Sofia Kartika
Feb 8 · 5 min read
Welcome to Shibamata

Keliling Kota Tua Shibamata

Entah kenapa sedang bosan dengan berburu kembang, hahaha. Juga kantong memberi kode belum bisa jalan jauh-jauh, tolong! Walhasil kami muter-muter kota tua saja. Saya suka sama kota tua, seneng aja lihat interaksinya. Sebagai warga ibukota, ini semacam terapi.

Tora-san

Sejauh ini beberapa kota tua alias oldtown yang tidak terlalu jauh macam Kawagoe atau yang seputaran Tokyo saja macam, Fukagawa. Sudah pernah kami kunjungi. Sepengetahuan kami, cuma Fukagawa saja yang itungannya kota tua. Ternyata ada Shibamata. Areanya di Katsushika-ku. Naik keretanya agak ribet ke arah Asakusa dengan Keisei line. Ini jalur keretanya hati-hati, karena satu jalur tujuannya berbagai arah hahaha.

Berhubung kami santai, jadinya kami gak naik Keisei yang khusus ke Shibamata. Jalan kaki dari Takasago eki saja yang sepi banget. Pas sampai di stasiun Shibamatanya cukup ramai ternyata. Oh lupa, hari itu long weekend. Shibamata punya ikon, namanya Tora-san. Ini adalah serial televisi yang populer di Jepang. Bukan artisnya yang jadi ikon, tapi tokoh yang diperankan si artis yang jadi ikon Shibamata.

Tokoh perempuan (yang lupa namanya)

Tepat di stasiun ini ada dua patung di tokoh laki-laki dan perempuan. Ya, tentu saja ini stereotipe pada umumnya, laki-laki bawa koper, si perempuannya menunggu pakai apron. Gak nyangka ini serialnya bikin orang -orang sampai mau foto sama si patungnya. Terus ada orang yang mungkin bertugas menjadi wujud Tora-san dalam realita, si bapak ini pakai kostum sama persis dengan yang dipakai si tokoh. Lalu orang-orang datang bersalam-salaman dengan si bapak, foto bersama, di antaranya nenek-nenek terpesona. Kami melihat dengan terpana.

Two versions of Tora-san

Setelah berlama-lama takjub dengan populernya Tora-san ini, kami menuju shoutengai-lah tentu saja. Anak sudah ribut minta cotton candy. Sementara hari itu memang penuh sekali, sesak. Semua warung kayaknya penuh antrian.

Street food

Makanan apa yang populer di sini? Dango dan Soba. Rata-rata restoran menyajikan dua menu tersebut. Semuanya penuh. Karena bagian dari nostalgia. Beberapa warung makan adalah bagian set dari serial Tora-san ini. Lainnya? Senbei! Kami mampir di toko Senbei, toko permen tradisional yang menyajikan rasa permen tradisional misalnya selain matcha adalah strawberry dengan Ume yang rasanya unik, asam manis yang pas.

Making Senbei

Setelah puas cemil-cemil, jalan sampai ujung shoutengai yang penuh sesak pengunjung yang antri dan yang duduk makan di pinggir jalan. Nostalgic feeling! Shibamata, satu komplek memiliki beberapa tempat yang layak dikunjungi. Kami mengunjungi empat tempat plus satu yang ternyata asik sekali untuk hunting foto (silakan dibaca sampai akhir hihihi)

Antri berdoa di kuil

Karena hari itu hari spesial untuk anak muda yang bakalan disebut dewasa atau coming of age day, maka kuil hari itu ramai. Beberapa orangtua datang bersama anak-anaknya untuk melakukan perayaan.

After celebration

Setelah muter-muter gak jelas di dalam kuil. Aslinya gak muter sih, takut ganggu. Jadi berdiri aja di bagian pojok kuil yang tidak terlalu ramai. Melihat dari kejauhan antrian panjang untuk beribadah. Lalu setelah agak sepi, baru lewat dan melakukan kunjungan di tempat cagar budaya lainnya. Yaitu rumah pedagang yang kaya sekali dan dijadikan museum serta tempat minum teh, namanya Yamamoto-tei.

Japanese garden

Rumahnya besar banget ternyata. Kayak satu komplek tepatnya, kalau mau masuk sini bayar tiket. Kalau mau sekalian minum teh dan makanan manis, pesan langsung di sini juga. Terus bisa cari tempat duduk, persis di sisi sebelah taman ini. Di dalam rumahnya, selain ada becak tradisional juga ada lukisan Bunga Iris yang cakep.

Yamamoto-tei from Shibamata koen

Rumahnya areanya luas, deket sama taman pula. Sungguh strategis. Area ini masih area cagar budaya. Ada museum Tora-san yang jadi ikon Shibamata-eki. Di sisi Shibamata-koen ada taman yang luas, tampaknya tempat Sakura. Tempat main yang luas di sisi sungai yang berwarna biru. Ada tempat naik perahu-nya macam Nagatoro, tapi ya ini musim dingin. Tentu saja kami tidak naik, areanya bernama Yagiri no watashi.

Dari pinggir kali

Tapi sebelum kami main ke area di pinggir kali ini, kami masuk ke Tora-san Museum. Hari itu museumnya penuh banget. Populer dan penuh nostalgia. Karena di museumnya ditampilkan set tempat nongkrong di warung, yang sepertinya menjadi tempat pusat cerita.

Set warung Tora-san

Beberapa pengunjung nenek kakek memandang heran kepada kami dan ada seorang lagi yang berbahasa Inggris datang dengan temannya. Memangnya pada tahu ceritanya? memangnya tahu ini serialnya? Kek, kami denger lho. Gak bisa bales tapi ngerti deh kamu ngomongin sapa, hahaha.

Terpesona lihat diorama

Lama banget itu anak di depan diorama itu. Kami udah foto-foto di set warung, anaknya masih anteng dan mencetin berulang itu dioramanya. Mungkin dia takjub.

Tora-san museum

Setelah puas berdesa-desakan di museum. Kami ke Shibamata koen, main-main di luar. Nyesel gak bawa bola apa layangan di sini. Asik banget tempatnya.

Btw, serialnya Tora-san ini lama sekali, judulnya Otoko wa Tsurai Yo, kalau dari Wikipedia, rilisnya tahun 69 sampai 95. Ya pantes saja. Kayak Oshin gitu kali yak. Nama aktornya Kiyoshi Atsumi. Doramanya kayaknya banyak banget, macam Rano Karno apa Roy Marten kalau di Indonesia. Sampai sekarang masih suka lihat doramanya diputer di stasiun tivi.

Ternyata ada yang naik ya. Apa tidak dingin?

Sebelum menunjukkan jam lima sore, orang-orang sudah pada siap-siap pulang. Begitupun kami. Lapar juga. Shoutengai menjelang jam lima sore, tidak terlalu ramai, jadi kami bisa mampir makan Soba dan Dango di salah satu warung. Lalu lanjut minum Amazake. Bubaran di stasiunnya ramai juga. Ternyata masih banyak orang.

Bubaran warung

Kami pun segera bergegas ke stasiun Shibamata. Gak kuat kalau sudah gelap jalan kaki 15 menit ke Takasago-eki. Bener cuma satu stasiun aja, tapi jeda waktu keretanya agak lama.

Sunset

Hari itu ditutup dengan Senja warna fuchsia di Shibamata. Kenyang dan bahagia.

Written by

Travel, Photo, and Writing. Sometimes drawing. Voluntary work. Tokyo.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade