Sejauh Mana Cintamu?

cinta tak berani melampui cinta, setiap kewajaran ada batasnya…

Satu rumah dengan rumah yang lain biasanya dipisahkan oleh tembok setinggi kepala. Atau pagar besi maupun kayu yang ukurannya sepinggang. Mungkin tumpukan batu bata yang ada untuk sekadar memisahkan sekaligus menjadi identitas jati diri dari si pemilik rumah. Ketika tidur pun kadang-kadang bantal guling jadi penengah di antara lelapnya dengkur. Adapun batas hanya sifatnya sementara, pemisah kewajaran, dan penunjuk identitas. Benda mati kerap jadi tolak ukur batasan. Di mana begitu mudah membedakan mana yang kaya dengan mana yang miskin.

Ada pembatas yang konkret, ada pula yang abstrak.

Cinta…

Bicara cinta adalah bicara tentang perasaan. Cinta tak mengenal batas kewajaran. Cinta kadang seenak udelnya mempermainkan satu perasaan dengan perasaan yang lain. Cinta bisa hinggap di antara di kaya dengan si miskin. Cinta kadang bernaung di antara si terhormat dengan si terendah. Cinta menembus batas semu. Cinta tidak bisa diukur dengan kendaraan roda dua atau empat. Cinta diukur dari roda kesetiaan masing-masing pemilik. Cinta bisa bersemayam di antara dua umat yang memuja satu Tuhan di tempat berbeda.

Cinta tak melulu diukur ke mana akan pergi. Keluar kota, negeri, atau angkasa. Selama tujuan akhir dari cinta bisa membawa dua mempelai duduk manis di pelaminan.

Cinta kadang bisa dibatasi oleh cinta itu sendiri. Cinta kadang membatasi dirinya sendiri. Cinta itu egois! Mempermainkan orang lain, tapi tidak mau mengambil resiko untuk diri sendiri.

Karena pernah menjadi cinta orang lain atau sahabat. Cinta tak berani melampaui cinta yang dimiliki sahabat, demi orang yang sama. Orang yang pernah ada untuk sahabat. Cinta tak berani sejauh itu. Cinta ada batasnya. Batas kewajarannya…

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.