Ada apa dengan diriku?

Mengapa kesendirian terasa menyakitkan dan ditemani dalam ramai seolah menjadi penghinaan.

Ada apa dengan diriku?

Mengapa tatapanku kosong dan ingatanku larut dimakan waktu. Tertelan dalam juntai-juntai ketakberartian dan ketakutan pada apa yg belum terjadi.

Ada apa dengan diriku?

Mengapa harapanku selalu saja menuju pada sesuatu yang tak mungkin dan hatiku terlalu pedih menerima keperihan?

Apakah Tuhan sedang membercandaiku?

Tapi angin segera membisikkan sepatah kata padaku lirih. Hidupmu terlalu bobrok jika diakhiri dengan gantung diri. Dan namamu akan diingat sebagai pengecut zaman.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.