Celeng Super Melindungi Makassaria


“Pada lanskap yang gaib, Modin adalah laki-laki biasa yang bekerja sebagai penagih utang di sebuah perusahaan simpan-pinjam. Namun di sore hari ketika ia seharusnya pulang bersantai dan rehat menunggu waktu berbuka puasa, ia masuk dalam peristiwa ganjil: ada celeng raksasa menantinya di balik daun pintu rumah kontrakannya.”

Ini beberapa tanggapan pembaca awal kumpulan cerpen Celeng Super Melindungi Makassaria.


“Muh. Syahrul Padli menyajikan perkembangan yang menarik dan akan lebih kuat jika ia berhasil menggabung secara tepat ramuan-ramuan teknik bercerita dari penulis-penulis yang digemarinya sejak dulu: Haruki Murakami, Koji Suzuki, Fyodor Dostoyevsky, Robert Musil, Arundhati Roy, Adolfo Bioy Casares, Maupassant dan lain-lain.”

Irwan Abdullah, Mahasiswa Postgraduate di IHP, Perancis.

“Deskripsi perkembangan kejiwaan tokoh-tokohnya begitu padat. Celeng Super Melindungi Makassaria lebih licin dari ‘Ikan Peliharaan Syueb’, ‘Iblis Takalaria, Cerita Buat Tuhan dan Kisah-kisah Pilihan’, dan ‘Laki-laki Penderita Muntaber yang Ingin Membuat Kiamat Terjadi di Hari Minggu.”

Tifaya Fadila M., Matematikawan Ruang dan Penyuka Sastra.

“Dalam seluruh isi kumpulan cerpen Celeng Super Melindungi Makassaria, Syahrul menulis dengan semangat bereksperimen yang cerdik dan lihai.”

Anton Likumahua, Pustakawan.

“Dialog antara celeng raksasa dan Modin jadi ruang renungan lalu melahirkan semacam virus-virus yang menjangkiti kepala untuk senantiasa berpikir.”

Aris Siala, Guru Bahasa Indonesia.

“Seperti tiga kumpulan cerpen sebelumnya, kumcer ini dipenuhi tokoh-tokoh dengan karakter yang gila, aneh dan sinting. Saya curiga seluruh tokoh rekaannya lahir dari ketidakwarasan zamannya.”

Adisti Eka Sunandi, Mahasiswa Salah Satu Perguruan Tinggi di Makassar.
Like what you read? Give Muh. Syahrul Padli a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.