Lebaran; Ajang Menyepi

Lebaran telah tiba. Semua orang menyambut dengan suka cita untuk berkumpul hangat bersama sanak keluarga. Momen berkumpul yang dinanti-nanti. Tapi tidak bagi saya.

Bagi saya, lebaran selalu identik dengan menyepi. Dan juga menambah kilogram berat badan. Itu jangan dilupakan. Saya selalu menolak ajakan orang tua untuk bersilaturahmi ke rumah sepupu, tante, nenek, ataupun keluarga lainnya. Saya lebih senang duduk di taman depan rumah sambil membaca dan mengepulkan asap rokok.

Bukan karena saya sombong tak ingin menyambung silaturahmi ke sanak keluarga, tetapi, saya hanya ingin menghindari pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat saya takutkan.

Tapi, ceritanya berubah seperti ini. Selepas shalat Ied, Ayah langsung memacu mobil menuju rumah tante-tante, bukan pulang menuju rumah. Otomatis saya nggak bisa menolak lagi. Di atas mobil, saya sudah yakin akan dibrondol pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat membatin di hati. Saya sudah merangkai kata-kata yang sangat bagus untuk menjawab dan mengelak pertanyaannya.

Tapi, ceritanya berubah lagi, seperti ini. Setiba di rumah tante, saya yang pertama kali memasuki rumahnya, langsung diberi pertanyaan.

“Wah, sudah gede. Kirain tadi menantunya, mama. Lupa kalau anak,” ujar tante.

Ini pertanyaan sebenarnya adalah sebuah teka teki. Saya berhasil memecahkannya. Pertanyaan sebenarnya adalah ‘kapan nikah?’.

Tolong, umur saya belum menjejaki angka 25. Saya menargetkan menikah di umur yang ke 27. Tak usah diberi pertanyaan basa basi lagi.

Ada lagi yang bertanya, “Kok belum lulus?”. Ini pertanyaan yang paling berhasil membuat hati saya gusar. Saya sudah merangkai kata-kata untuk menjawab ketika di atas mobil pada saat perjalanan, tetapi pada saat diberi pertanyaan ini, saya hanya bisa tersenyum kecut sambil menjawab, “Iya, nanti, hehe.”

Saya bisa menangkap dari raut wajah Ayah saya yang melirik ketika saya menjawab. Dalam benak Ayah pasti berkata, “Makanya kuliah yang benar. Kuliah kok ngawur.”

Tuhan, tolong. Lebaran saya hanya ingin menyepi.

(Makassar, 2016)

Like what you read? Give Sir Dandy a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.