BELAJAR — SUKSES — BAHAGIA

M. Hasyim Taufik — Annisa Nurmala — Raisha Pradisti — Willy Barimbing — Nandito Davy — Irfan Berrizki — Setyo Ramdhoni

12315019–12315061–12315028–12315022–12314041–12314045 –12315042

Kesuksesan sering kali dijadikan tolak ukur bagi kebahagiaan seseorang. Mahasiswa dan seluruh pelajar lainnya sibuk mengejar ilmu sebagai bekal dalam mencari sebuah kesuksesan. Lalu, apakah benar dengan ilmu dan sebuah kesuksesan, seseorang akan menemukan kebahagiaan yang mereka cari?

Mahasiswa ITB sejak lama dikenal dengan pribadi-pribadi yang memiliki tingkat kecerdasan/IQ diatas rata-rata. Intelligence Quotient atau IQ adalah suatu tolak ukur yang pertama kali dikemukakan oleh statistikawan asal Inggris bernama Francis Galton. Dalam papernya, Galton berpendapat bahwa tingkat kecerdasan seseorang yang berhubungan dengan logika, matematika, memfilter suatu data, dan spatial thinking dapat dihitung dengan metode tes IQ. Tinggi rendahnya IQ seseorang selain berpengaruh terhadap cepat/lambatnya seseorang dalam menguasai hal-hal baru, dapat juga memengaruhi seseorang dalam memecahkan suatu kasus dalam pekerjaan. Secara umum, IQ dapat memetakan kemampuan otak kita yang berhubungan dengan logika.

Dengan bekal IQ yang mumpuni tentu mahasiswa-mahasiswa ITB dapat dengan mudah memahami mata kuliah. Namun, mengapa masih banyak teman-teman kita yang kita kenal cerdas, pintar, tidak mampu melanjutkan kuliahnya di kampus ini? Ada banyak faktor yang memengaruhinya, satu diantara yang paling berpengaruh adalah tingkat kecerdasan emosional seseorang atau EQ. Emotional Quotient adalah suatu tolak ukur dalam mengukur bagaimana seseorang dapat mengenali serta menguasai emosi dirinya dan emosi orang lain.

Pada umumnya seseorang yang hanya memiliki tingkat IQ yang tinggi tanpa diiringi dengan tingkat EQ yang mumpuni akan sulit mengendalikan bagaimana dia bersikap dan menghargai orang lain sehingga akan sulit dalam bekerjasama dengan orang lain.

Pada tahun 1979, seorang psikologis bernama John Flavell menemukan suatuhalunik yang dapat “menjembatani” EQ dan IQ. Ia menyebutnya sebagai metakognisi. Metakognisi atau yang sering dikaitkan dengan high order thinking sejatinya erat kaitannya dengan metode pembelajaran dan proses-proses kognitif

Metakognisi adalah suatu cara pikir seseorang terhadap pikirannya sendiri. Dalam contoh kasus sederhana, seseorang berpikir tentang bagaimana cara dia agar lulus suatu mata kuliah, strategi metakognisi seseorang akan menyebabkan dia mampu berpikir tidak hanya sampai “Saya harus belajar” tapi lebih spesifik lagi seperti “Saya harus belajar pada hari tertentu jam tertentu di suatu tempat yang nyaman dan kondusif agar saya tidak terganggu”.

Metakognisi seseorang menyebabkan timbulnya pertanyaan-pertanyaan di dalam hati mereka dalam melakukan/mempelajari sesuatu. Metakognisi juga menyebabkan seseorang memiliki semacam hasrat pribadi dalam melakukan suatu hal sehingga segala sesuatu yang ia jalankan menjadi lebih bermakna. Dari metakognisi tersebut timbul beberapa pertanyaan, seperti mengapa kita kuliah? Apa alasan kita berada di kampus gajah ini?

Setiap orang pasti punya jawaban dan alasannya masing-masing. Satu hal yang pasti adalah semua orang ingin mendapatkan sebuah kesuksesan untuk merasakan kebahagiaan. Ya, semua orang ingin sukses dan bahagia. Apapun alasan kita pergi ke kampus ini, entah itu ingin membahagiakan orang tua, mendapat pekerjaan yang layak, pergi keliling dunia, apapun itu, bukankah semua itu pada akhirnya untuk menemukan kebahagiaan?

Jika kita melakukan sesuatu hanya untuk mendapatkan kebahagiaan di akhir, hal tersebut dapat digambarkan seperti dibawah ini:

Menurut Neil Parischa dalam bukunya yang berjudul “The Happiness Equation”, alasan kita selama ini ternyata salah. Menurut Neil hidup kita harus memiliki alur seperti ini:

Jika seseorang sudah dapat melakukan sesuatu dengan merasa bahagia di awal, tanpa berharap apa-apa pada akhirnya, dia akan menemukan kesuksesan besar. Jika hanya materi yang kita cari di setiap tujuan kita melakukan sesuatu, kita akan menyesal.

Oleh karena itu, kita harus memiliki metakognisi bahwa suatu kesuksesan yang besar diperoleh dengan melakukan segala sesuatu, dalam hal ini belajar, dengan bahagia, tanpa adanya paksaan atau perasaan berat hati. Denman begitu, kebahagiaan yang selalu kita cari akan mengikuti segala proses yang kita jalani dalam mencapai kesuksesan.

“I think everybody should get rich and famous and do everything they ever dreamed of so they can see that it’s not the answer.” –Jim Carrey

Daftar Pustaka :

1. http://www.lib.niu.edu/2000/ip000739.html

2. http://www.diffen.com/difference/EQ_vs_IQ

3. Flavell, J. H. (1979). Metacognition and cognitive monitoring: A new area of cognitive-developmental inquiry. American Psychologist, 34, 906–911.

4. Pasricha, Neil. 2015.The Happiness Equation. New York: Putnam.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.