Biru

Sudah hampir tiga tahun pengembaraanku dalam cerita-cerita yang terus menjadi sejarah di kampus Ganesha ini. Berbagai bentuk kisah dengan bermacam genre sudah aku rasakan secara langsung, terus mengasah-asah seluruh komponen jiwa yang aku punya, sehingga jadilah aku seperti ini. Sejak kapan aku menjadi suka menulis?
Kalau diteliti lebih lanjut perkembangan “embrio” yang kunamai “kedewasaan” ini, bentuknya sudah tidak karuan. Seperti layaknya seorang scientist yang memperhatikan, kalau diperhatikan dengan seksama maka akan dapat terlihat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya. Dan jujur saja, faktor yang paling dominan itu adalah “Himpunan”. Tepatnya, “HIMAFI ITB”.

HIMAFI ITB adalah sebuah wadah berhimpun bagi mahasiswa dan mahasiswi fisika ITB. Itu kalo yang di foto mah yang benderanya biru kuning itu lho.
HIMAFI ITB bagiku adalah suatu semesta dengan sejuta kisah yang bisa kita pilih sesuka hati. Disini, kisahku lebih banyak bertema pusing, galau, baper, ruwet, semerawut, gak jelas, horor (beneran ada horornya kalo di sekre). Dan kisahku berjalan dengan alur campuran, maju mundur bisa suka bisa duka.
Sebenarnya, kisah bertema seperti itu sudah aku rasakan sejak sebelum aku masuk HIMAFI ITB. Ya, tepatnya saat aku melihat pemandangan yang kutunjukan pada foto diatas. Sejak saat itu, kegundahanku dimulai, “mau jadi apa aku nanti di HIMAFI? kisah yang seperti apa yang mau aku bawa nanti setelah lulus sebagai alumni HIMAFI? Aku mau jadi anggota biasa dengan kehidupan biasa aja ah, mau fokus akademik sambil dikit dikit aktif himpunan. eh…tapi jadi ketua himpunan oke juga deh. ah tapi pusing ah kalo megang jabatan. jadi orang biasa aja ah…eh atau….eh…..eh…aahh.” Dan semua pertanyaan itu membuat ku pusing. Pusing karena aku memang orang yang ambisius, tapi malas untuk repot-repot.
Kemudian, kisah ku itu pernah terancam tidak akan jadi aku rasakan. aku hampir saja memilih untuk “Tidak berhimpun di HIMAFI”. singkat cerita saat liburan semester 2. Aku tidak bisa mengikuti setengah dari ospek jurusan (osjur) HIMAFI ITB. ya…Sakit-sakit dulu laah ceritanya. Cukup hanya sakit kecil yang membuat ku tidak dibolehkan ke Bandung oleh dokter. dan seiring berjalannya waktu itu, aku menjadi minder untuk ikut bergabung dengan teman-teman Fermion, Fisika 2013 untuk mengikuti osjur. Hingga aku benar benar mengurungkan niatku dan mengatur ulang jadwal liburan ku untuk benar benar menikmati liburan.
Namun pada akhirnya, secara sederhana aku memilih untuk kembali ke Bandung, mendaftar menjadi anggota muda HIMAFI ITB, dan mengikuti osjur yang belum selesai itu. ya, secara sederhana, aku hanya ingin bersama-sama dengan mereka, Fermion, Fisika 2013, di HIMAFI ITB. Walau aku gugup setengah mati, ternyata mereka menerima ku dengan sepenuh hati. Bahkan, kedatanganku disambut dengan Apresiasi. ya, aku masih memasang tulisan-tulisan mereka tentang ku yang mereka berikan saat minggu-minggu pertama osjur setelah liburan dimulai.

Kemudian, setelah mengalami cerita osjur yang penuh suka duka, akhirnya aku menjadi anggota biasa HIMAFI ITB. dilantik resmi, dan dianugrahi jaket biru HIMAFI ITB yang disaat-saat tertentu terlihat seperti Jaket Almamater ITB. daaaan, segera saja setelah itu, kisah pusing ku dimulai lagi, dengan judul “Menjadi Panitia Acara Wisuda Oktober HIMAFI 2014”. Tidak ada alasan yang ambisius mengapa aku mau ikut-ikutan, hanya karena teman-teman ku Fermion, Fisika 2013. Aku tidak mau luput dalam momen-momen kebersamaan bersama mereka sembari mewujudkan acara wisuda yang mantap.
Sukses bertahan hidup di semester 3, aku melanjutkan semester 4 dengan ambisi akademis. Tiba-tiba saja aku berubah menjadi lebih rajin dari biasanya yang gak pernah rajin rajinnya. Waktu berkutat dengan buku-buku dan bau bau akademis lainnya menjadi lebih lama dibandingkan waktu bersosialku di kampus, termasuk juga di himpunan. Efeknya, aku menjadi jauh dari sekre(sekretariat) HIMAFI karena hampir setiap hari aku pergi ke perpustkaan supaya lebih fokus untuk belajar. Awalnya aku menganggap hal enteng keadaan ini. Namun, setelah berminggu-minggu aku begini, aku malah benar-benar menjauh dari sekre, bahkan untuk sekedar lewat depan sekre himpunan saja aku tidak mau hingga rela memutar jauh dari sekre himpunan saat ingin berangkat atau pulang dari kampus. Ada rasa takut yang begitu besar, rasa sungkan yang begitu dalam, rasa gelisah yang begitu meresahkan, saat aku ingin berkunjung ke sekre himpunan untuk bertemu teman-teman. Meski aku coba berfikir secara logika bahwa itu hanya sebuah rasa takut dan malu, tapi tetap saja rencana ke sekre himpunan tidak terealisasikan juga hingga hampir 3 bulan sejak dimulainya semester baru.
Namun akhirnya, saat himpunan akan mengadakan syukuran wisuda maret 2015, akhirnya aku memberanikan diri untuk datang bertemu dengan teman-teman mengikuti rapat wisuda yang diadakan tidak di sekre himpunan. Gugup, benar-benar gugup. dan begitu aku datang ditempat rapat…..ya sudah….tidak ada hal hal yang aku takutkan terjadi. justru mereka kembali menyambut ku dengan baik. Singkat cerita akhirnya karena harus mengurusi wisuda, aku menjadi sering ikut rapat di sekre yang akhirnya membuat ku sesekali datang ke sekre himpunan. Tak ada alasan yang jelas kenapa aku mau mengurusi wisuda lagi, semua hanya karena aku tidak ingin melewatkan momen-momen kebersamaan bersama fermion lagi.
Jujur saja, memang membutuhkan keberanian yang besar dari diri aku sendiri untuk kembali ke sekre, bergabung bersama teman-teman meski mereka adalah teman-teman ku yang sangat aku sayangi dan aku sudah dekat dengan mereka. Ya, keberanian itu ternyata hanyalah keberanian untuk melawan rasa takut ku dan rasa malas ku sendiri. dan setelah akhirnya aku nyaman kembali berada di Sekre seperti sebelumnya, akademik ku tidak juga menjadi jatuh. Alhamdulillah, Semua berjalan dengan baik, bahkan kini aku mendapatkan pengalaman baru di HIMAFI, dan semakin erat dengan HIMAFI. Dan aku sangat bersyukur dengan pilihanku untuk memberanikan diri bergabung kembali bersama teman-teman di HIMAFI ITB. Sejak saat itulah, aku merasa telah memiliki keluarga di HIMAFI.

