Tuhan, aku tak berharap hidup seribu tahun. Enam puluh tahun jatah usiaku sudah lebih dari cukup.

Tuhan, aku hanya berharap satu hal. Hidupku yang telah dihidupi Ibuku jangan buat menjadi pemusnah hidupnya.

Jika Kau mengundi jatah usia, kuharap Kau tidak bertaruh atas hidupnya. Cukup hidupku.

Cabut hidupku nanti dengan kasar tapi jemput ibuku nanti dengan halus.

Camkan wahai Tuhan.

Kepada ibuku, alasanku hidupku tertambat. Dan kepadaMu alasan keberadaanku menjadi bermakna. Jika Kau tak berbaik hati atas hidupnya, lantas mana mungkin aku berharap keberadaanku bermakna di bawah naunganMu?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.