikit menengok benda cokelat kayu yang terlihat hanya seperempat.
Pintu kusam bagai di gudang. Sama sekali tidak ada menarik-menariknya. Namun, ya ampun, benda yang bersandar di pintunya, setinggi sampai lututnya.
Napasnya tertahan bersama terbelalaknya terhadap kejadian ganjil yang diinginkannya.
Meyrisa……. Apa dia akan baik-baik saja?
.
-Baru saja kemarin-
.
Rio mengedarkan pandangan ke setiap pelosok meja-meja dan di luar batasnya. Hanya Adhira saja yang tiba-tiba menghampiri mereka dari dalam restoran sedikit pelanggan.
Meyrisa mengubah tanah berpijaknya menjadi sejajar dengannya, mengacungkan jempol.
“Salon yang kaupromosikan itu keren! Pelayannya baik dan pandai menentukan poni rambut!” Memang benar Meyrisa berbeda dan jauh lebih baik.
“Aku jadi cantik, ‘kan?”
Adhira masih terpaku pada Meyrisa dan mengangguk-angguk. “Jadi lebih manis.”
“Kyaaa…… Benarkah?” Adhira perlu merespon ulang. Kala membahas rambut telah selesai, Adhira beralih padanya.
“Dia mengatakan peraturannya?”
“Tidak.” Rio mengangkat bola mata keatas sekilas. “Apa peraturannya?”
“Hanya satu orang yang rambutnya akan di urus yang boleh masuk.”
“Tadi kami diperbolehkan masuk berdua, kok. Tapi Rio tidak mau masuk.”
“Masa’? Berarti dia mempermainkanku. Kenapa bisa begitu?”
Meyrisa menggeleng sambil mengerucutkan bibirnya.
Diam sebentar.
“Ada gunting rumput berdarah di belakang pintu salon,” ungkap Rio, datar.
“Hah?! Yang benar saja!” Adhira menyeru di tengah kaku mendadaknya. “Sangat tidak masuk akal!”
Meyrisa mengisi ruang bagian kanan agar bisa memandangnya juga. Dan membela, “Mungkin itu milik pemburu hewan.”
Rio berdecak jelas, “Aku serius! Tadinya aku ingin mengajakmu kesana kalau saja tukang salon itu tidak menunggu kita pergi!”
Mata Meyrisa berapi-api dan Adhira mempertahankan dugaannya. “Gunting rumput digunakan untuk memotong rumput.”
“Kau mungkin salah lihat!”
“Aku diluar tanpa terhalangi apapun.” Ia tahu hanya satu-satunya saksi atas penemuannya. Memang seharusnya membawa ponsel.
“Kau kira apa yang akan dilakukannya jika gunting rumput itu miliknya?” Adhira meredakan tampang sinisnya.
“Entahlah.” Ia tidak mau menebak saat sedang membaca mata Adhira. “Orang bodoh mana yang akan meletakkan gunting rumput di sembarang tempat?”
“Tukang salon tentu menggunakan gunting berukuran kecil, kau tahu itu, ‘kan?”
Kedua pemilik sepasang mata yang sama-sama mengejeknya. Meski tak terlihat jelas.
“Hei, dia memang orang yang baru kukenal tapi perangainya tampak seperti orang baik.”
Agak berbeda untuk gadis berambut pirang yang sedikit memiliki kemarahan yang terpendam. “Salah sendiri tidak ikut masuk jadi kau mau membuat misterius saja gunting rumput yang kau bilang itu.”
Rio baru saja mendapat pencerahan dari kalimat Meyrisa. “Kalian tidak merasa heran kenapa dinding peredam suara dibuat di ruangan salon? Apa sebelumnya itu tempat karaoke?” Jika benar, maka itu suatu usaha merepotkan karena sudah tertolong oleh lingkungan tanpa manusia.
“Eh? Jadi itu namanya dinding peredam suara. Aku baru tahu.”
“Aku juga baru tahu.”
Kedua perempuan yang satu sama lain mulai membicarakan nostalgia mereka dengan dinding ‘aneh’ itu. Rio menampar dahinya terusap sampai wajah. Mereka benar-benar meledeknya.
Ia meninggalkan mereka tanpa berat akan dipertanyakan keberadaannya. Nanti, suatu hari, pasti akan ditemukannya seseorang yang mau ikut terbelalak dan mencari-cari bukti lainnya bersamanya. Layaknya detektif.
Pelanggan-pelanggannya tidak tiga atau empat yang diduganya di luar restoran saat perjalanannya naik motor. Sebagian mereka rela mengantri disekeliling kaca meski sudah ada satu pelayan yang terpaksa menjadi pelayan, sepertinya.
Kino, dia sedang mencatat perkataan seorang wanita pekerja yang duduk sendirian disana.
Selesai mendapat informasinya, Kino membalas pandangannya padanya dan seketika itu langsung berpaling.
Sekarang, apa yang salah pada mata Rio?
.
-Sesuatu yang kurang telah terjadi-
.
Hiruk pikuk pagi mengerubungi halaman belakang sekolah bersama suhu hangatnya. Silau pukul delapan membutakan beberapa orang yang tak sengaja tertimpa cahayanya dan kesulitan berbicara dengan orang-orang disekitarnya.
Kino mengkritik silau itu.
Siswa-siswa lain sekelasnya sudah memiliki pekerjaan yang merekaperbuat pada semak-semak kepunyaannya. Menggunting rumputnya, merumuskan rangkanya, berdiskusi.
Kelompok Rio sendiri, baru memiliki bahannya.
“Syukurlah, kita memiliki satu gunting rumput.” Adhira berkacak pinggang, tersenyum bangga. “Jadi kita bisa langsung memulai.”
“Rio, kerangka yang kemarin sudah selesai, belum?” Meyrisa menengadah padanya.
“Belum.” Ia sama sekali tidak mendapatkan ide. “Deadline-nya masih lama, tenang saja.”
“Ya, sih, tapi yang lain sudah mulai bekerja.” Adhira menunjuk asal orang-orang dengan dagunya.
“Mereka hanya latihan.” Rio berucap pelan namun itu dapat di dengar jika tubuhnya turun untuk ikut jongkok dengan Meyrisa.
“Yeah, kelas kita memang di kenal rajin.” Meyrisa manggut-manggut.
“Lalu sekarang apa? Kita hanya menonton saja?” Kino dengan suara memanasnya merentangkan kedua tangannya lalu terhempas dengan menepik paha.
“Tentu saja kita juga bekerja.”
“Apa yang akan kita kerjakan? Kalian hanya diam saja!”
“Tunggulah karena bahan-bahan kita sangat kurang!” Giunia angkat bicara usai memandang setiap orang. “Gunting rumput saja, contohnya. Kita tidak mungkin menunggu giliran memotong karena menghambat waktu!”
Pandangan mereka jatuh ke bawah dan Rio mengarah pada gunting rumput yang terdampar di bawah semak lebat di tengah mereka. Melayangkannya pada gunting rumput berdarah itu.
“Benar juga, ya.” Adhira berdecak setelahnya.
Sekarang mereka serempak memiliki objek yang menuduhkan pikiran mereka.
“Apa?”
“Tugasmu tidak terputus oleh gunting rumput milik Rio itu.” Meyrisa tersenyum riang.
“Maksudnya?” Kino mengolah perilaku mereka dan perkataan-perkataan sebelumnya dalam beberapa detik. “Itu ‘kan sudah ada.”
“Minimal harus ada dua orang yang bekerja memotong semaknya! Tidak bisa sendiri-sendiri!”
“Gunakan saja gunting biasa! Jadi semuanya bisa bekerja!”
“Gunting biasa tidak akan sanggup memotong banyak!”
“Coba saja dulu! Jangan hanya dibayangkan!”
.
-Kekurangan bahan tugas-
.
Kino berjalan gontai dan tak sudi pada jalur perumahan sekali dua kali baru didatanginya.
Seseorang di sisi kanannya diberi lirikan benci lalu membuang muka ke sisi lain.
“Pergilah, aku bisa mencarinya sendiri.”
“Aku bisa membantumu kalau kau gagal menemukannya, seperti saat kau sendiri.”
“Cih, waktu itu aku hanya merasa malas saja.” Kino cemberut juga akibat sekelabat potongan hidupnya di hari kemarin. Perkataan Adhira di restoran kecil itu.
Terik panas sepulang sekolah membantu mengembangkan keinginannya untuk cepat memilih rumah tak dikenal. Juga siasatnya untuk membuktikan keunggulan jika hanya dilakukan sendiri.
Ada rumah sederhana yang perkarangannya berantakan oleh jenis-jenis tanaman hias dan sebagian di sudut pagarnya pohon — entah pohon apa. Pemiliknya dipastikan memiliki gunting rumput. Kino tak ragu pada pilihannya. Ia mendahului.
Dari langkah renggang bersama bayangan tak beraturan akibat lekukan rumput-rumput kecilnya. Menginjak halaman tanpa permisi.
Membuktikan, Kino menyeringai.
Tapi jauh dari takdir angannya, Rio memperlambat pada rumah yang dituju Kino.
“Kau, carilah tempat lain.”
“Yah, lebih baik kita sama-sama mencari.” Orang yang –sedikit — lebih tinggi darinya itu menyelipkan kedua tangannya pada saku pinggiran jaket biru donker tak di sleting.
Pernyataan yang tak dimengerti Kino; kenapa orang-orang masih senang memakai jaket di hari yang panas ini?
Ia menampakkan seringaian yang tadi. “Kenapa begitu? Kau merasa malas?”
Rio mengangkat bahu, mata lesu dan tak peduli. Dari topi jaketnya yang memberi ruang, telinganya — ternyata — dipasang earphone.
Selalu dipermainkan.
Kino menyeru pemilik rumah sebagai penggantinya, melaju tanpa sadar.
