Millennials Tidak Membunuh Apapun
Seri 100 Hari Menulis — Day 7
“N Industries that millennials killed”
“Millennials Kill Everything”
“This is how millennials killed XXX”
Sepertinya saya cukup kesal dengan frase dan anggapan bahwa milennials itu “membunuh” segalanya sampai perlu menulis artikel ini. Sebagai generasi awal millennial yang dipersepsikan “merusak” tatanan yang sudah ada, anggapan ini sepertinya simplifikasi dan ketidakpahaman dari banyak hal yang terjadi dalam 1–2 dekade terakhir ini.
Orwell berkata bahwa (dan saya mengamini):
Every generation imagines itself to be more intelligent than the one that went before it, and wiser than the one that comes after it.
But guess what; you’re not smarter nor wiser.
No you’re not.
Adagium itu menjelaskan dengan tepat apa yang terjadi ketika generasi boomer membuat buku tentang millennials; bagaimana cara mereka menghabiskan uang mereka buat beli latte setiap hari, atau bagaimana mereka lebih memilih untuk menyewa apartemen daripada membeli rumah dengan cara kredit.
Atau juga tentang bagaimana boomers merasa bahwa millennials itu generasi yang entitled, dan tidak tahu bagaimana caranya “kerja keras”, terlalu santai dan seenaknya saja pindah kerjaan kalau bosan. Kalaupun kadang boomers bercerita tentang bagaimana hasil kerja dan perubahan yang dilakukan millennials, maka seringnya tetap diikuti dengan tone yang patronizing — like “yeah u’re a smart ass but I have more experience than you so I know better”.
Tapi sebaliknya, ini juga menjelaskan bagaimana millennials dan gen z yang juga sering bitching tentang bodohnya boomers, apalagi dalam hal teknologi. Bagaimana pakde X selalu minta tolong ngga penting seperti nyolokin printer atau nanya tentang fitur HP ke kamu yang kerja di tech company.
Atau bagaimana si Y yang cerita bagaimana tante mereka overshare artikel yang sebenarnya adalah hoax di Whatsapp group keluarga tanpa sama sekali foto-foto pas lagi ketemuan ke social media tanpa babibu dan ketika diprotes si tante jawab balik “kan kamu juga suka posting fotomu sendiri kan?”
(Dan tante yang sama juga ternyata suka banget share artikel Hoax di Whatsapp dari “group sebelah”)
You guys just live in different time and context
Sebenarnya; semua konflik yang terjadi lintas generasi itu menurut saya adalah materi komedi yang lucu banget. A helluva meme materials.
Tapi ya udah, berhenti di situ aja, jangan lalu kebablasan.
Boomers; stop patronizing.
Kamu tidak hidup dimana industri coffeeshop sebesar sekarang ini, dan pada titik tertentu — ini bagus buat ekonomi. Jangan berpikir bahwa generasi setelahmu tidak punya financial literacy.
Punya properti banyak kayak kamu juga ngga bikin lebih keren kok. Your so-called unwise generation probably prefers to invest in the stock market rather than flashing their luxury cars & fancy houses like you.
You’re not wiser than them. You just live differently.
Millennials (and also Gen Z); stop bitching.
Generasi sebelum kamu adalah digital immigrant. Mereka hidup lama bahkan sebelum ditemukan telepon selular. Coba bayangkan sebuah jaman ketika untuk janjian sama gebetanmu kamu harus menelpon ke rumah mereka, dan yang ngangkat ibunya dulu. Privacy? WTF is that?
Beri mereka pengertian pelan-pelan tentang apa itu consent. Tentang bahwa sekarang internet bisa memungkinkan hal-hal buruk terjadi ketika kamu tidak hati-hati dan asal posting informasi pribadi di ranah publik.
Kasih tahu juga — kalau perlu demonstrasikan cara membuat artikel hoax agar mereka tahu bahwa semua orang bisa menjadi sumber informasi di era citizen journalism ini. Pahami juga bahwa dulu sumber informasi sangat terbatas —ngga kayak jaman sekarang ini.
You’re not smarter than them. You just got lucky born later.
