Upaya Festival Proyeksi Mengembalikan Sineas Kepada Yang Transenden

Usai sudah festival proyeksi yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswi prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Airlangga. Seperti pada umumnya sebuah festival film, Festival Proyeksi pun tampak begitu-begitu saja. Tetapi, ada yang cukup menarik dan mengharuskan saya untuk datang dan menyimak film-film yang diputarkan: mengenai program yang mereka angkat; antara lain program Inspirasional, Manusia dan Rumah, Ruang Publik, Komunikasi Transendental, serta Budaya dan Perilaku Manusia. Program yang cukup menyita perhatian ialah ‘Komunikasi Transendental’.
Menarik melihat para panitia mengangkat program seperti ini, terlebih lagi ‘transendental’ cukuplah dalam. Namun, menurut saya, di antara kelima film yang dipertontonkan, hanya satu film yang mampu menembus transendental, yaitu Al-Haqq, karya sineas ISBI Bandung. Film ini sangatlah menarik dan transenden. Terlihat dari mawar putih yang digunakan dalam film tersebut sebagai semiotika perjalanan waktu kembali kepada Yang Transenden. Film ini cukup gila dan puitik!
Manusia dalam artian di sini ialah para sineas seringkali berjuang sebagai seorang pengamat kejadian alam zawahir (fenomena) dengan mengangkat tema yang sangat dekat, seperti lingkungan sekitar hingga bilik-bilik ruang pemerintahan yang perlu diurus, namun lupa akan kesadaran transendental sebagai upaya menjadi penyaksi dan penjelajah dunia makna-makna. Mengawinkan zawahir dan transendental akan menjadikan sebuah karya film menjadi lebih sublim lagi dan memiliki kesadaran spiritual-intelektual yang sangat dalam jika dijelajahi.
Saya tak terlalu paham dengan ketentuan-ketentuan yang telah diberlakukan panitia, karena selain film Al-Haqq, film-flm lainnya tersebut masih belum mampu menembus transendental, bahkan upayanya pun masih terbilang jauh. Namun tetap saja kita perlu memafhumi dan mengapresiasi dengan sangat atas semangat kerja para panitia yang berupaya mengembalikan para sineas untuk kembali ke Yang Transenden. Itulah yang terpenting. Kembalinya kita kepada sumber dari segala sumber, yaitu Tuhan.
Panjang umur perfilman Indie!