Seseorang muncul, berjalan ke pinggir sedikit demi sedikit, memikul benda yang dicari mereka.
Rio terbelalak bukan pada orangnya, tapi gunting rumput itu setara dengan yang disandarkan di belakang pintu salon. Menurut warna gagangnya, bagian yang berkaratnya, juga ukurannya yang mulai diperdekat dengan perempuan itu menghampiri.
“Ada yang bisa kubantu?”
Rio mencabut earphone.
“Kami anak sekolahan, ditugaskan memberi bentuk pada semak hias. Bolehkah kami meminjam gunting rumput itu?” Kino menunjuk.
“Aku sedang menggunakannya.”
“Kami akan menunggu.”
“Pekerjaanku masih banyak. Aku tidak punya limun untuk melayani tamu.”
“Tidak apa-apa. Kami hanya butuh berteduh.”
Ketika perempuan itu hendak membuka mulutnya lagi, Rio memotong, “Perempuan ini……” Ia tidak bisa membiarkan seseorang dalam ketidaktahuannya. “…….. yang bekerja di salon misterius — di padang rumput itu.”
Kino tak berekspresi. “Memangnya apa peduliku? Aku disini sedang membahas gunting rumput. Sebaiknya kau lepas saja earphone-mu.”
Bukan itu. Rio ingin membuat suasana menjadi panas. Lalu beralih menuju gunting rumput misterius itu.
Dan perempuan misterius didepannya, sedang menjelaskan alasan panjang tentang gunting itu.
“Kau bekerja di salon, ‘kan? Peluangmu sangat sedikit untuk berkebun.” Rio menunggu jawaban. Atau setidaknya, sepasang mata cokelat itu mau beralih padanya.
Tidak, dia lebih akrab pada sosok Kino, meski perempuan itu membalas, “Salonku di tutup jam tiga sore. Sepulang dari sana aku tidak lupa mengurus tanaman-tanamanku.”
Kejanggalan itu masih di simpan di memorinya. Sepotong episode di depan salon itu saat berbincang dengan Meyrisa.
Kenapa? Apa ada sesuatu yang menakutkan dariku?
“Kami hanya meminjamnya beberapa hari. Kau pasti pernah — setidaknya — satu hari tidak mengurus kebun.”
“Maaf, aku tidak kenal kalian.”
“Tapi kau mengenal salah satu konsumenmu. Seorang pemuda disampingku? Rio?” Kino mulai memanas.
“Dia hanya pengantar.”
“Sekarang kau mengenalku. Aku Kino.”
“Ini benda kesayanganku.” Perempuan itu sedikit tertekuk, melontar ke arah lain.
“Tanpa gunting rumput sekitar rumahku tidak akan sebagus ini. Maaf, tidak bisa dipinjam.”
.
-Lalu kasus yang pertama-
.
Menjelajah berolahraga di Minggu pagi, Adhira mengajak pengikutnya sebagai ajang kebersamaan.
Rio, sebagai orang yang tahu banyak jalan, membelokkan rombongan ke padang rumput dan berkata ingin menunjukkan gunting rumput itu.
“Sudahlah, itu tidak mungkin! Ini tempat yang sepi! Kau pikir kita akan beristirahat dimana nanti!” Meyrisa melayang-layangkan kepalannya di udara, berjalan beriringan dengan Adhira.
Rio tidak menghiraukan.
“Adhira, lakukan sesuatu! Salah satu anggotamu membuat permainan berdasarkan otak gilanya!”
“Yah, aku juga tidak mengerti; sejak kapan dia memimpin?”
“Kau terlihat menuruti permintaannya!”
“Jalan-jalan kesini juga bagian dari olahraga.”
Meyrisa memang sudah sedari tadi berkicau dan Rio melahap semuanya tanpa dibalas satu pun.
“Ah, kau ini. Bilang saja penasaran~.”
“Aku hanya tidak masalah diajak kemana pun! Kenapa kau begitu panik?”
“Kita butuh kedai untuk peristirahatan dan makan nanti! Kau lihat tempat ini seperti kuburan?”
Angin panas selurus seperti padang rumput menghangatkan leher Rio dan itu seketika membuat tenggorokannya minta air.
Tak ada yang berbeda dari mengambil jalanan tanah disana. Namun seolah penampakan salon berulang kali menipu, menyemangati dengan asumsi, ‘sebentar lagi sampai’.
Bersama khayalannya pada persoalan lain, Giunia menghampiri sisi kanannya, “Apa memang ada gunting rumput berdarah disana?”
“Tentu saja. Tergeletak di belakang salon.” Serius dari bola matanya berkilat-kilat.
“Menurutmu, kenapa bisa berdarah?”
“Digunakan untuk memotong hewan atau semacamnya.”
Rio mengedepankan dagunya dalam perasaan menantang.
“Waw, sejak kapan kau memiliki semangat?”
“Sejak banyak keanehan yang kutemui darinya.”
Mungkin si surai hitam disampingnya adalah seorang yang bisa menerima fakta yang digeluti Rio. Bagaimana pun, kasus detektif adalah kesukaannya.
“Awas saja kalau ternyata tidak ada apa-apanya, kau harus men-traktir kami semua minimal air botol!” Kino mengancam.
Rio mengganti jawabannya dengan siulan.
“Kau memang menyebalkan! Membuat orang repot dari pembuktian bodohmu dan respon yang tak kunjung datang!”
“Sudah, diamlah! Suaramu merusak telingaku!”
“Salahmu sendiri berada disana!”
“Justru yang lebih menyakitkan itu suara kalian berdua…..”
Rio berdecak saat terpaan angin menyapu pipi kirinya.
“Mereka paling berisik dan kau yang paling diam. Sedangkan aku diantara kedua sifat itu.” Giunia tersenyum.
Ia tertengadah separuh mengerucutkan bibir.
“Ah, jangan-jangan kau tidak suka membahas sifat, ya?” Giunia menengok wajahnya sedang jari pemandu bicaranya membentuk gunting bergerak.
“Begitulah.” Ia mengaku.
“Ma-Maafkan aku!” Seruan itu bersamaan dengan semua kaki berhenti dan memandang bangunan yang telah disediakan.
Masing-masing dari mereka telah berebut tempat di belakang salon. Kenyataan pahit, gunting rumput itu menghilang, bersih dari jejaknya. Dahi Rio berkerut.
“Tentu saja, tidak mungkin ada disana terus.” Adhira mempersembahkan halaman kecil di depan pintu dengan telapak tangan dibeberkan.
Rio melirik ke kanan bawah, meredam kebodohan dalam hati. Pikirannya tidak sampai pada fakta enteng itu. Bodoh, bodoh, bodoh.
Namun hutan dapat menghilangkan keterpojokannya.
“Hah, dasar payah! Jangan sok misterius dengan bukti-bukti seperti itu! Bukan hanya dia satu-satunya manusia yang menghuni di tempat ini!” Kino merentangkan lengan, yang diajak bicara memeriksa semak-semak liar dengan gaya memasukkan dua tangan ke saku celana.
“Kau jangan memarahinya terus! Kasihan dia.”
“Kau pikir siapa yang lebih banyak memarahinya?! Di sepanjang jalan tadi?”
“Oke, aku mengakuinya! Tapi kau dengan sengaja menambah beban hatinya!”
“Kau yang lebih banyak menambahnya!”
“Aku akan minta maaf nanti! Dan kau, pasti tertantang untuk melakukannya.” Melipat lengan.
“Cih, cuma minta maaf? Siapa takut? Jika aku menjadi pemimpin disini, aku tidak akan membiarkan dia seenaknya memimpin.” Kino menyeringai jelas. “Sayangnya, kita punya pemimpin yang tak bisa menentang kerusakan itu. Payahnya…..”
Seseorang menjambak baju olahraga di punggungnya, mengeratkannya hingga mencekik.
“Kau mau bilang aku takut padanya?” Hadiah tambahan menekan punggung dengan kaki. “Diam-diam kau ingin mengambil kedudukanku!”
“Ak…. Aku…. Hanya bercanda!” Kino mengulur kerahnya. “Sakit!”
“Hukumannya terlalu sadis, Adhira,” bisik Meyrisa.
Kibas-kibas dengan lengan ke belakang. “Le-Lepaskan…. Kh…..” Dan jemari kakunya berupaya merenggut baju sang pemimpin.
Giunia tidak mengerti tragedi tiga serangkai itu, dan ia mencoba berpaling pada Rio.
Dia menonjok horizontal pada semak-semak tanpa di padu suaranya seperti ekspresi orang kesal pada umumnya.
Giunia tidak mau berbaur dengan orang-orang aneh. Ia menjadi penonton yang cemberut. Dan yang pertama kali terkesiap atas kehadiran si pemilik salon.
Meyrisa spontan menghadap Citrha. “Eh, apa kami membuatmu terganggu?! Maksudku, kehadiran kami hanya berolahraga semata, bukan melakukan hal-hal aneh pada salonmu! Kami berada disini secara reflek!” Menyelipkan setiap semuanya dengan gestur ala orang yang berusaha menyembunyikan sesuatu.
“Salah satu pelanggan di dalam salonku mengeluh tentang bentakan-bentakan yang kalianlakukan.” Citrha menunjuk ke belakang dengan jempolnya.
Tersenyum hambar, perlakuan Adhira berakhir dengan menendang punggung Kino. “Ah, maafkan kami karena sifat-sifat bocah yang masih menempel — kecuali aku, tentunya -. Rio membelokkan rencana berolahraga menuju kemari.”
Angin lain selain angin panas menimbulkan manik hitam miliknya membulat sempurna mengekor sosok Rio hanya beberapa detik. Tempat berhentinya tak jauh dari dirinya berdiri.
“Dia tidak mau menatap mataku. Kau lihat saja.” Hanya menyerongkan kepala ke kanan.
“Kenapa dia tidak mau menatap?”
“Aku juga tidak tahu.”
Mungkinkah ini ada hubungannya dengan permainan cinta? Giunia tidak bisa mengatupkan mulut kecilnya.
Target mendekat di tengah pembicaraan dengan Meyrisa dan Adhira. Rio merasa ada yang kurang dari perkumpulan, kepalanya menelusuri halaman.
“Apa yang kau lihat?” Pakaian olahraga Kino lebih dulu kotor dan dia seolah meratapi kejadian buruk penyebab itu jika terduduk dengan gaya menopang tubuh ke belakang.
Menyeringai sedikit.
“Cih.” Kino membuang muka.
Rio mengembalikan perhatian kala panas menyengat di punggung tangannya baru dirasakannya.
Lambat laun penampakan perempuan itu tidak terhalangi Meyrisa dan Adhira. Ia mengambil kesempatan. “Oh ya, beberapa minggu lalu aku melihat gunting rumputmu berdarah. Apa itu alasanmu tidak meminjamkannya kemarin?”
“Gunting rumput berdarah? Punya siapa?”
“Tadi ‘kan kubilang, aku melihat gunting rumputmu……”
Perempuan itu lebih dulu menetap pada bola matanya, Rio tinggal memfokuskan.
“Hei, kenapa pembahasannya menuju gunting rumput lagi? Kau juga Rio, selalu gunting rumput yang kaubicarakan.”
“Yah, sepertinya kau melupakan tujuannya mengajak kita kemari.” Adhira bersedekap.
Angin menjeda, dan terus menjeda pergantiannya dengan kepala berkecamuk mempertanyakan kegagalannya.
Mata itu sama sekali tidak mengartikan apapun. Di kunci rapat. Manik cokeat ke-oren-orenan yang datar oleh segala masalah yang seharusnya tersirat.
“Kau tahu benda sesuai fungsinya, ‘kan? Apa wajar aku membawanya kemari?” Lekukan bibir manis. Bisa serasi dengan tampilan khas pelayan-nya meski yang dipatoknya sama sekali bergeming.
“Sudah tentu tidak mungkin, ‘kan?” Mundur tertatih-tatih, tangan menyirip hormat diluncurkan satu kali. “Pelangganku sedang menunggu. Sampai jumpa.”
Rio merasa dibodohi. Bibirnya di tutup rapat-rapat.
“Hanya begitu saja? Maksudku, ini sangat singkat!” Meyrisa hanya mengikuti perempuan itu sampai tengah jalan.
Adhira mengusap-usap poninya. “Rio, seperti yang kutahu, dia berbeda dari yang lainnya.”
Bayangan hitam dari segala objek menyusut sedikit berganti arah. Ada serangga yang tak sempat tahu namanya melintas cepat di depan hidung Rio.
Dan orangnya, seperti yang Giunia amati, terpaku bersama lamunan.
“Dia memandangmu.” Giunia mencuri-curi pandang secara asal. “Apa artinya?”
“TIdak ada.” Membuang karbondioksida. “Aku gagal.”
.
-Tak memiliki nilai apapun-
.
Giunia mengeluh tentang suara berisik orang-orang dan kendaraaan. Juga tenggorokan mereka — Adhira mengatakan itu berulang kali — yang kehilangan mineral.
Mereka ke pinggir jalan berniat mencari pereda yang lain dari biasanya. Dan itu akan didapatkan sebentar lagi, dari deretan yang merekalalui.
“Kau masih ingat adegan yang kemarin? Uang Rio terkuras gara-gara mentraktir air botol.”
“Jika aku meminta juga, uangnya pasti sudah habis.”
Adhira merogoh sesuatu dari saku rok. “Si Kino itu memang menyebalkan. Aku tahu pasti kebanyakan dari kita tidak paham dengan tujuan Rio tentang gunting rumput dan Citrha.”
Giunia ragu untuk memberitahu. Tapi ia menyadarkan hatinya bahwa ini hanya sekedar bualan. “Rio bilang ingin bisa menatap mata Citrha.”
“Eh? Untuk apa?”
“Dia tidak menjelaskan.”
“Apa jangan-jangan dia mencintai perempuan itu?”
“Aku juga memikirkan hal yang sama.” Mereka berdekih pelan-pelan, dan Adhira melanjutkannya ke volume yang agak tinggi.
“Kalau hanya itu, seharusnya dia tidak membuat alasan tentang gunting rumput!” Adhira menepuk-nepuk bahu kanan Giunia berhenti menginjak keset ‘welcome’ cokelat berukuran kecil di depan pintu kaca kedai es kri, masih terkekeh. “Lagaknya seperti orang pemalu saja….. Dia memang berbeda dari yang lainnya. Hahaha…..”
“Haha….. dia memang anak aneh…..” Gumaman tawa yang di paksa dan suara turun tangga, Giunia lebih dulu masuk.
“Kau mau pesan es krim apa?” Dagu Adhira menunjuk tempat kasir.
“Apa saja yang penting rasanya cokelat. Aku ingin sebuah kejutan.”
“Kau akan mendapatkan sesuatu yang berbeda.” Mengacungkan jempol, lalu si surai merah jambu itu bersemangat menganteri.
“Kuharap.” Giunia berbisik — berharap, mencari meja yang lebih jelas menonton televisi yang menggantung di puncak tiang tembok itu.
Ia menandai meja yang dipilihnya — mendaratkan telapak tangannya. Menengadah berpaling pada televisi.
Berkat tayangannya, ia tidak reflek duduk.
Kenapa ia terbelalak?
.
-Aku baru saja menemukan sudut kode-
.
Rio bersikeras tentang penemuannya. Bahwa pekerjaan salon dan gunting rumput memiliki kaitan tersendiri. Baginya, pemiliknya begitu bodoh dalam berbohong.
Ia hanya diciutkan oleh ketidakpercayaan mereka.
Apa hubungannya gunting rumput dengan salon? Gunting rumput yang berdarah?
Di kamar remang tengkurap di kasur agak rapi, kapasitas cahaya laptop dan pintu setengah terbuka. Masih seragam sekolah — ia pulang lebih awal — karena seolah kekuatan magnet dan pikirannya cepat menghubungkannya pada komputer canggih ini. Untuk menulusuri seputar salon itu, bisa saja, memiliki informasi setidaknya satu artikel.
Rio menjalankannya baru kotak pencarian yang sudah memiliki muatan huruf-huruf, sebuah lingkaran biru di pojok atas penanda tab berputar-putar.
Dan kenyataan memperluas harapan pesimisnya.
Ada banyak judul entri. Ia memilih yang ketiga, “Hati-Hati Pada Bangunan Di Padang Rumput! Setelah Memasukinya, Ke…….” Kursor menekan kalimat berwarna biru itu, lalu judul itu di perjelas menjadi ukuran huruf-huruf besar. Mata membulat, tak berkedip dan terus melanjutkan.
.
-Yang nyata berada di bacaan-
.
Kino di atas meja samping kaca dan pintu, tidak paham tujuan arah pembicaraannya dengan Meyrisa yang sedang menjalankan tugas piket; menyapu.
“Apa yang membuatmu tidak mau minta maaf?” Mengangkat kaki meja, mengambil sekumpulan debu.
Ia merasa dewasa untuk itu, tapi pemojokkan itu menyihirnya menjadi bocah. “Tidak penting.”
“Haha, berarti kau kalah olehku! Kenapa kau sebegitu lemahnya?”
“Dia tidak marah.” Menyeringai. “Aku akan menunggunya sampai dia bermusuhan denganku. Lagipula, dia sendiri yang gila, memperbudak kita diimajinasinya.”
“Yah, bagaimana pun, kita telah salah memarahinya!”
“Itu wajar, dia yang seharusnya meminta maaf pada kita!”
“Melempar kesalahan pada orang lan ternyata ciri dari seorang Kino……….”
“Apa?! Aku bukan orang yang seperti itu!” Melipat lengan. “Sejak kapan kata ‘maaf’ itu jadi perlombaan?”
“Ini hanya tes keberanian……”Kino tidak suka diremehkan dengan seringaian itu.
“Segala perdebatan membuatku seperti anak kecil, kau tahu.” Menghempaskan tangan yang dilayang-layangkan selama berucap kalimat tadi. “Aku selalu lupa umurku, jadi kurasa ‘aku’ tetaplah ‘aku’………..” Ia bingung kemana perginya arah perkataan. “Kesimpulannya, jangan perlakukan aku seperti ini.”
Ia baru mengetahui sebuah titik kesalahan. Meyrisa berhenti menyapu, tidak menyambut kata-katanya, terfokus ke bawah lantai.
“Oi!” Kino mengetuk meja dengan jemari. “Tidak biasanya kau bengong begitu.”
“Yah, aku baru ingat sesuatu.” Dia mengarah padanya dengan lekuk jemari menempel ke dagu. “Rio, dia itu, memang anak yang aneh.”
“Aneh apanya?”
Melanjutkan pekerjaan. “Seorang temanku pernah bercerita, dan yang dikatakannya memang terbukti! Ya ampun, aku benar-benar terkesima!”
“Cepatlah, jangan membuatku penasaran!”
Dia melalui depan papan tulis untuk mendekatinya. “Soal matanya.” Raut serius. “Dia punya kemampuan membaca pikiran orang lain.”
Dahi Kino berkerut. “Apa bagimu itu istimewa?”
“Tentu saja! Bisa saja segala kecurigaan itu berasal dari matanya.” Nada menurun.
“Hei, sebenarnya kau sendiri bisa memiliki kemampuan itu. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti gerak-gerik wajah……”
“Tapi dia bisa menerka secara langsung! Bukankah itu aneh?” Meyrisa melontarkan puncak perasaannya pada lantai.
Kino mengingat ketika perdebatan soal gunting rumput di restoran, Rio mengkritik setelahnya. Meski bukti itu sudah dialaminya, untuk rasa percaya, entahlah.
“Dia sudah terlatih.”
“Kau tahu, aku menyesal telah melupakan itu.” Meyrisa tampak murung.
Jika tingkahnya seperti warga miskin yang memberontak ketetapan keras dari pemerintah, sudah dipastikan tampilannya seperti orang bodoh bila menyadari kebenaran dan ikut menyesal. Ia hanya tidak mengerti.
“Itu artinya, gunting rumput berdarah yang dikatakannya itu benar!” Seruan membuat Kino bergidik, imajinasinya terlalu jauh menggambarkan itu.
“Aku mau melihat buktinya saja…”
“Aku juga berpikir begitu. Tapi tidak ada salahnya percaya dulu.”
Tiba-tiba perutnya sakit memintanya pergi. “Ya, sudahlah. Aku kurang peduli. Lihat saja nanti.” Kaki kanan di juntai ke bawah dan menjadi tumpuan. “Aku lebih dulu pergi.” Keluar kelas, agak cepat menjauh.
“Jangan lupa minta maaf!”
.
-Fisik juga merupakan bukti-
.
Rio penasaran pada istilah ‘menghipnotis diri sendiri’ yang berasal dari kekeliruan seseorang di beberapa film, ia melakukannya bersama cermin. Apa yang sedang dialaminya saat ini, ia ingin bisa menebak.
Titik tajam pada bola mata hitamnya sudah tepat kalau saja handphone yang terdampar di kasurnya tidak bergetar. Ia sudah berkedip, maka acaranya selesai.
Pesan dari Giunia yang menyuruhnya datang ke restoran.
.
Semuanya masih berseragam sekolah seperti dirinya. Restoran di tutup, ia heran, tapi tidak berniat bertanya.
Rio mengulur tangan ke belakang menutup pintu tatkala Giunia menghampirinya. Dia seperti berhasil meraih keyakinan.
“Kemarin di kedai es krim, aku melihat berita siaran menampilkan tempat itu dan mewaspadainya sebagai bangunan yang misterius.” Tersenyum. “Jadi kurasa, aku percaya.”
“A-Aku juga!” Meyrisa melakukan hal yang sama. “Aku tahu, kau punya mata yang istimewa! Semua dugaanmu itu benar! Aku ingin mengikutinya.” Dan senyum yang sama.
“Terima kasih.” Padahal ia lebih suka mendapat pujian ‘berkat bakat detektif-mu’, setidaknya itu akan menambah lengkungan bibir.
Pujian itu melambung di khayalnya dan membentuk senyuman tanpa sadar.
“Sekarang, apa yang akan kitalakukan pada salon itu?” Kakinya melanjutkan langkah bebas dan mereka menyisi. Meja-meja di tumpuk — di tempel dekat tembok tak beraturan. Kursi-kursi dijadikan penambal rongga kosong.
“Hei, kenapa kau bilang begitu?” Meyrisa berdesis.
“Bisa saja dia akan membentuk rencana dan aku ingin membantunya.”
“Ah, betul juga. Jadi, semua yang berpihak harus membantunya!” Meyrisa di belakang mengepalkan tangan, ia meliriknya. “Siapa yang percaya pada Rio?” Mekar cepat menjadi angkat tangan.
Kino duduk di bangku satu-satunya yang melingkar dengan kaca pembatas penjual — pembeli, bertampang sebal. “Aku ragu kalau kau punya kekuatan itu.”
Lalu Adhira, di kursi restoran — di tengah condong ke tumpukan meja-meja. “Aku tidak melihat berita di tv-nya.”
Meyrisa ambil bagian antara Rio dan dua orang yang duduk. “Baiklah, jadi jumlahnya tiga banding dua! Kubu kita menang!” Rio tidak tergubris bahkan oleh kepalan yang ditambahkan.
Kino berdecak, “Lagi-lagi, jadi perlombaan. Memangnya, apa tindakan selanjutnya?”
“Hah, itu bisa diketahui jika kau mau memercayai! Rio punya jutaan ide bagus!” Lengan yang meninggi itu nyaris memukul kepala Rio dan ia memutuskan untuk menyingkir.
“Coba tunjukan.”
Meyrisa mencari-carinya sekilas. “Ayo, tunjukan rancangan awalnya.” Ia menepis ketika gadis itu merenggut bajunya, mendorong ke depan.
Rio miskin ekspresi seperti biasanya. “Ya, aku memang ingin melacaknya lebih dalam. Dan sudah memikirkan peran-peran kalian semua.” Hanya khayalan singkat yang kemarin-kemarin.
“Bagaimana?” Meyrisa menjulur tubuhnya sambil berkacak pinggang. “Dia keren, ‘kan?”
Kino buang muka.
Di sisi kanannya, Giunia mendongak. “Apa peran-perannya menimbulkan tantangan?”
Ia senang seseorang memedulikan pembahasannya, “Tantangan yang besar — bagiku -.”
“Dan berbahaya?”
“Itu bisa dirasakan ketika mencobanya.” Rio tidak bisa memperkirakan berhasil tidaknya. Cacian sepuasnya jika gagal.
“Beritahu peran-perannya!” Giunia membesarkan volume, dan itu mulai ‘ditebali’ oleh yang berisik. “Oh ya, peran-perannya! Aku jadi apa?”
“Bagaimana denganku?”
Mereka berdua unjuk diri dengan menghalangi dirinya lagi. Rio mengeluh tentang itu dan terperanjat oleh Adhira yang bangkit.
“Jangan menuduh seperti itu.” Ia salah dengan mengira Adhira ikut bergabung. “Dia bukan orang jahat!” Rio tidak peduli pada resiko, ketika aura penolakan tiba, ia bersikap biasa.
“Kalian juga, kenapa bisa tiba-tiba setuju? Oleh petunjuk sekecil itu?”
“Ini tidak sekecil pikiranmu! Berita itu benar-benar menjelaskan semua yang diselidikinya dan menampilkan gambarnya, itu yang paling membuatku kaget!”
“Dan soal mata Rio juga, itu benar-benar nyata! Coba saja kalau kau mau.”
“Itu hanya bagian luar!” Memutar tubuh. “Kino, bagaimana denganmu?”
“Aku tidak ikutan.”
Adhira berjalan gontai, mendekat, “Aku tidak mengerti semua rencanamu. Waktu kita terbuang sia-sia. Aku tahu kau membutuhkan orang untuk memajukan rencanamu, tapi tidak baik meruntuhkan orang lain.”
“Meruntuhkan orang salah itu benar!” Meyrisa berapi-api.
Rio mengambil langkah lain — ke pinggir — untuk mengelak sekumpulan. Mungkin yang tidak diinginkan Adhira adalah kesibukan. “Tenang saja, kau sebagai pemberes yang datang terakhir.”
“Maksudmu?”
“Orang yang datang terakhir untuk menyelamatkan.”
Adhira termakan oleh perannya, berpikir, “Yah, yang kalian percaya bisa kuketahui.” Dia menuju tembok, di sisi kiri, bersandar.
Meyrisa mengacungkan tangan. “Kalau aku, apa peranku?”
“Kalian berdua.” Menunjuk bergiliran; Meyrisa dan Giunia. “Salah satu dari kalian jadi umpan.”
Saling pandang. “Eh, kenapa begitu?”
“Jadi kita datang lebih awal?”
“Ya.” Pertanyaan Giunia lebih dulu direspon. “Yang hanya menjadi ‘pengantar’ berjaga saja di luar.” Itu sudah cukup hingga mereka mulai berunding.
Tinggal satu orang lagi yang belum diberitahu. Alih-alih orangnya beranjak, di tengah aksinya menghampiri.
“Untuk hukuman dan bentakan waktu itu, aku minta maaf.” Dagu Kino seperti menantangnya, namun setelahnya berpaling tak suka, sekilas. “Tapi, aku masih tidak bisa percaya.”
Rio menguap bosan pada setiap pertentangan yang tak ada lukanya. “Kau menjadi orang yang menyelamatkan umpan.”
“A-Apa??! Bagaimana kalau, maksudku, bagaimana jika, er……” Rio sabar menunggu. “Bagaimana kalau tidak terjadi apa-apa, kau mau mempermalukanku. Begitu?”
“Yah, hanya itu pilihannya. Menguntungkan juga, jadi hanya mampir saja.” Rio menengadah mencari-cari jam dinding sembari menggaruk tengkuknya. Masih siang untuk melakukan segalanya, ia bisa menjalankan rencananya sekarang.
“Kalau kau, apa tugasmu?” Ia menoleh pada Giunia selama beberapa detik tidak ada jawaban.
Mereka semua menunggunya berbicara.
“Aku, ya…….”
.
-Yang akan dibuktikan bersama-sama-
.
Giunia mengeluh pada orang yang sesekali mendorong punggungnya untuk memimpin ke halaman salon sepi itu.
“Selamat jalan.” Dua telapak tangan itu dilepas, Giunia berdiri ragu. Pintu yang tak terbuka itu, contohnya. Menghalangi orang-orang untuk tahu cara Citrha melayani pelanggan terhadap rambut mereka.
“Aku takut terjadi apa-apa di dalam.”
Meyrisa melompat untuk berdiri di depannya, memunggungi pintu. “Tenang saja, ‘kan ada aku. Dan Tuhan.” Senyuman penyemangat. “Ayo, kau pasti bisa!”
Giunia menyalurkan motivasi itu ke dalam hatinya, lalu menelan ludah. Tanpa diminta, Meyrisa mengetuk-ngetuk pintu ala dirinya.
“Permisi!” Teriakan terakhir.
Ia berpegang pada keberanian ketika timbul bunyi kunci. Suara decitan pintu dan Meyrisa yang mundur mempersilahkan.
