Jalan-jalan di Kawasan Edo-Tokyo

Karena suka dengan sejarah, maka kami memutuskan untuk mencoba trial tur di kawasan Edo (dulunya) di Tokyo dari Treck-Treck. Kebetulan areanya mudah terjangkau dari rumah. Turun di Stasiun Morishita, di hari yang diperkirakan hujan seharian.

Kami janjian di tempat persewaan sepeda bernama Alohaloco, jadi tadinya tur keliling kota tua ini menggunakan sepeda. Tetapi berhubung hujan, maka turnya diganti dengan jalan kaki. Kami sempat berkenalan dengan pemilik persewaan sepeda tersebut, yang memiliki koleksi sepeda warna-warni.

Area kota tua Edo, banyak sekali jembatan. Dan menurut mitos, banyak kura-kura yang hidup di area sungai. Dari tempat persewaan sepeda, ternyata banyak kedai kopi kecil di sekitarnya, tapi masih tutup. Kami mulai jalan jam 10 pagi.

Kami baru tahu kalau daerah dekat stasiun Morishita ini ada patung bersejarah, penulis Haiku kenamaan pada jaman Edo, Matsuo Basho. Kami juga dikenalkan dengan salah satu Haiku yang terinspirasi dari tempat kontemplasi Basho-san. Wah, pengetahuan baru buat kami.

Selanjutnya kami dikenalkan dengan berbagai jenis jembatan yang ada di area ini (Nihonbashi). Lalu berjalan dan melihat ada taman. Sayangnya, Sakura belum muncul awal April lalu. Tapi kami mampir ke Kiyosumi Garden, yang merupakan Taman khas Jepang. Area kota tua ini banyak kuil, walaupun hujan, tampak beberapa kuil ramai dengan pengunjung.

Setelah melihat taman, tentu saja museum menjadi tujuan selanjutnya. Fukagawa Edo Museum, museum dengan diorama pedesaan jaman Edo. Petugas museum yang kebanyakan relawan, bisa berbahasa Inggris di sini, dan menyenangkan. Kami senang sekali karena petugasnya informatif, termasuk berbagi trik cara hidup masyarakat jaman Edo.

Setelah puas mengelilingi museum, jam 12 siang, waktunya makan siang. Kami mampir di warung makan cukup ternama di daerah tersebut. Menunya? Nasi dengan Kerang. Porsinya mengenyangkan, pantas saja ramai.

Setelah makan, menurut Ito-san, yang menemani kami dalam tur ini, karena tur jalan kaki, maka bisa berkeliling di dekat warung makan tersebut. Jika tur menggunakan sepeda, bisa melihat ke kuil yang besar di area kota tua tersebut.

Kami tertarik dengan toko beras tradisional (ada beras dari berbagai propinsi di Jepang yang dikemas dalam bentuk kecil!) dan toko perlengkapan Kimono dan oleh-oleh. Kami juga menemukan toko buku bekas, dan membeli buku ensiklopedia Serangga seharga 500 Yen. Yay!

Tentu saja belanja dengan perut kenyang sangat menyenangkan! Tur yang sangat mengasyikkan, meski hari hujan! Lain waktu kami akan mencoba tur menggunakan sepeda ahhh 😍😍

PS: Foto kami paling atas, oleh Rumi-san 😍

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.