
Mata Iman
Diingatkan tentang “Mata Iman.” Lalu gue berinisiatif mencari dan membaca lagi tulisan tentang, “Mata Iman.” Terdengar klise, tapi seru sih ngulik arti dari kedua kata tersebut. Oke hari ini, gue mulai dengan membaca kisah seru Elisa, “Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya, “Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?” Kemudian Elisa berkata, “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Dan Elisa-pun berdoa agar Tuhan membukakan mata Gehazi sehingga ia bisa melihat sebenarnya Tuhan telah melindungi mereka dengan pasukan yang jauh lebih besar dari bala tentara Aram itu. Setelah itu tentara Aram pun kemudian disesatkan lewat doa yang dipanjatkan oleh Elisa hingga terlempar ke Samaria, keluar dari Israel.
Jenis mata gue sama seperti si Gehazi, hanya bisa melihat apa yang terjadi di depan mata, tapi tidak tahu harus berbuat apa dan hanya fokus pada masalah sehingga gampang panik. Mata rohaninya tidak berfungsi dengan baik, sehingga berbagai keadaan masih begitu gampang membuat panik. Berbeda dengan pribadi Elisa. Elisa mampu melihat apa yang tidak dapat dilihat orang lain, mampu melihat Tuhan dan tahu bahwa Tuhan jauh lebih besar dari masalah. “Jawabnya, “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka.” Mata iman Elisa berfungsi dengan baik. Ia tidak panik meski keadaan kasat mata sama sekali tidak kondusif. Ia tahu bahwa Tuhan ada bersamanya dan akan melindunginya, dan mata imannya sanggup melihat hal itu.
And the moral of a story : Gue mau seperti Elisa punya mata iman yang berfungsi dengan benar. Seperti Daud berkata, “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.”
Sumber:RenunganHarianOL