“Ada yang bisa kubantu?” Sela pintu ditutup setengah tubuh.
“Aku ingin bagian bawah rambutku yang bercabang dipotong.”
“Ah, ya. Silahkan masuk.”
.
Rambut menjuntai ke bawah, diluruskan dengan di sisir. Di tengah itu, ia akan melaporkan hasil pengamatan yang menggunakan keterangan berdasarkan asumsinya sendiri.
Empat patung kepala yang kentara dengan manusia sungguhan. Menggunakan besi hitam yang menusuk ke dalam. Jika seandainya itu berasal dari manusia, tidak mungkin akan selalu baik dan sempurna layaknya patung. Kecuali, jika alat seperti pengawet mampu melakukannya. Lalu lemari berisi kotak-kotak kecil itu seolah tidak laris karena tidak memiliki perubahan apapun di dalamnya.
Dan juga semuanya. Sama seperti terakhir kali Giunia kesini.
Mungkin memang jika diingat berulang, letak salonnya sendiri tidak menarik pelanggan lain. Jadi, untuk apa ditempatkan sepi?
Giunia baru menyadari rambutnya tidak kembali diurus, meraba reflek kepalanya. Pantulan cermin mengatakan Citrha menghilang.
Punggungnya lepas tegak tetap, hanya meliuk-liukannya ke samping dua arah. Mungkinkah sedang mencari perlengkapan rambut untuknya? Ia baru ingat bahwa itu telah ber-saf di atas meja. Sisir potong, gunting kecil, dan jepit bebek stainless.
Terakhir kali mulutnya hendak menutup, sebuah kain membantunya seperti itu. Hal yang lebih mengagetkan juga dikatakan cermin. Pisau dapur yang menjurus ke lehernya menjadi ancaman perlawanan.
“Maafkan aku.” Pandangan kosong, diwarnai senyuman miring.
Sekarang ia mengakui; Rio benar tentang penyelidikannya.
Berganti itu, ucapan, “aku tak punya teman” dan rasa kasihannya pada orang ini lambat laun membelalakkan matanya, tak percaya.
Juga sebagai umpan, skenario yang direncanakan benar-benar terjadi.
Tuhan adalah sandaran penolongnya saat ini, bukan Meyrisa.
Pergelangan tangan dirangkum ke belakang, disuruh beranjak. Mengarah pada pintu belakang, apa yang akan dilakukan Citrha disana?
.
Kino dan Adhira mengambil bagian terakhir, masih di dalam restoran, tempat orang-orangnya saja yang berbeda.
Kino memerhatikan mulut pintu yang menampilkan awan oranye. “Tiba-tiba sekali, sih. Aku sangat tidak suka.”
“Ya, padahal bisa besok. Salon itu lumayan jauh.” Adhira mengalirkan jus tomat ke gelas di balik kaca pembatas itu.
“Apa yang merekalakukan disana? Jangan-jangan hanya main-main.” Sinar merambat melalui berbagai celah dan dari ambang pintu yang lebih mendominasi. Cahaya abstraknya menyentuh kaki Kino. “Kau harus bertindak jika itu terjadi.”
“Tentu, karena dia telah membuatku berdebar-debar.”
Alisnya datar. “Ini bukan masalah percintaan.”
“Memang bukan!” Keluar dari tempat bersembunyi, meneguk jus. “Aku ingin tahu seberapa besar tantangan yang akan kuhadapi nanti.”
“Jadi kau percaya padanya?”
“Hanya bayanganku saja.”
“Kalau tidak terjadi?”
“Aku akan membuatnya. Jalan-jalan ke hutan!” Mengepalkan tangan, lalu meneguk jusnya.
Segenggam kotak hitam bersuara serak sebagai panggilan awal. “Kino, cepatlah kau datang.”
“Aneh sekali, yang bicaranya si Rio.” Kino mengejek sambil berdiri.
“Apanya yang aneh? Dia yang mengendalikan semuanya.”
Melangkah keluar diterpa cahaya. “Aku disuruh menyelamatkan umpan. Apa dia juga jadi umpan?”
“Ah, aku tidak mengerti.”
Kekurangan mereka hanya satu. “Motornya hanya ada satu.”
.
“Anda kurang beruntung.” Rio bangga; jejak darah dari belakang salon yang terus menuntun sampai kehadapannya dan kepala manusia sebagai titik akhirnya, pancingan yang sukses.
Dia membuang muka, terlebih setelah melihat ke bawah. “Bercak-bercak darah itu tak ada gunanya!”
“Tapi kau suka, ‘kan?” Pandangan jatuh ke bawah. “Salah satu benda itu kutemukan di semak-semak dekat salonmu.”
“Kau menuduhku, begitu?”
“Sekarang, ya.” Rio berhasil menemukan titik lemah — rahasia tersirat dari matanya.
“Secara sengaja, aku memang membukanya.”
Alis Rio terangkat, “Membukanya?” Bergumam.
“Kau memang memiliki mata yang terlalu fokus.” Senyuman jahat yang masih tetap utuh bertahap membuka mulut tajam gunting rumput yang menganga di depan lehernya. “Boleh aku mengambilnya?”
“Sepertinya itu agak sulit.” Gunting rumput miliknya yang mulutnya merapat — masuk — dibenturkan untuk dijauhkan.
“Wah, punya gunting rumput juga. Sepertinya ini akan menyenangkan.”
Untuk serangan yang pertama, gunting rumpur dibenturkan.
.
Kino berlari agak serius dari padang rumput — daerah pinggir salon — meninggalkan motor dan si pemilik motor.
Memastikan kebenaran yang ternyata memang benar.
Jejak darah berasal dari teras semen menuju ke hutan. Kino bertanya-tanya tentang itu, tapi ia tidak mau ditakuti hasil penemuannya.
Pintu didepannya dicoba didobrak, meski mungkin saja hal dasar dari jejak-jejak itu berada di dalam, dan itu menakutkan.
Bahu kirinya berulang kali menabrak pintu putih polos itu. Ia mengumpat tentang kelemahan dari pintu kayu. Tapi kala tangannya memeluk gagang pintu, ia baru merasa betapa bodoh dirinya.
Di lantai gudang remang ini, jejak darah itu menghilang. Gantinya — yang menarik perhatian — adalah dua kotak tersusun vertikal yang bergetar.
“Giunia, apa kau disana?”
Satu kotak terjatuh. “Ki-Kino!”
Mendekat secara reflek. “Apa yang kaulakukan disini?” Ini seperti di dalam sinetron. Anehnya, kaki Giunia tidak diikat, hanya kedua tangan di belakang.
“Rio benar. Ada sesuatu yang aneh dari Citrha.” Dia mendesak bergeser ke pinggir untuk menunjukkan punggungnya. “Tolong lepaskan ikatannya.”
Tangannya siap mengotak-atik tali. “Kalau kakimu tidak diikat, kenapa tidak melarikan diri saja?”
“Pisaunya menahan leherku.”
Kino baru teringat pintu. Secara bersamaan seiring kepalanya memutar, otomatis pintu tersentak menutup.
Salah satu cirinya, bingkai besi yang membelah pintu itu yang menggerakannya.
“Cih, kita dikunci dari dalam.” Kino menambah tenaga ketika berjalan; menghentak-hentak. Macam alat — salah satunya kayu — dipungut untuk menumpas besi hitam itu. Dilakukan dari atas, irama tak mengenakkan saling beradu.
Giunia menutup kuping hingga besi itu kalah oleh kayu balok.
Usaha Kino selanjutnya; menarik pintu ternyata sia-sia. Pasti ada alat otomatis lain yang menjebak di luar.
Sementara ia pegang pikiran itu jika tendangannya dalam menyalurkan kekesalan sama sekali tidak berguna.
“Ah, pintu sialan! Keluarkan kami!” Sepatunya bergantian menubruk bawah pintu dan ia nyaris saja menambah tangan hingga terlihat berkelahi dengan pintu.
“Sudahlah, kita cari cara lain!”
Kino takluk dari kebodohannya, padahal di pinggir sela pintu, ia tidak menemukan apapun.
“Pasti ada seseorang yang menarik gagang pintu di depan.” Percuma saja. Menariknya rasanya seperti dikunci.
Terakhir kali ia melakukan perlawanan sebelum bersepakat dengan Giunia yang telah menemukan pintu lain.
Berulang kali Giunia memainkan gagangnya. Pintu yang satu ini memiliki corak lain seperti persegi panjang vertikal yang mengisi badannya. Pintu yang kuat.
Dia mengintip ke sela bingkai. “Pintunya dikunci.”
“Ah, yang benar saja!” Kino beralih satu kaca besar dekat pintu. Serta merta Giunia menghalanginya.
“Meyrisa! Meyrisa!”
Ia menyipit mencari sosok yang dipanggil. Seperti yang mereka lihat, Meyrisa mencari-cari seseorang dengan keluar dari garis batas halaman, maju-mundur satu langkah, lalu sedikit menjauh.
“Dasar bodoh.”
.
Aku memang membukanya.
Rio bertanya-tanya tentang pernyataan itu di tengah perkelahian tak masuk akal. Apa lensa matanya memiliki corak yang berlainan dari orang-orang? Atau…..
“Kau bisa membaca pikiran orang juga.” Hanya gumaman dengan bola mata kagum.
Dia mengangkat ke samping seperti menggunakan pemukul baseball. “Hah, baru tahu, ya!” Menghantam nyaris mengenai kukunya. “Aku sengaja menangkap umpanmu dan membuatmu berpikir rencanamu berhasil! Lalu kita bertemu dan berkelahi, itu sesuai rencanaku juga!”
Rio hanya menggunakan sisi tajam air mukanya sebagai ungkapan tak percaya. Kedua gunting saling mendorong di tengah tubuh mereka. Dia semakin bahagia sedangkan dirinya mulai menutup segala yang bisa mengungkap melalui mata.
