Bersama sarapan pagi ia melabuhkan sebagian harapannya. Di atas meja makan pesan terdalamnya tersimpan rapi.

Berharap masa depan akan berpihak dan nasib baik akan datang.

Bersama hal-hal sederhana ia hidup untuk menghidupi. Dalam keseharian ia curahkan segenap upayanya untuk akhir yg belum tentu akan berbaik hati kembali berkunjung padanya.

Jauh dalam bilik hatinya, ia memikul beban yg tak ringan. Demi apa yg Tuhan amanahkan padanya.

Maka tatkala hidup telah menguras usia dan keremajaan sel-selnya, tidakkah kita kembali menyapanya dan mengucapkan, “terimakasih Ibu atas apa yg kau lakukan pada hidupku. Aku masih bocahmu.”

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.