Adam Hawa dan Ambisi.

Tezar Aditya Rahman
Nov 2 · 3 min read

Surga gempar hari itu, Hawa dan Adam, mahluk kesayangan Tuhan ditemukan dalam kondisi telanjang. Dari sana diketahui mereka terbujuk rayu Iblis memakan apel yang konon bisa membuat mereka kekal abadi di surga. Tuhan marah dan mengusir keduanya dari Surga. Cerita kemudian berlanjut hingga Hawa dan Adam beranak pinak dan kini punya keturunan 7,5 milyar orang.

Cerita umat manusia memang selalu dimulai dari nafsu dan ambisi. Malah kita percaya bahwa ambisi dan atau -sebagian percaya hal itu disebut- mimpi adalah bahan bakar bagi kita bangun setiap hari, berebut oksigen dengan milyaran orang, sikut-sikutan, bunuh-membunuh untuk mencapai keinginan yang kita tuju.

Sebagian meyakini ambisi melekat sejak nenek moyang. Begitu manusia brojol tau-tau dia punya ambisi. Mungkin itulah kenapa bayi tidak perlu diajari menangis ketika haus dan lapar. Begitu kita menangis orang tua kita akan tunggang langgang menghampiri mencari tau apa yang kita mau. Tidak perlu diajari hidup manusia akan mencari caranya untuk bertahan di dunia semaksimal mungkin.

Mungkin itu jugalah kenapa buku-buku motivasi dari zaman dulu hingga sekarang selalu hadir, dan anehnya laku terjual. Dari motivasi meraih mimpi, motivasi untuk berlaku bodo amat, hingga motivasi untuk masuk surga. Nyatanya, setiap kalimat motivasi mungkin menggetarkan saat kita baca tapi dalam hidup ini kalimat motivasi kerap bertentangan dengan kondisi ril di lapangan. Lain hal lagi, tidak semua pengalaman motivator akan selalu cocok dengan pemirsa pembaca rahimakumullah.

Ambisi mungkin mengantar manusia ke bulan, ke mars, ke luar angkasa. Tapi bukankah ambisi juga yang mengantar manusia berperang satu sama lain, saling menjatuhkan untuk mencapai puncak tertinggi. Padahal kita semua tahu, seberapa terbatasnya waktu manusia. Setinggi-tingginya manusia menggapai langit, ujungnya akan berakhir juga di tanah. Di makan cacing dan belatung.

Maka berbahagialah mereka sedikit orang yang hidup tanpa ambisi. Hidup yang memaknai Que Sera Sera. Hidup yang perpegang teguh pada Go with The Flow. Inilah para keturunan Adam Hawa yang revolusioner, ibarat memperbaiki keturunan. Mungkin Adam dan Hawa akan bangga pada orang-orang yang demikian.

Ada lagi yang lebih berbahagia. Orang ini punya ambisi. Setiap bangun dari tidurnya dia tau apa yang dia tuju. Setiap hari ia mengarah pada satu titik. Tapi setiap ia mendekati garis finish, dia berhenti. Dia tau apa maunya. Dia hanya mau menggapai-gapai tanpa mau menyentuh, dia berusaha tapi tidak mau menggapai. Orang-orang inilah yang menjadikan mimpi bahan bakar dalam hidupnya. Karena itulah adalah alasan mereka berlari. Mereka khawatir, ketika garis finish terlewati. Besok pagi mereka tidak lagi punya alasan untuk bangun. Maka mereka memelihara ambisi mereka dalam saku, dalam selipan buku-buku, dalam lemari-lemari tua. Mereka percaya mimpi tidak perlu tercapai, selama kita bisa menikmati singkatnya hidup ini.

Maka simpan saja motivasi soal meraih mimpi, artikel soal kebiasaan orang sukses di pagi hari, dan buku apa yang di cara orang-orang sukses.

karena percayalah tidak semua orang ingin mimpinya tercapai.

Dan mungkin saja anak-anak inilah yang paling disayang Ibunda Hawa dan Ayahanda Adam. Di surga sana mereka berbangga punya anak-anak seperti mereka dan berpikir seandainya dahulu mereka juga demikian. Bermimpi kekal di surga tanpa harus mendengar kanan-kiri soal bagaimana caranya kekal. Seandainya saat itu mereka bermimpi kekal dengan menikmati waktu mereka di surga dan menjadi kesayangan Tuhan. Mungkin mereka tidak perlu bersusah-susah di dunia, melihat anak cucu mereka blangsakan seperti sekarang.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade