Nuansa Politis di balik terdegredasinya Perssu.
Perssu Sumenep memang berhasil menahan imbang tim tuan rumah Persida Sidoarjo dalam lanjutan Liga 2 Indonesia grup 6 yang dihelat di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, Sabtu (26/8/2017). Laga yang disaksikan puluhan Peccot Mania, fans dari Perssu tersebut berkesudahan dengan skor 1–1. Namun sayang, hasil itu dipastikan tak mampu menyelamatkan tim Kuda Terbang dari jurang terdegrasi. Pasalnya, tambahan satu poin tak cukup mengangkat posisi Perssu dari urutan nomor dua dari bawah di grup tersebut. Bahkan, meski masih menyisakan satu pertandingan lagi, Perssu dipastikan tak selamat dari jurang degredasi, apapun hasilnya publik sumenep harus rela menyaksikan tim pujaannya berlag di Liga 3 musim depan.
Pada dasarnya penulis telah memprediksikan sejak awal jika perssu akan tidak semoncer taktala musim lalu sukses menempati posisi 3 dalam ajang TSC B. Sebab pada musim ini Perssu ditinggal oleh pendana utama tim ini musim lalu, yakni Said Abdullah. Said Abdullah sendiri kita kenal sejak medio 2000an merupakan anggota DPR RI dapil madura dan juga merupakan oligarki asal sumenep. Dengan kekuatan finansialnya, Said Abdullah pun mendanai segala kebutuhan tim Perssu. Pelatih sekaliber Salahudin pun didatangkan, pemain-pemain berkualitas pun sempat dikontrak untuk memperkuat Perssu pada musim lalu. Sang ponakan yang juga wakil bupati Sumenep dijadikan manajer tim. Tak ketinggalan nama sang anak sulung pun kaisar dijadikan nama belakang Perssu.
Sayangnya kemesraan antara Said Abdullah dan Perssu pun tidak berumur panjang, di musim ini Said Abdullah lebih memilih mengakusisi tim Persebo Bondowoso dan merubahnya menjadi Madura FC ketimbang mengurusi Perssu kembali. Aktor-aktor kunci yang membawa Perssu meraih posisi 3 di TSC B seperti pelatih Salahudin dan pemain kunci Perssu pun diboyong ke Madura FC. Hasilnya pun positif, Madura FC saat ini menempati papan atas Liga 2 dan berpeluang menembus ke Liga 1.
Keputusan Said yang mengorbitkan Madura FC sebenarnya adalah salah satu strateginya untuk menyaingi hegemoni Madura United di bawah saingan politiknya yakni Achsanul Qosasi. Said seolah tak ingin ketinggalan dalam mengurus sepakbola, harapannya dengan kesuksesan Madura FC nanti namanya akan terangkat di mata penikmat sepakbola madura. Sayangnya upaya said mengangkat Madura FC sepertinya menemui kerikil tajam, sebab sampai detik ini Madura FC belum memiliki basis suporter yang kuat seperti tim sepakbola yang ada di Madura. Ketika Madura FC bermain, kebanyakan tiket diberi cuma-cuma kepada PNS dan orang-orang yang dekat dengan Said.
Setelah ditinggal Said, Perssu saat ini dipimpin oleh Didik Untung seorang PNS yang menjabat sebagai salah satu kepala dinas di Sumenep. Tidak diketahui darimana sumber pendanaan Perssu musim ini. Yang pasti, pendanaan Perssu tidak akan berasal dari APBD. Sebab penggunaan APBD untuk tim sepakbola di Indonesia telah dilarang oleh Pemerintah.
Saat ini jalan satu-satunya untuk mengembalikan kejayaan Perssu adalah mencarikan investor baik dari putera daerah ataupun luar daerah yang dengan sukarela bisa mendanai kegiatan tim kebanggan rakyat Sumenep itu. Publik harus sadar kalau urusan keterpurukan Perssu bukan salah pemerintah, sebab pemerintah dilarang mendanai sebuah klub. Regulasi yang ada saat ini mengisyaratkan klub harus berbadan hukum itu artinya klub harus mandiri mencari dana untuk pembiayaan.
Sambil menunggu kedatangan investor untuk membiayai Perssu, ada baiknya supporter Perssu menggalangkan pembiayaan swadaya terhadap Perssu, seperti yang dilakukan suporter PSS Sleman terhadap klub kebanggannnya itu. Di Sleman mereka menggunakan mekanisme ‘no ticket no game’ artinya tiap suporter diwajibkan membeli tiket pertandingan. Sebab itu bisa dijadikan revenue bagi klub. Di samping itu penjualan merchandise juga bisa dilakukan untuk membantu kebutuhan pendanaan tim.
