Ngeteng Ke Nikko

Apa coba ngeteng? Itu lho pindah-pindah kereta, Bahasa Indonesianya apa yang baik dan benar? 😆. Ini jalan-jalan akhir tahun kemarin. Dadakan, Jumatnya masih ketemu sama temen-temen, mulai Sora, Mbak Dwi, sampe genk makan di Sarabeth. Pulang malem, eh Toni ngajak jalan. Lha ya mau malem tahun baru, ke mana? Pasti penuh kan, wong Hari Raya di Jepang.

Akhirnya, diputuskan ke Nikko. Spesifik, Tobu World Square. Berangkat jam setengah 11 pagi jelang siang. Lha dadakan. Jelas gak dapat kursi Spacia dari Shinjuku. Ngejar limited express yang lain di Kita Senju. Habis juga. Gak ada yang ke arah Nikko. Jadi amat sangat terpaksa ngeteng, naik lokal.

Naik lokal ini, sebenarnya gampang sih. Bisa juga emang. Tapi karena situasi mau tahun baru, ternyata banyak kereta tidak tepat jadwal. Kami kira-kira mau ngejar limited express di Tochigi. Ternyata cuma tersedia 1 seat. Dan gak bisa non reserved. Ketemu sama mbak-mbak Jepang yang juga dalam situasi yang sama. Ngejar limited express, tapi gak dapet. Akhirnya kami bersama bergandeng tangan naik lokal, berdiri. Dia tanya, kamu mau ke mana? TWS. Oh sama donk! Bareng aja, keretanya sama.

Mengacu pada Google, jam buka sampai setengah 9 malam. Tapi cek website, jam setengah lima sore. Sebagai netijen yang kritis dan gak percaya hoax *ditampol*. Logikanya, si mbak Jepang juga gak bakalan ngejar kalau jam tutupnya sampai jam setengah 5 sore kan? Ya kami tetep jalan ke TWS. Sampai tempat jual tiket, dijelaskan, kalau yang biasa cuma sampai setengah lima sore. Tapi kalau mau liat ilumination, harga tiket berbeda dan bisa masuk. Yasud, untung tiket ilumination lebih murah dan dapat voucher beli makanan dan minuman di dalam area sebesar 1500 Yen! *Langsung foya-foya beli kopi dan donat*

Dan suasananya lebih syahdu! Lampu dan salju, keindahan dobel. Tapi dinginnya dobel. Salahnya emang gak kepikiran kalau di Nikko lebih berpotensi salju. Woy ini Tochigi woyyy. Ya gimana dadakan, pikiranku hanya bagaimana mengolah nasi supaya tidak basi dan dibawa buat bekal. Udah masak buat wiken, diajak jalan. Ya kami kedinginan. Toni udah gak bisa mikir, masa dia masukin koper aja ke locker gak bisa. Hahahaha. Otaknya ikut beku. Jadilah kami keliling TWS nggeret koper.

K gimana? Ya rewel. Mama! Dingin! Mama! Ingusan! Ayah buruan donk fotonya. Mau ke hotel! 😆

TWS ini kecil sih, jadi ya gak sampai 3 jam muternya. Ini dapat hotel terjangkau, di area Tobu Nikko. 40an menit dari TWS. Kami bingung yang lewat pertama tuh limited express. Nah kami gak punya tiket. Toni gak mau naik, ya aku omelinlah. Perkara nanti disuruh turun stasiun berikutnya yaudah. Yang penting naik dulu. Tapi hon, ntar dimarahin petugas…buruan naik! Dimarahin ya ntar turun dan minta maaf, gak ngerti cara naik kereta di Nikko. Jika anda membayangkan perjalanan kami penuh ketawa ceria penuh cinta, itu hanyalah khayalan.

Naik kereta, ketemu petugas lalu ditanya, mau turun mana? Mau ke Tobu Nikko, jadi transit di stasiun (lupa namanya). Oh ya udah, duduk aja, saya anterin cari tempat duduk kosong. Terus bilang, tapi kami gak ada tiket reserved. Petugasnya bilang, kalau dari arah Kinugawa Onsen ke stasiun tempat norikae, tiketnya berlaku lokal. Asal ada yang kosong boleh duduk. Ohhhhhhh gituuuuuuu. Instingku memang tajam, sodara. Sampe Tobu Nikko, kami beli tiket buat besok balik. Daripada ngeteng, lima jam. Dan di area Tobu Nikko tidak bersalju sama sekali. Lima stasiun doang, beda gitu cuacanya.

Hotel tempat nginep kayaknya baru, dan hampir 50 persen sepertinya turis. Soalnya pas sarapan, cuma dikit yang ngomong nihon-go. Terus menu sarapannya, beda dari hotel yang biasa kami nginep. Biasanya kan, salad, salmon, telor, roti, susu. Nah ini tuh nasi, Sop sayur, Kari sayur, omelette, roti, es buah. Hihihi, kayak warteg. Enak deh tapi.

Malamnya karena sudah tanya staf hotel, jadi ke stasiun dulu. Beli pass untuk ke air terjun Kegon. Toni udah berisik mau ke Kegon. Kalau aku, aslinya mau ke Edo Wonderland. Yaudah kami ke Kegon, ini rute bisnya paling jauh kayaknya. Naik bukit sampai satu jam. Mending beli pass, daripada tiket ketengan. Lebih cepet. Di Tobu Nikko, salju gerimis.

Di atas udah tebal. Dan yang pasti lebih dingin, gilak! Pengen ke toilet terus. Serius.

Air terjun Kegon ini, musim terbaiknya ya autumn. Pohonnya warna-warni. Ternyata pas musim dingin, cakep juga. Berasa misterius aja gitu. Putih berkabut.

Ini kalau mau lihat air terjun dari dekat, ada elevatornya dan bayar. Setelah makan siang dengan Suiton, kaldu ikan dengan isi sayur dan mochi. Kami nunggu bis untuk turun. Segera ke Edo Wonderland. Jam 2 siang, dengan asumsi jam 5 sore tutup (menurut Google), menurut website jam setengah 5 sore. Tapi pas ke sana, loket tiketnya tutup jam 3 hahahaha hahhahahha.

Netijen ketipu ekspektasi. Kata mbak penjaganya, tutupnya jam 4. Tapi jam 3, loket udah tutup. Yaudah, balik lagi ke Kinugawa Onsen.

Padahal udah pesen kereta jam delapan malem. Yaudah nongkrong di kafe depan stasiun, ada menu khas tochiotome, stroberi Tochigi kayaknya (emang terkenal). Ini minumannya enak, rasa stroberinya lebih kuat daripada rasa susunya.

Terus di depan stasiun Kinugawa Onsen ada pertunjukan parkir kereta SL. Kereta SL ada jadwalnya sendiri. Kami belum sempet coba. Yaudah nonton atraksi, bolak-balik ke toilet sampai akhirnya jadwal kereta, naik, langsung jalan deh. Keretanya paling banyak memang arah Asakusa. Kalau ke Shinjuku, terakhir jam 5 sore.

Bakalan balik lagi, kan belum ke Edo Wonderland. Sekarang udah tahu jalannya. Dan ke Edo Wonderland sepertinya memang harus dari pagi kayak ke Disneyland. Harga tiketnya soalnya mahal 😆😆😁