Beautiful Nagatoro!

Begitu kata yang tertera di pamflet yang disebar di stasiun Nagatoro. Faktanya ya memang cakep 🤩

Dimulai dari kereta di jalur Chichibu ini. Tadinya mau naik ini, karena keretanya rame banget. Ternyata ini untuk tujuan sebaliknya. Dibandingkan dengan kereta tujuan Okutama, kereta ini lumayan bisa duduk.

Stasiun Nagatoro, gak bisa pakai kartu. Harus beli tiket di depan. Sampai stasiun ini bingung, soalnya ada beberapa pilihan jalan-jalan. Mau ke Iwadatami, Hodo-san atau foto kereta SL atau ke taman. Bingung.

Tapi udahlah, mau naik perahu dulu deh mumpung cerah. Rutenya pas hari itu, pendek. Volume air di Kali Arakawa lagi dikit. Harganya jadi 900 Yen dan gak sampai 30 menit. Kalau mau lebih panjang, turunnya di stasiun berikut saja, Kami-Nagatoro, beda operator kayaknya.

Naik perahu, ada pelampung dan pak pendayung akan menceritakan situasi sungai serta apa saja yang bisa dilihat di bebatuan yang dilewati.

Terimakasih kepada langit biru, Matahari yang cemerlang dan daun warna-warni sehingga mendokumentasikan pemandangan ini mudah sekali pakai henpon 😆

Salah kostum, anginnya kenceng walau hanya 14 derajat. Dan kami pun sampai malem. Toni mau naik ropeway ke Hodo-san. Jadi gak kekejar motret SL.

Jajanan khas Saitama, Senbe. K doyan. Sebenarnya di area sotengai-nya Iwadatami, banyak warung macam nasi liwet pakai ikan Ayu dan Soba. Tapi demi ambisi Toni ke Hodo-san, skip dulu deh. Jadinya ngemil Senbe dan softo aisukurimu.

Di sudut jalan arah Hodo-san. Momijinya warnanya mateng bagus, oranye merah 💕

Kuil yang ramai, itu pada antri berdoa sampai bawah. Sudah mulai gelap sebenarnya untuk ke Hodo-san. Kami diingatkan petugas, karena antrinya masih agak panjang, kemungkinan sampai atas, sudah gelap.

Tapi tetap naik donk. Penasaran. Nama ropeway-nya monki dan bambi. Sesuai dengan isi kebun binatang kecil yang ada di sana.

Itu ranting yang kelihatan, Ume tuh kayaknya. Sudah ngembang.

Dari atas tampak kerlap-kerlip. Anak kecil nangis pas di ropeway gara-gara telinganya merasakan tekanan 😌🙄. Ayahnya langsung ngambek juga, soalnya lagi asik foto-foto terus byar, nangis 🤣🤣. Maknya? Yah sewot sama nggodain anak kecil nangis. Begitulah kalau jalan-jalan sama anak kecil tuh ya sodara-sodara 😆.

Antri ropeway pas turun lebih panjang lagi 😭, mana dingin ternyata (yakalik di gunung ya). Sampai bawah, langsung beli ikan panggang yang enak banget, matengnya pas, garemnya berasa hahaha. Terus minum amai sake (dengernya ini). Karena penasaran, warnanya putih, dihirup ternyata semerbak tapai. Kata Toni, amai yang didengar kemungkinan artinya ringan. Ternyata enak banget nih minumnya. Kayak tapai ijo tapi lebih ringan, gak nyengat terus hangat! Dan minum di hari yang dingin pula. Hodo-san sudah gelap, untung pas jalan turun bareng sama pasangan muda. Jadi gak serem-serem amatlah. Kebanyakan orang-orang bawa mobil sih di sini.

Tempatnya oke banget! Suka 💕