Memilih Untuk Menjadi Kopi

“Haruskah aku bunuh diri, atau minum secangkir kopi?”
— Albert Camus

Kedua peristiwa yang sedang hangat-hangatnya di Indonesia ialah kasus Ahok yang dijebloskan ke dalam penjara karena menistakan agama Islam dengan menggunakan salah satu ayat dalam surat Al-Maidah saat berkampanye yang di mana respon dari berbagai kalanganmenganggap apa yang dilakukan Ahok ialah penistaan terhadap Islam dan pembubaran organisasi HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) karena ketakutan pemerintah akan ideologinya yang anti-Pancasila dan dapat merusak keutuhan-keanekaragaman NKRI . Saya bukan ingin beropini mengenai mengapa saya pro kepada Ahok dan saya kontra kepada HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Tidak. Di sini, saya lebih memilih untuk menjadi kopi.

Jika membaca sejarah, sejarah kopi sendiri sudah dicatat sejak lama, dari abad ke-9. Pertama kali, orang-orang Ethiopia menanam biji-bijian di dataran tinggi Ethiopia. Akan tetapi, ketika bangsa Arab mulai meluaskan perdagangannya, biji kopi pun telah meluas sampai ke Afrika Utara dan biji kopi di sana ditanam secara massal. Dari Afrika Utara itulah biji kopi mulai meluas dari Asia sampai pasaran Eropa dan ketenarannya sebagai minuman mulai menyebar.

Saat ini kopi bukan lagi minuman yang sekadar penghilang kantuk, namun sebagai gaya hidup. Bahkan, roda kapitalisme bisa kita lihat berputar sangat kencang dalam insdustri kopi.

‘Ngopi, yuk’ ialah ajakan yang sering meleburkan perkawanan. Padahal yo sakjane pas ngopi gak tuku kopi, tapi tuku ombe sing liyo gae diombe. Apakah kopi di sini dapat protes? Tentu saja. Protesnya biji kopi yang telah menjadi cairan ialah dengan diam. Karena hakikat tertinggi dari protes ialah dengan diam.

Kopi dapat dijadikan sebagai simbolisasi toleran di Indonesia. Ia tak peduli apakah seseorang yang menggunakan kata ‘ngopi’ datang ke kedai kopi bukan untuk memesan kopi, tapi minuman lain. Teh, barangkali. Padahal ajakan ‘Ngeteh, yuk’ sangat jarang kita dengar. Bahkan mungkin tidak ada.

Kopi bisa merangkul siapa saja, entah dia dari ormas yang radikal atau tidak, kopi tak peduli. Ia dengan legowo menerima siapa saja yang menggunakan kata ‘ngopi’ tapi tak memesan kopi. Ia lebih memilih diam dan menerima perbedaan.

Seandainya saja kita bisa mengaplikasikan sifat dari kopi tersebut di dalam hidup, tentu saja hidup ini tak akan begitu sesak-menyesakkan. Dapat kita lihat bagaimana seseorang yang beragama menuding seorang lainnya yang sering menggunakan nalar dengan tudingan kafir, seakan-akan kafir di sini sudah mengalami pergeseran makna, sehingga ia pun dimusuhi bahkan harus dimusnahkan, padahal Rasulullah SAW. tidak sekali-kali memerangi orang kafir jika seorang kafir tersebut tak memerangi umat Islam.

Tak ada salahnya menjadi kopi. Tidak menjadi kopi pun ialah sebuah pilihan. Di antara keduanya bukanlah mutlak suatu kebenaran, karena kebenaran mutlak milik Allah SWT. Tapi, betapa eloknya hidup seperti kopi yang begitu toleran walaupun saat orang mengajak untuk ngopi, ia tak memesan kopi, melainkan minuman lainnya. Menyenangkan, bukan?

Malang, 12 Mei 2017

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.