Memeluk dengan Keraguan Memiliki


Aku memelukmu untuk menenangkan.

Hanya sesaat.

Entah sebagai teman komunitas, kawan akrab, sahabat atau peranku sebagai seorang laki-laki.

Ini kali pertama kali kau kusentuh dan rambut teruraimu kubelai lembut.

Jujur, ini bukan caraku memperlakukan wanita. Tapi keadaan kadung memaksaku.

Kau memelukku balik dengan dekapan yang lebih kuat.

Beberapa jenak waktu berlalu.

Matamu memerah. Mukaku malu bersemu merah. Kau tampak goyah. Aku berpura-pura kuat.

Tangismu tumpah. Tangisku tak mau jatuh. Bagiku kehilangan adalah persentuhan awal dengan keabadian, bagimu kematian adalah jeda kasih sebelum kasih lebih besar datang.

Kau bersedih atas perubahan tiba-tiba dari kehadiran menjadi ketakhadiran.


Di depan kaca lemari di lantai dua rumahmu itu kau tak melepas pelukanmu. Aku biarkan saja walau sebenarnya memeluk wanita tak terlalu baik dalam hal kepatuhan pada larangan agamaku. Apatah lagi memeluk seorang kafir. Tapi ini soal lain. Aku terpaksa. Aku adalah manusia dan berposisi menjaga kemanusiaan. Mungkin kau hanya sedang meluapkan kekesalan. Aku tak tahu. Aku hanya sedang tak enak melihatmu sedih.

Sementara di luar rumahmu sedang hujan. Hatimu basah. Hatiku yang kering coba menyerapnya sebagian.

Orangtuamu pergi. Salah satunya.

Aku tahu ini berat. Orangtuamu pernah menjamuku akrab lalu memberimu uang untuk mengajakku makan di Boncafe, di Jl. Pettarani. Ia baik. Sungguh. Agama menjadi beda yang menyatukan. Sungguh.

Pesannya menggugahku.

“Jaga anakku,” serunya.

Ini adalah pesan dari lelaki untuk laki-laki. Dari seorang Ayah untuk calon Ayah.

Tapi kita satu adalah urusan yang lain. Kita butuh tangan berbeda untuk lebih dari ini.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Muh. Syahrul Padli’s story.