Berarti, bukan hanya membaca pikiran saja. Kontak halus secara berjauhan pun mampu dilakukan perempuan ini!
“Ini yang kautunggu-tunggu setelah mereka semua percaya! Padahal orang sepertimu sebenarnya bisa melakukannya sendiri!” Dia lebih dulu membuka gunting dan Rio mengikuti. “Mereka semua merepotkan!”
Dia berhasil terbanting ke salah satu pohon, masih saling menekan. Perempuan itu hampir kalah karena tangannya yang lain bersembunyi agak ke samping di kiri.
Bersembunyi untuk menekan-nekan sesuatu semacam tombol-tombol yang tersusun aneh.
Rio meluncurkan kakinya untuk menangkis benda itu ke tanah. Berhasil terjatuh namun keseimbangannya goyah, tubuhnya terdorong ke samping depan. Kemudian, benturan yang menusuk membantunya semakin ke bawah dan ia sedikit mengerang. Kotak yang terselip anak-anak rerumputan itu dimusnahkannya dengan kaki dilengkapi kaki gunting untuk selanjutnya.
Semacam remote control telah menguak organ dalam; kabel-kabel kecil dan kotak hijau berbintik.
“Selamat, kau membunuh teman-temanmu. Ada dua orang yang terjebak disana.”
Kali ini Rio menunjukkan mata terbelalaknya, menoleh pada pusat — bangunan salon -. Beberapa detik, pelan-pelan asap mengecil meluncur di udara.
.
“Adhira! Adhira!” Kino memanggil mengarah ke kiri. Api hanya menyebar ke bagian sisi, ia berdiri di tengah ruangan tidak terluka.
Talkie di saku celana — dipinggirnya, memulai panggilan dengan suara serak lagi, lalu dapat berteriak, “Kebakaran! Kebakaran!”
“Aku tahu karena terjebak di sini, bodoh!” Menonaktifkan, mengembalikannya lagi ke saku. “Tadinya kukira dia terjebak di sini. Dari tadi perintahnya seperti seruan yang harusnya kaumiliki. Aneh.”
Giunia berjongkok, masih di sana, mengharap satu-satunya orang yang tersisa di luar membalikkan badan.
“Lagipula, ke mana si Rio pergi?” Mendekat santai.
“Aku tidak tahu.” Giunia memeluk lututnya. Dari helaian rambut panjangnya, Kino dapat mengartikan ekspresi cemas. “Kita terjebak di antara penolong dan penjahat.”
Benar. Pemilik salon itu pasti menumpahkan minyak di pinggir bangunan, lalu anak korek api meneruskan. Menuruti asumsi, Kino membatalkan niatnya menghampiri kaca.
“Jangan kau kira aku akan mati! Membakar tempat kerjamu itu tak ada gunanya!” Ia melempar benda-benda sekitar yang belum rusak, berpikir supaya api mereda. Api memang lebih banyak terkoar di tembok yang digunakannya meneriakkan Adhira tadi.
Kotak besar yang seperti Pandora terbuka tak terjaga menggambarkan kegelapan. Kino akan mengambil segala isinya yang akan membuat si pemilik menyesal.
Namun tubuhnya malah terhenyak oleh teriakannya sendiri ketika memegang salah satu bendanya.
Kepala manusia. Tumpukan kepala manusia.
Tingkahnya menjadi membisu.
“Adhira!”
.
Di sebuah kedai sederhana, seorang perempuan menyantap makanan.
“Aku senang perjalananku membuahkan hasil……. Umm, nasi gorengnya enak!”
“Terima kasih.” Perempuan berambut pendek dikucir ke bawah di dalam kedai tersenyum. “Darimana kau berasal?”
“Yah, bagaimana mengatakannya, ya….. Pinggir jalan, atau apalah itu.”
“Apa kau mengenal kobaran asap itu?”
“Dimana?” Langit yang bernoda itu langsung ditemukan. “Ah, sial! Apa itu salon?”
“Memangnya ada salon di daerah ini, ya?”
Meneguk air putih didekatnya. “Aku harus cepat-cepat pergi! Apa kedaimu memiliki alat pemadam api?”
“Eh?”
.
Sepatu Rio untuk tumit hampir mencium garis yang selanjutnya melongsorkan ke jurang.
Maka ia menekuk jenjang kakinya untuk sedikit memberinya keluasan dengan menjauhkan perempuan itu ke tanah luas.
Tapi Walkie di sakunya terlempar keluar dan mencium tanah.
Rio tidak kerugian karena semua informasi telah terwujud.
Dia malah melakukan hal yang sama seperti Rio, merusak benda kotak. Lalu ditendang menggelinding tak diketahui pemberhentiannya.
Posisi yang sama mengingatkannya pada pukulan siku lengan. Kaki Rio yang kembali dijatuhkan berniat diangkat untuk menendang punggung yang membungkuk itu, tapi kedudukan jenis akan menjadikannya lebih pengecut dari sekarang ini.
Berkat keraguannya, dia merenggut kuat celana dekat kakinya, menariknya ke bawah dengan kasar.
Rio kehilangan keseimbangan.
.
Giunia menemukan sebuah kesalahan setelah sadar dari pikiran kalutnya.
Salon itu tidak terbakar!
“Kino, kita ke salon saja!”
Kino sudah berjongkok di sampingnya sebelum kepalanya hendak berpaling lebih dalam. Ia terhenti dalam tatapan.
“Sudah sepertiga api melahap!”
Dengan mata mereka mencari benda utuh.
“Itu dia!” Kino lebih dulu menemukan menghampiri sebuah balok kayu sepanjang pintu.
Kino mengangkatnya dan kembali ke tempat, “Ada apinya!” ia memberitahu.
“Tenang saja. Aku akan mendobrak kaca itu.” Ambil kuda-kuda. “Menyingkirlah!”
Sedikit jeda mengagetkan. Giunia berteriak seiring kaca kedua yang terbakar meledak.
Tidak meledak seluruhnya.
“Bersiaplah!” Kayu balok berekor api menembus kaca disertai suaranya yang lebih meledak.
Kino menjauhi pecahan-pecahan yang berhamburan di lantai. “Lewat sini. Ayo, cepat!”
Masih ada bagian yang runcing dan keretakan bagian atas yang dikhawatirkan menusuk punggung. Ini seperti film action, versi berbahaya, tanpa rekayasa.
Potongan kaca dari atas terjatuh. “Apa yang kautunggu? Cepatlah!”
“Bingkainya tidak sepenuhnya berlubang.”
“Tentu saja tidak karena kita didesak api!” Dia menarik tangan Giunia. “Aku akan ke sana setelah kau.”
Kalimat terakhir seperti hendak bertarung dengan maut. Giunia mulai memiliki tekad kuat. Mendekati pecahan kaca, lebih dulu menjulurkan kaki kanan, lalu hati-hati dalam melompat.
Salon sepi yang mendapat bantuan sinar sore hanya dari kaca depan. Meyrisa melambaikan tangan di dalam ruangan — menghalangi sinar kaca.
“Meyrisa!” Giunia hendak berlari, tapi teguran pelan, “Jangan mendekat,” membatalkannya.
Beberapa busur tajam mengkeriting sebesar busur di perkakas sekolah melesat di lantai dan tembok, kecepatan sedang.
“Itulah sebabnya.” Meyrisa terlihat menahan keinginannya berteriak.
Mendekati Meyrisa berarti harus bertempur dengan busur-busur tadi?
“Hei, kau harus menyingkir sedikit!” Ia baru mengingat Kino di belakang. Masih di dalam ruangan itu.
“Aku akan melompat!” Benar-benar melompat, melayangkan tubuh sampai lepas landas merosot ke depan.
“Hati-hati, kau bisa menyentuh api dari kayu itu!” Sejarak sejengkal kepalanya mendarat; berhenti. Busur-busur itu melintas lagi dengan kecepatan sebelumnya. Ia beruntung kakinya sempat diangkat.
Kino mendesah lega membuat api agak meliuk. “Hampir saja. Tapi baunya itu banyak kuhirup!” Bersusah payah terbangun sambil menutup hidung. “Heh!”
Dua kali busur-busur melaju.
“Awas, Kino!” Di dorong pada lantai yang kosong di belakang.
“Ada apa?”
Jeda yang tak begitu lama, busur-busur itu kembali muncul. “Apalagi ini?!”
Busur-busur lagi.
“Ah, kalian itu! Busur-busur itu sensitif suara teriakan!” Meyrisa yang mengatakannya. Maka kecepatan busur-busur bertambah.
Mereka berjingkrak karena kaget menuju petak lantai yang tak beralur busur-busur itu lagi. Menahan diri untuk tidak berteriak.
Giunia ingin melihat kondisi di tengah napas memburu. Meyrisa berganti tempat namun tetap di samping kaca-kaca dan Kino meniarap lutut, berjauhan dengannya, dalam jarak cukup jauh; dia selangkah di depannya.
“Aku akan memecahkan kaca itu pakai kayu itu juga.” Menghampiri kayu yang sudah berukuran setengah pintu.
“Pintunya dikunci otomatis!” Giunia terbelalak pada seruan Meyrisa lagi, busur-busur berhamburan, salah satunya membelah kayu.
“Ah, kau ini! Kenapa berteriak? Aku sudah tahu makanya ingin kupecahkan!”
“Kau mau membuat suara menggelegar seperti saat kau memecahkan kaca itu, hah?”
“Itu hanya terjadi satu kali! Suaramu itu yang menghasilkannya berulang kali!”
“Jadi kau menghinaku?!”
Hujan busur.
Mereka berdua masih saling memaki meski sambil menari-nari di tengah bahaya. Giunia memandang ke bawah, perhatiannya ke sana. Tapi gara-gara Kino yang berteriak karena bahunya tersayat busur di tembok, kepalanya terlambat untuk menonton kakinya.
Untung saja garis petak lantai tidak tertutupi kakinya ketika busur itu lewat. Napas Giunia tertahan.
Ia terkejut oleh jumlahnya yang nyaris hampir di segala garis petak lantai, namun secara vertikal. Yang lebih mengagetkan lagi, lemari kaca ambruk seperti bom gara-gara busur-busur terus merusaknya. Meyrisa yang paling histeris mengingat posisinya.
Memang semua benda sudah kacau kecuali meja make-up, tempat persalonan terjadi.
Petak-petak lantai yang sejajar dengan meja itu memang tidak memiliki busur-busur kecuali bagian tembok.
“Hwaaa, bagaimana ini?!”
Mereka sudah dalam posisi diam berdiri seperti dirinya, hanya searah dengan sebaris deretan petak lantai.
“Hei, lemari itu dalam posisi yang aman!” Giunia menunjuk.
“Betul juga. Dari tadi aku sejurus dengan lemari itu, hanya menghindar dari tembok!” Meyrisa agak membungkuk, busur yang cukup cepat hampir memotong rambutnya.
Mereka dikejutkan oleh busur-busur bersamaan secara horizontal, pertama berlayar di depan Meyrisa.
“Lemari itu benar-benar tidak disentuh!” Giunia diberi pemahaman lain. Meyrisa menuju meja itu, berjongkok di sampingnya. Sementara ia dan Kino diberi kesulitan dengan hamburan serpihan kaca dari lemari.
Lebar meja menempati empat petak. Yang ketiga kosong antara ia dan Kino. Hanya sedikit terjamah sepatu lelaki itu saja.
“Dia tidak menghancurkan bagian lemari ini karena ada patung-patung itu.” Ia dapat merasa; mereka berdua ikut menengadah.
Kino mengangguk.
“Ah, masa’, sih?”
.
Kibaran angina menambah kemakmuran perempuan yang berdiri dengan berani bersama senjatanya, tertawa keras.
“Apa kau sudah mati?” Rio tidak terlihat lagi. “Kau menggelinding terlalu jauh, ya? Kasihan, pahlawan keguguran.”
Gelak tawa itu terhenti di tengah jalan, seseorang mencolek bahu dengan ujung gunting.
Rio kembali sambil membenahi napas terputus-putus, tangan pegal akibat memanjat dicoba digerakkan, permukaan wajah memiliki tiga sayatan dan rambut yang berantakan.
Ia memang terjatuh cukup jauh dan itu kesempatan bagus untuk menyelinap, seperti usahanya ini.
Perempuan itu geram, “Kau membuatku muak!” Kepalan melayang, Rio berpaling keras, terhuyung-huyung ke samping. Tenaganya sedang terkuras gara-gara kembali ke sini.
Menyambut salah satu pohon dengan mencakar, tertahan di situ.
Ceritanya tidak akan selesai jika gunting rumput saling beradu dan seperti itu terus hingga menunggu salah satunya rusak. Ia ingin mengakhiri dengan cara biasa; perempuan itu angkat tangan lalu kedua tangan diikat.
Tapi dia tidak senang diam. Sesuatu harus menghentikannya.
Ujung gunting rumputnya membongkar kulit batang pohon yang cukup kecil di antara pohon lainnya — di bagian belakang untuk ditebang. Pukulannya tidak begitu teratur, sesuai ukuran tenaga yang terkadang muncul.
“Apa yang kaulakukan? Sedang mengasah guntingmu?” Dia mendorong bahunya kasar, Rio mempertahankan pijakan dengan menggeser kaki kearah berlawanan.
“Kita tidak punya waktu, jangan lakukan itu!” Gunting rumput beradu seperti pedang lagi. Meladeni itu lalu kembali pada pohon.
“Lawan aku! Apa kau mendengarku!” Besi gunting membentur tulang lengan, itu tidak membuatnya menyerah.
Pohon ini harus seperti khayalannya.
“Jawab aku!” Dia keluar dari hutan supaya bisa berhadapan dengannya yang justru bersembunyi di badan pohon. “Kau membuatku kesal!” Tendangan untuk pohon.
Tatkala sedikit berputar ke pinggir untuk dikelupas juga, guntingnya terpisah. Salah satunya ia gunakan.
“Haha, kau kalah.” Gunting rumput yang lain mengancam leher. “Masih mau melawan pohon?”
Berdecak, gunting cacat miliknya menghindarkan gunting itu, cukup jauh. Badan pohon itu sudah cukup dikorek, tinggal takdir alam yang menentukan.
“Aku ingin membuat gunting ini menjadi ringan.” Ia mengangkat gunting yang diremehkan itu sejajar dengan kepala perempuan itu.
“Kita buktikan kehebatannya!” Diarahkan ke lehernya lagi. Mereka berputar berganti haluan yang berlawanan, Rio kembali tersudut. Beberapa langkah hendak ke bibir jurang.
Takdir alam harus menentukannya. Rio sudah searah untuk bagian pohon kurus itu.
“Aku tidak akan mengizinkanmu terjatuh meski kau menginginkannya.” Lambat laun, ia mengecilkan jarak langkah mundur. “Aku meminta kepalamu dulu sebagai ganti dari salonku.”
Gunting itu mendorong kepalanya, sedang gunting miliknya tidak akan bisa mencegahnya lagi.
“Aku jamin kepalamu tidak lebih dulu terjatuh. Memang sebaiknya kau mendekat sedikit.”
Lebih condong ke belakang, ia tahu itu. Resiko besar akan terjadi jika ia sama-sama berlaku seperti ini pada leher lawan.
Angin menggebu menghias rambut perempuan di depannya, berantakan. Tidak lebih dari orang gila dilengkapi tawa.
Angin seolah hal yang keren bagi orang itu, namun harapan bagi Rio terhadap pohon itu.
“Hah, angin yang kencang ini bisa melancarkan kekakuan ini. Arahnya memang tepat.”
Memang benar, arahnya tepat. Wajah itu berulang kali tertepik rambut panjangnya dan berusaha menyekanya namun hanya dengan gerakan wajah.
“Rambut ini begitu menyebalkan! Menghalangi pemandangan.” Satu tangan digunakan untuk memperbaiki itu. Rio akhirnya dapat terbebas dari melengkungkan punggung.
Perempuan itu turun sekilas menaruh gunting. “Aku bingung kenapa dulu menginginkan rambut panjang.”
Ia bosan menunggu takdir. Berlari menuju belakang pohon. Membantu angin merobohkannya.
“Hei, kemana kau pergi? Terjatuh lebih dulu?”
Batang pohon tunduk berkat tendangannya di tengah perempuan itu mencari-cari dirinya dengan pijakan yang tetap.
.
Busur-busur tidak berhenti meski mulut mereka sudah berhenti. Yang lebih mengkhawatirkan, api mulai menjalar dan tak ada yang bisa merekalakukan.
“Kalau saja ada yang menyumbat pisau-pisau itu, semacam tongkat besi atau menghancurkannya menggunakan itu…..” Kino membuat gestur kedua tangan.
“Kenapa tadi kau tidak membawa itu saja saat memecahkan kaca belakang!”
“Aku tidak memikirkan itu karena sudah dikagetkan oleh mayat-mayat kepala! Lagipula, aku tidak tahu; ada terror lain di sini!”
“Kejadian ini sudah daritadi saat kau masih di dalam! Kenapa tidak mengintip?”
“Kau juga tidak mengintip; gudang itu terbakar!”
Giunia mengalami dua penyesalan; berada di antara mereka dan tak bisa selalu diam di sini. Harus ada ide lain untuk menghentikan semuanya. Kenapa pertolongan tak kunjung datang?
Busur-busur itu menyisakan per-petak lantai yang memungkinkan mereka untuk melangkah aman. Namun percuma saja jika tanpa tujuan.
Ia menengadah, memikirkan kegunaan benda besar yang menjadi sandaran punggungnya. Apa saja yang dikandung meja panjang ini? Seseorang harus mengacak-acak.
“Kenapa kita tidak naik ke atas meja ini?” Gumaman mendapatkan perhatian.
“Supaya kesannya jadi ‘luas’, ya.” Meyrisa tersenyum.
“Tidak juga. Aku ingin memeriksa bisa saja ada alat lain yang bisa membantu.”
“Kau pikir sisir-sisir bisa menghentikan besi-besi itu?” Kino menunjuk dengan dagu.
“Bisa juga ‘kan benda selain peralatan salon dicantumkan perempuan itu!”
“Kau pernah melihatnya? Kapan kau datang kemari untuk menyalon?”
“Kau tidak ingat? Ketika kau menjadi pelayan sementara untuk menggantikanku! Aku ke sini bersama Rio!”
“Hah, seperti itu saja kau sudah bangga, ya.”
Giunia berdecak lalu menggeleng, menjalankan keputusannya.
Empat kepala pajangan itu dilempar ke samping, juga barang kecil yang berceceran di sapu dengan lengan.
“Aww.” Sisir hitam mengenai Kino.
“Kau benar-benar berniat ke atas, ya. Boleh aku membantumu?”
Giunia mengangguk pada Meyrisa. “Apa kau mau lebih dulu naik?”
“Boleh.” Meyrisa melompat sembari menegakkan kedua lengan. Lututnya berhasil meraih pangkal meja. “Apa yang harus kucari?”
“Apa saja yang memiliki banyak kegunaan.” Giunia berpaling pada patung-patung kepala yang terlantar di lantai.
Tak ada yang menarik selain beberapa busur berhasil lolos dari kemacetan.
“Kau harus mencari bahan yang terbuat dari besi.”
“Aku bisa menentukan, Kino.”
Giunia tidak ikut mencari karena lengket oleh pikirannya. Menunggu Meyrisa menelusuri.