Setelah liburan semester 4, dan setelah kami selesai mengadakan kegiatan ospek jurusan HIMAFI ITB menyambut mahasiswa-mahasiswi Fisika angkatan 2014, akhirnya, keluarga kami resmi bertambah dengan masuknya anggota-anggota baru ini. Jujur saja, awalnya aku masih merasa canggung untuk berbicara dengan mereka, aku hanya mengenal beberapa saja dari mereka. Namun aku masih belum merasa dekat dengan mereka. Proses demi proses dan kuliah (ekfis) yang semakin berat, dan karena kami Fisika 2013 juga sudah tidak lagi harus menjadi panitia wisuda, semester 5 akhirnya berlalu dengan tidak terlalu banyak kepusingan. Hanya saja, kisah kepusingan itu kembali dimulai lagi sejak Pemilu HIMAFI ITB dimulai.
Menyambut Drama pemilu yang begitu ruwet dan dramatis, membuat angkatan kami Fisika 2013 yang akan memegang jabatan di HIMAFI ITB selanjutnya menjadi berfikir keras, merefleksikan diri, dan menyusun masa depan. Termasuk dalam diriku sendiri kini timbul pertanyaan. “Aku akan menjadi apa di HIMAFI ITB yang sekarang? kisah apa yang akan aku pilih?”
Pada akhirnya, setelah pemilu selesai, dan terpilihlah ketua himpunan yang baru, aku pun hanya menyatakan dalam diri sendiri kalo aku akan mengambil kisah dimana aku akan pusing lagi, memegang tanggung jawab besar lagi, tidak apa apa. dan akhirnya, aku diminta untuk memegang jabatan yang sangat berat, Ketua Bidang Internal HIMAFI ITB, membawahi Divisi Kekeluargaan dan BRT. Tugasnya: menjaga internal HIMAFI ITB. Resiko kerja: baper. Aku menerima permintaan itu, karena aku memang ingin merekatkan Internal HIMAFI ITB, anggap saja sebagai hutang budi karena aku telah direkatkan dengan HIMAFI juga, yang pada akhirnya jusru memberi manfaat positif padaku sendiri.
Hingga saat ini aku baru 3 bulan memegang tanggung jawab ini, dan tanpa aku sadari, semakin lama aku semakin nyaman dengan HIMAFI, dan juga semakin banyak juga kisah bapernya, dan semakin panjang juga rambut ku sendiri. Aku juga semakin dekat dengan anggota-anggota HIMAFI lainnya selain angkatan ku sendiri, dan aku juga semakin nyaman dengan adek adek tingkat ku Graviton, Fisika 2014.
Semua ini karena aku memilih kisah yang seperti ini, dari sekian banyak kisah yang bisa aku jalani di HIMAFI ITB, yang mungkin juga lebih menyenangkan atau lebih santai, atau lebih sulit dan lebih pusing.
Pada intinya, alasan ku untuk menjadi seseorang Uno di HIMAFI ITB tidak berasal dari ambisi yang begitu besar sejak aku tingkat satu. Semua hanya proses yang aku jalani di sini. Cerita ku banyak berubah ubah naik turun kisahnya. Namun satu yang aku yakini sama dengan pasti sejak awal, Aku hanya ingin bersama dengan teman-teman ku di HIMAFI ITB, yang kini tidak hanya angkatan ku sendiri saja, kini telah bertambah, hingga menjadi seluruh anggota HIMAFI ITB.
Ya. aku ingin bersama-sama terus dengan mereka, mewujudkan apa yang bisa kita wujudkan, bersama meraih impian yang bisa kita capai bersama, karena pencapaian HIMAFI ITB adalah pencapaian anggotanya. setidaknya hingga aku menyelesaikan pengembaraanku di kampus ganesha ini.
ini kok jadi curhat? tenang ini bukan sebuah tugas wajib ya. Aku hanya tiba tiba ingin menulis karena himpunan ini juga membuat ku menjadi suka menulis.
#Dies-49 HIMAFI ITB
#Dies-1 50 HIMAFI ITB
