Metode Resistivitas untuk Menanggulangi Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan merupakan salah satu bencana nasional yang harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah maupun masyarkat. Selesai kebakaran pada riau kemarin, kini terjadi lagi kebakaran di Kalimantan Utara. Satelit MODIS mendeteksi adanya 87 titik panas di Kalimantan Utara pada 3/9/2016, jumlah ini meningkat dari hari sebelumnya 2/9/2016. Pada tahun 2015 saja lahan hutan di seluruh Indonesia yang terbakar mencapai 2,3 juta ha, seperti yang diungkapkan Ir. Nazir Foead, M.Sc (Kepala Badan Restorasi Gambut) pada kegiatan Studium General di UGM (27/5/2016).

Selain dapat menimbulkan kerugian materi dikarenakan dapat melumpuhkan kegiatan perekonomian bencana ini juga dapat menimbulkan korban jiwa sebagai dampak dari asap yang dihasilkannya. Dampak terhadap lingkungkan juga tidak sepele, ekosistem seimbang yang ada dihutan akan terganggu, habitat-habitat alami binatang juga hilang yang bisa menyebabkan kepunahan pada binatang tersebut. Dampak terhadap lingkungan yang lain adalah kebakaran ini akan berkonstribusi dalam peningkatan efek rumah kaca yang dapat mempengaruhi iklim secara global karena CO2 yang diproduksinya. Selain itu, kebakaran hutan juga dapat mengurangi daerah penahan air hujan sehingga dapat menimbulkan bencana lain seperti banjir bandang dan tanah longsor.

Mengingat dampak yang sangat memprihatinkan akibat kebakaran hutan ini, maka masyarakat dan pemerintah harus proaktif untuk menanggulangi bencana ini. Tindakan persuasif harus dilakukan agar tidak terjadi lagi kebakaran hutan yang dikarenakan sengaja dibakar untuk membuka lahan pertanian atau perkebunan. Tindakan pemadaman juga harus dilakukan untuk memadamkan titik-titik api yang telah ada saat ini. Salah satu langkah yang dapat digunakan untuk mencegah agar tidak meluas dan memadamkan api adalah dengan membuat sumur-sumur bor portable yang bisa digunakan pada saat kebakaran hutan. Sumur dapat berupa sumur bor dengan menggunakan diesel atau dengan menggunakan pompa hidraulik yang dapat dipasang pada saat dibutuhkan saja atau pada saat terjadi kebakaran hutan. Sumur ini dapat dibuat di beberapa area hutan yang memang sulit untuk diakses oleh mobil pemadam kebakaran maupun daerah-daerah yang jauh dari sumber air di permukaan. Sehingga sumur ini dan masyarakat sekitar hutan dapat menjadi garda depan dalam upaya pemadaman sebelum ada bantuan pemadaman dari pemerintah.

Dalam upaya pembuatan sumur bor portable ini Teknik Geofisika sangat mempunyai peran yang sangat signifikan. Peran Teknik Geofisika dalam hal ini adalah dengan memetakan daerah-daerah yang berpontesi mempunyai sumber air, sehingga saat menentukan lokasi sumur tidak asal mencoba saja. Hal ini tentu dapat meningkatkan kemungkinan ditemukannya sumber air dan juga mengurangi dampak kerusakan tanah akibat pengeboran yang coba-coba dan tidak mendapatkan sumber air. Dengan menggunakan metode Geolistrik DC Resistivity Seorang Geophysicicst dapat memetakan daerah-daerah dibawah permukaan yang kemungkinan menjadi tempat akumulasi air atau disebut sebagai akuifer. Selain dapat memetakan posisinya dimana dan pada kedalaman berapa, metode ini juga dapat mengestimasi geometri dari akifer tersebut seperti ukuran dan bentuknya. Setelah diketahui daerah-daerah yang potensi sebagai akuifer maka pengeboran dapat dilakukan diatasnya.

Penulis : Gatot Nugroho – TERRA13046

Referensi
http://fkt.ugm.ac.id/id/category/rilis/
http://www.bnpb.go.id/berita/3079/87-hotspot-merebak-di-kaltara-siaga-darurat-belum-ditetapkan

Divisi Pengabdian Masyarakat HIMA TG “TERRA” ITB 2016

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Read By TERRA’s story.