“Kyaaa…… meja paling ujung itu terbakar!” Meyrisa merangkak cepat, kembali.
Sekarang harapan mulai terhapus pelan-pelan.
“Seharusnya kau membuka laci yang paling mudah!” Kino sendiri yang melakukannya. Laci itu langsung melayang, isinya tidak menguntungkan. Sisir biasa bergulung rambut rontok.
“Besi itu seperti mesin. Terus membelah benda-benda yang menghalanginya.”
Sore hampir mencapai puncak. Sinar oranye tak akan selalu menjadi lampu. Ia kehilangan harapan untuk terbebas. Api secara lambat memanaskan kulitnya.
Gudang — ternyata — lebih dulu gelap.
“Sekarang, ada busa putih diluar!” Ia dan Kino tertuju pada satu-satunya tangan yang menunjuk.
“Apinya sudah padam, kalian semua cepat keluar!”
Adhira, itu membuatnya merinding dan terharu. Mereka hanya kebingungan oleh busur-busur.
“Kita injak petak per petak, ayo cepat!” Kino lebih dulu, memberi contoh.
Kembali ke belakang, ke gudang itu.
“Aku tidak mau sampai tergores! Seperti bahumu! Eh, bahumu berdarah?”
.
“Adhira!” Dua orang perempuan berhambur pada nama yang di seru.
Dia tersenyum bersemangat menyaksikan bangunan gosong — seperempat untuk halaman depan tidak terkena — . “Tak ada yang terluka kecuali penampilan kalian, ya.”
“Kemana saja kau?” Kino baru muncul dari tempat tergosong, menghampiri.
“Ke sebuah kedai. Lihatlah, pemiliknya memiliki tabung ini.” Ibu jari menunjuk ke belakang.
“Orang itu, pemilik salon ini, benar-benar memiliki banyak kepala-kepala di dalam kotak! Kau harus melihatnya meski sudah gosong!” Meyrisa menarik lengannya.
Giunia bersyukur semuanya seperti terencana dengan baik. Hanya ada kekurangan.
“Dimana Rio?” Adhira setengah jalan — mengikuti permintaan -, tidak menemukan orang itu.
“Iya, apa perannya?”
.
Di rerumputan kecil, dua motor bersama empat orang terduduk santai sambil mengobati luka-luka yang ditemukan.
Dan Giunia baru menyadari luka gores di punggung tangannya.
“Aww, pelan-pelan……” Kino meringis karena balutan kain yang disimpul pada bahu kirinya.
“Setidaknya kau harus berterima kasih karena ini bando kainku.”
“Orang sepertimu memakai bando? Aneh…….” Adhira mengencangkan ikatan. “Ya, ya, ya…….. aku salah paham!”
Kino pasien yang terakhir. Giunia memalingkan pandangan pada bunyi semak-semak yang juga disaksikan Meyrisa.
Cahaya sore yang tersorot dan mengecil menyinari sosok yang berdiri dan yang dibawanya.
Rio dan barang bawaannya di gerobak pasir.
“Hei, itu Rio!” Seruan sebagai awal untuk menyerbu.
“Kau tidak apa-apa? Jadi tugasmu mengalahkan pemilik salon?” Meyrisa memberi ruang untuk setiap jemarinya, diletakkan tak menempel di depan mulut.
“Dia sampai diikat begini…..” Dia mengarah pada Giunia ketika lebih dulu memerhatikan. Kaki, tangan, dan badan yang dipeluk oleh gerobak dengan tali tambang.
“Darimana kau mendapatkan gerobaknya?”
“Astaga, kau sampai babak belur begitu….”
“Ranting bergulung di ponimu.”
Banyak perkataan yang tak bisa dijawab Rio. Ia hanya seperti dalam dunia mimpi.
“Sok pahlawan. Hanya melawan perempuan.” Kino masih duduk di tempat.
“Dia juga lumayan terluka, ya. Apa kau menghajarnya?” Adhira dua langkah mengitar memerhatikan perempuan itu.
“Tidak juga. Dia sendiri yang memulai.”
“Kenapa harus diikat?” Meyrisa menunjuk korban.
“Supaya tidak kabur.” Rio mengangkat gunting rumput dari pangkuan pemilik sebenarnya. “Ini gunting rumput milik kita mulai sekarang.”
Adhira melipat lengan. “Kemana gunting rumputmu?”
“Patah.” Masih dingin.
Meyrisa menyenggol bahu Adhira. “Tidak apa-apa. Kesannya jadi seperti piala, ‘kan?”
“Ah, betul juga.” Adhira tersenyum.
Rio senang ketika semuanya berakhir bahagia. Bersama penutupan langit menjadi gelap.
“Lalu sekarang, apa rencanamu?” Giunia didepannya menengadah.
“Kita akan mengasingkan orang ini.” Kedua tangan yang terus menggenggam ujung tungkai gerobak, diangkat untuk ditunjukan.
Mereka semua menatapnya. “Dimana?” Dia melanjutkan.
“Hutan Slendy Summer.”
“Apa? Hutan yang mengerikan itu? Apa kau sudah gila?” Meyrisa maju selangkah.
“Apa susahnya melapor pada polisi.” Adhira berpaling pada langit di belakang.
“Apa ada salah satu dari kita yang membawa ponsel?” Rio mencoba menyetujui itu.
Meyrisa menggeleng pelan.
Giunia menyentuh dagu dengan kepalan tangan. “Ponselku tertinggal di restoran.”
Adhira berkacak pinggang. “Yah baiklah, aku akui kebodohanku.”
“Kino.” Rio memanggil. Orang itu dengan raut khas-nya meladeni, “Aku tidak bawa.”
“Kau harus ikut denganku untuk mengasingkannya.” Di dorong ke tengah-tengah lapangan.
“Tapi, kau banyak luka…….” Perhatian dari balik punggungnya rasanya tajam bagi telinga dan roda gerobak.
Rio tidak keberatan untuk menoleh, “Aku tidak apa-apa.”
Giunia tersenyum, “Hmm.”
“Sebagiannya, diam di sini.”
.
-Pencarian yang tak jelas-
.
“Aneh, kenapa kau membunuh orang dengan pancingan salon? Aku kaget korban-korbanmu itu ternyata banyak.” Meyrisa dibonceng Rio masih tak ingin absen mengisi nyawa untuk jalanan di antara hutan.
Gerobak diseret di tengah dua motor sebagai pembimbing, oleh Meyrisa dan Kino yang menyetir dengan satu tangan.
“Ih, seram, aku dipelototi.”
“Apa kau tidak bosan berceloteh terus?” Kino bermodal kaca spion untuk komunikasi visual.
“Memangnya kenapa? Kau iri karena harus memerhatikan jalan terus.”
“Aku yang mendengarnya agak prihatin. Kau berbicara sendiri.”
“Dia pasti akan menjawab! Lihat saja!”
Rio mencari-cari hutan yang tepat — menurutnya -.
“Diam kau, anak sekolah!”
“Eh, jadi kau tidak sekolah, ya?”
“Yang benar saja.”
.
“Aku salah.”
“Soal apa?”
“Soal aku yang tidak percaya.” Ia dan Adhira — terpaksa — menikmati langit berkilauan di hamparan rerumputan menunggu mereka kembali. Giunia menopang tubuh dengan lengan tegak ke belakang dan Adhira terbaring menumpuk telapak tangan untuk kepalanya.
Ia tersenyum pada pengakuan itu.
“Tapi, peranku sederhana sekali! Tak terasa action-nya!” Adhira mengerucutkan bibir, Giunia tertawa ringan. “Mungkin Rio merasa dibebani.”
“Ya ampun, dia seperti tidak tahu aku saja! Uh, aku kesal!”
.
-Akhir yang mendadak-
.
Siswa-siswa kesana-kemari dalam tumpuan mereka; semak hias. Matahari pagi juga merupakan permulaan untuk tugas yang dilaksanakan semua yang berada di belakang sekolah.
Mereka tepat dalam memilih tempat yang teduh; di dekat tembok sekolah. Hingga tidak akan ada yang mengomentari sengatan matahari.
“Rio, kau sudah menyelesaikan gambarnya?” Adhira yang paling berdekatan dengan semak.
“Ya.” Kertas paling besar yang terselip di buku tulis digulung-gulung pemiliknya. Tidak berniat ditunjukkan.
Kino berjongkok di samping semak, memainkan dedaunannya yang rimbun. “Usaha tidak usaha, gunting rumputnya tetap satu.”
“Spesialnya, kita melawan penjahat!” Kedua tangan mekar di depan badan, Meyrisa setengah menghampiri Kino.
Giunia hampir menyentuh sinar, “Apa dia tidak dilaporkan ke polisi?”
“Salonnya saja yang ditemukan, orangnya sedang dilacak.”
“Tahu darimana?”
“Aku menonton berita di televisi sepulang dari sana.”
Gunting rumput hasil tangkapannya terlantar di samping tembok. Rio tidak peduli jika belum ada yang memegangnya. Hanya saja, buku yang di pegangnya berhasil lepas dari tangannya.
“Kok mirip si pemilik salon?” Meyrisa berdiri di balik semak, sedikit ruang hingga harus bersandar.
“Aku ingin lihat!” Kino yang merebut gambar saja dihalangi oleh semak dan Meyrisa.
“Itu sebagai corak; kita telah memecahkan misteri.”
.
.
.
.
.
END
Aku merasa mual ketika harus cepat-cepat mengerjakan ini dan kuharap rencananya berhasil. Aku ingin menulis dengan cepat J
Maaf jika kau merasa ini terlalu to the point untuk kasus si pembunuh itu. Maklum, pemula. Aku akan membuat versi keduanya tentang perjalanan si Citrha selanjutnya dengan sudut pandang orang lain. Tapi tunggulah urutannya.