S.A.D — Seasonal Affective Disorder

Seri 100 Hari Menulis — Day 10

Andy Fajar Handika
Nov 7 · 2 min read
Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Dua hari terakhir ini saya tidak menulis artikel. Entah kenapa saya tidak bisa melawan perasaan malas untuk membuka medium, klik “New Story” dan mulai mengetik.


Sejak awal bulan Oktober, musim gugur sudah dimulai dan suhu beranjak turun hingga satu digit. Dua bulan lalu, setiap hari masih ada sinar matahari bersinar cerah dan suhu kadang diatas 20ºC saat siang. Kini, bisa sampai belasan di siang hari itu Alhamdulillah.

Dua hari terakhir cuaca semakin memburuk, dan sepertinya akan semakin parah dalam minggu-minggu ke depan. Matahari mulai terbit setelah jam 7 pagi, dan sudah tenggelam sebelum pukul 5 — 4.32 sore, tepatnya.

Tadinya saya pikir ini hanya perasaan saja ketika mood memburuk — tidak ada hubungannya dengan cuaca; tapi ternyata menurut beberapa sumber, kondisi ini diakibatkan karena ketiadaan sinar matahari. Istilahnya adalah S.A.D — Seasonal Affective Disorder atau kadang disebut juga dengan Winter Depression.

Menurut sumber resmi dari NHS — gejala-gejalanya antara lain (sebenarnya banyak, tapi ini yang saya alami):

  • mood rendah
  • kehilangan ketertarikan melakukan kegiatan sehari-hari
  • berasa putus asa, bersalah, rendah diri, dan merasa tidak berguna (ngga segitunya sih)
  • energi berkurang dan gampang mengantuk, kurang konsentrasi
  • gampang lapar dan craving karbohidrat, akibatnya berat badan naik.

Beberapa orang di sekeliling saya mulai mengkonsumsi vitamin D — mereka bilang ini bisa membantu mengurangi SAD; apalagi buat orang-orang yang berasal dari negara tropis yang tidak pernah kekurangan cahaya matahari di negara asalnya. Kayaknya saya juga bakal minum sih.

Fenomena SAD ini ternyata baru dimulai , dan ternyata ada hari yang paling menyedihkan — dan secara matematis bisa diukur, jatuh di hari Senin minggu ke-3 bulan Januari.

Kenapa begitu? Karena di hari ini adalah kombinasi dari:

  • Jatuh tempo kartu kredit yang udah pol buat belanja untuk keperluan natal sebulan sebelumnya
  • Pas dingin-dinginnya, ngga ada matahari sama sekali
  • Hari senin, habis weekend harus kerja seperti biasa
  • Duit abis tanggal tua belum gajian

Pagi tadi saya berhasil menyeret tubuh saya untuk ke gym— kegiatan yang seharusnya saya lakukan minimal 2 hari sekali tapi gara-gara winter depression ini saya sempat skip hingga beberapa hari. Sepertinya strategi ini cukup berhasil. Endorphin level tampaknya berhasil naik dan untungnya pula matahari sempat bersinar cerah, jadi hari ini cukup ceria. Saya berhasil kembali meneruskan project 100 Hari Menulis ini. Yay!

Andy Fajar Handika

Written by

Kulina Founder | Cookpad Indonesia COO | Food/Tech Enthusiast.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade