A Magical Night in Singapore

Sekitar bulan November tahun 2016, pas lagi scrolling di timeline Instagram, saya baru lihat kalau Coldplay sedang keliling dunia untuk #AHeadFullofDreamsTour. Setelah nyari tau tentang daftar negara yang bakalan dikunjungin, saya kecewa berat waktu tau kalo Indonesia nggak termasuk negara yang akan dikunjungin mereka. Lebih kecewa lagi setelah tau kalau Singapura & Thailand termasuk negara yang mereka kunjungin. Katanya sih, gara-gara mereka nggak sreg dengan sektor konservasi alam & perlindungan hewan di Indonesia, tapi yang ini belum terkonfirmasi, sih. Yasudahlah.. terpaksa harus ngeluarin bujet lebih buat berangkat ke Singapura. Alasan saya nekat buat bela-belain nonton konser mereka di Singapura, sih, demi ngerasain ‘atmosfer’ pertunjukan konser mereka yang keliatan banget bedanya daripada grup musik lain. Setidaknya, itu yang saya lihat dari video rekaman konser penonton Coldplay di Youtube.
Tiga bulan kemudian, akhir Februari 2017, saya iseng nge-search di Tokop*di* dengan kata kunci ‘tiket konser Coldplay Singapura’. Bener-bener desperate attempt terakhir waktu itu setelah dua bulanan nyari ga dapet-dapet. Hasilnya pun keluar. Tiket konser dengan beragam harga terpampang nyata di layar laptop. Setelah nge-scroll dan memilah-milih dari beragam pilihan yang ada, dari tiket tribun seharga 2 jutaan sampai 4–5 jutaan untuk kelas festival, saya memutuskan untuk memilih tiket tribun saja, karena harga tiket festivalnya sudah nggak masuk akal. Saya paham sendiri kalau harga asli tiket festival cuma sekitar 1,8–2 jutaan rupiah di situs resmi. Saya akhirnya nge-chat salah satu penjual, dan berakhir dengan deal dalam waktu cepat, karena penjualnya sendiri mahasiswa satu kampus bareng saya di Malang yang nggak jadi nonton karena jadwal konsernya tabrakan sama jadwal sidangnya. Semesta sedang baik kala itu.
Setelah deal, dilanjutkan dengan COD-an di depan kos-kosan, akhirnya saya berhasil dapet tiket konser itu di tangan. Satu bulan sebelum konser. Soft file PDF pun juga dikirim ke e-mail, karena untuk show Singapura nggak perlu nukerin tiket ke semacam kartu seperti yang di show Bangkok, jadi tinggal bawa cetakan tiket di kertas HVS. Nanti tinggal dipindai di gerbang masuk. Akhirnya, waktu satu bulan saya habiskan untuk nyari-nyari hotel yang masih ada, karena waktunya yang dadakan, hotel pun rata-rata sudah full booked untuk 31 Maret & 1 April 2017. Terpaksa milih nginep di hotel seadanya, yang penting deket sama National Stadium, venue konsernya nanti. Waktu itu dapet hotel di daerah Geylang (lupa namanya apa), 10 menit jalan juga sampai ke venue.
31 Maret 2017. Hari itu pun datang. Saya memang rencana mau nonton sendirian, sekalian pergi sendiri sekali-sekali ke tempat yang jauh. Pintu stadion dibuka pukul 6 sore, sedangkan konsernya baru mulai jam 8. Saya jalan kaki dari hotel sekitar pukul 5 sore sekalian nunggu hujan reda. Di jalan ketemu banyak orang yang mau nonton juga, lengkap dengan berbagai macam atribut seperti topi, kaos, yang bisa dibeli di kompleks stadion. Setelah ngemper selama setengah jam nunggu pintu dibuka, akhirnya para penonton diperbolehkan masuk. Waktu itu antrian kelas festival mengular sekitar beberapa ratus meter karena memang jumlah mereka yang sangat banyak. Sebelum masuk, penonton dikasih Xyloband yang bakal nyala-nyala dan berubah warna sendiri sepanjang konser.
Pukul 7, konser dibuka oleh Jess Kent yang memang khusus jadi pembuka di show Coldplay di Asia, Australia, dan Selandia Baru. Nyanyinya pun kelamaan. Just give me my Coldplay, nothing else. Deg-degan banget rasanya waktu nunggu Coldplay tampil. Tepat pukul 8, tiba-tiba satu venue gelap, diikuti teriakan histeris 50 ribuan penonton. Chris Martin pun tiba-tiba muncul di panggung. Rasanya bener-bener sulit dijelasin. Senang, terharu, merinding, semuanya nyampur jadi satu. I closed my eyes for a second, trying to let everything sink in.
Konser pun dibuka dengan lagu A Head Full of Dreams, sesuai judul turnya. Mulai dari lagu pertama sampai lagu terakhir, Chris Martin bener-bener loncat-loncatan, lari-larian, sambil tetep nyanyi.. lah itu ngatur nafasnya gimana coba. He was already my favorite musician after only 5 minutes. Saya setuju sama kata orang-orang. Atmosfer yang dibawakan Coldplay bener-bener beda dari yang lain, mulai dari gimmick, pyrotechnics, lighting, confetti, audiovisual.. semuanya keren parah. Apalagi pas mereka ngebawain lagu The Scientist. Suasananya bener-bener syahdu, 50 ribuan orang, masing-masing melupakan permasalahan hidup mereka sejenak, untuk nyanyi bersama. Ini bener-bener sulit dijelasin pake kata-kata. Saya bahkan berangkulan bersama penonton sebelah saya, perempuan dari Indonesia yang nggak saya kenal sama sekali pas lagu Charlie Brown.

Lalu, lagu Coldplay kedua favorit saya setelah Everglow, yaitu Fix You, dimainkan. Ini part yang beneran bikin speechless. It is that kind of song you’d listen to whenever you feel like life is trying to bring you down. Sekilas, saya iri sama penonton di kelas festival. Beberapa saat setelah Fix You, Coldplay pun membawakan lagu Everglow. Semua lampu dimatikan, cuma Xyloband plus satu lampu yang menyorot Chris Martin aja yang nyala. Waktu lagu ini, saya bener-bener cuma berdiri terpaku dengan tatapan yang kosong. Tanpa tersadar, ada satu tetes air mata yang mengalir. Sudah lama saya nggak merasakan perasaan yang saya rasakan saat itu. Setiap denting piano terasa sangat menyentuh. Everglow had reached my deepest soft spot as Chris sang his heart out. Dari sekitar 25 lagu yang dibawakan, Everglow, Fix You, dan Charlie Brown terasa sangat menyentuh dan menenangkan.

Setelah dibuat agak sedih karena Everglow, Chris Martin mengajak penonton untuk loncat-loncat bareng pas lagu Adventure of a Lifetime. Puluhan balon berukuran besar dilepas tepat di atas penonton festival. Vibes pas lagu ini bener-bener kontras karena semua penonton loncat-loncat ngikutin irama lagu. Ini merupakan defining point dari konser Coldplay karena saya ngerasa kalau mereka bukan hanya sekedar membawakan lagu, tapi juga ngasih pertunjukan yang cukup menarik yang pastinya nggak akan pernah dilupakan sama penontonnya. Bahkan, di tengah-tengah konser, mereka sempet-sempetnya pindah ke stage kecil di tengah stadion.
Konser pun ditutup dengan lagu Up & Up. Nggak kerasa sudah hampir dua jam saya loncat-loncat, ketawa, dan sedih bareng penonton lainnya. Di bagian terakhir, mereka sama-sama membungkuk sebagai tanda terima kasih untuk para penontonnya yang sudah setia menemani mereka. Sebuah gestur yang sangat berkelas. Sepanjang jalan kaki menuju ke hotel, lagi-lagi air mata saya mengalir. Damai sekali rasanya mengetahui kalau salah satu mimpi terbesar saya dalam hidup sudah terpenuhi. I came home a different person than I was before.
To every Coldplay member; Chris Martin, the most energetic person I’ve ever seen. Jonny Buckland, the passionate guitarist. Guy Berryman, the bassist, the calm before the storm. Will Champion, the tireless drummer. Thank you. Thank you for creating the best show ever possible. Thank you for making my dream, our dream, came true. Thank you for making that particular night, the best of my life to this day. Thank you for spreading love to the world. Twenty years from now, I would have a story to tell my children at night before they sleep. Thank you.
