Studi Ekskursi ke Korea Selatan (Bagian 1)

Fakhri Farhansyah
Sep 4, 2018 · 6 min read
Late Autumn in Seoul

Nama saya Muhammad Fakhri Farhansyah. Saya mengambil program studi Hubungan Internasional di Universitas Brawijaya, Malang, sejak tahun 2015. Di pertengahan bulan November 2017 lalu, saya, bersama 60 orang teman satu perjuangan di program studi HI lainnya mengikuti kegiatan Studi Ekskursi ke kota Seoul, Korea Selatan, selama tujuh hari.

Perjalanan dimulai pada hari Senin, tanggal 13 November 2017. Kami berangkat dari kota Malang menuju Surabaya menggunakan bus milik perusahaan tour and travel yang membantu mengorganisir perjalanan kami. Perjalanan lancar, dan kami sampai di Bandara Juanda dalam waktu dua jam. Kami menggunakan maskapai Singapore Airlines. Ada sisa waktu enam jam kala itu sebelum penerbangan kami dari Surabaya menuju ke Singapura untuk transit. Setelah transit selama 30 menit, kami melanjutkan perjalanan Singapura-Seoul yang memakan waktu 6 jam 30 menit.

Keesokan harinya, kami mendarat di Incheon International Airport pada pukul 6 pagi waktu setempat (pukul 4 pagi di Jakarta). Setelah mengambil bagasi, kami bergegas memakai jaket musim dingin karena suhu waktu itu berada di bawah 10 derajat celsius. Setelah itu kami bergegas menuju kantor UNESCO Asia-Pacific Centre of Education for International Understanding (APCEIU). Di sana kami dijelaskan beberapa hal mengenai sejarah dan kinerja UNESCO di bidang pendidikan dan lain-lainnya. Setelah kurang lebih 90 menit, kami berpamit untuk sarapan, sebelum berangkat ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul.

Selama program Studi Ekskursi ini, dalam satu hari, kami diberi makan sebanyak tiga kali. Menunya pun bervariasi di setiap restoran, mulai daging sapi dan ayam panggang, seafood rebus, dan hidangan mi ala Korsel. Tentunya disandingkan dengan nasi putih, dan makanan pendamping lainnya seperti kimchi, fermentasi lobak, acar, dan lain-lain. Biasanya disajikan juga minuman soju khas Korea dalam takaran kecil karena tradisi meminum soju ini sangat mengakar di Korsel. Saya tidak ingat nama-nama restorannya, karena rata-rata ditulis dengan menggunakan Hangul (alfabet Korea).

Setelah selesai sarapan, kami bergegas menuju KBRI Seoul, di sana kami disambut oleh Bapak Aji Surya, selaku Kepala Fungsi Penerangan. Selama satu jam, kami mendapatkan kuliah umum dari beliau tentang beberapa hal, mulai dari hubungan diplomatik Indonesia-Korsel, budaya Pali-pali yang dipegang teguh oleh warga negara Korsel, dan lain-lain. KBRI Seoul sendiri berlokasi di kawasan Yeoeuido-Dong yang cukup strategis, berdekatan dengan pasar ikan laut Noryangjin. Kawasan ini terbilang cukup elit di Seoul.

Setelah itu, ada waktu bebas untuk para peserta. Kami diantarkan ke kawasan pusat perbelanjaan Dongdaemun. Saya, bertujuh, memisahkan diri dari rombongan besar untuk pergi ke pasar Gwangjang karena bosan dengan mal. Di pasar, karena sudah banyak kios yang tutup, akhirnya kami hanya makan Tteokbokki, makanan ringan khas Korsel yang menggunakan tepung beras sebagai bahan. Kios Tteokbokki berserakan di sudut-sudut kota Seoul, harganya berkisar antara KRW 2500–3000, atau sekitar 35 ribu rupiah. Sedikit mahal apabila dikonversikan ke dalam rupiah, tetapi sangat sepadan dengan kelezatannya. Lebih enak dimakan selagi hangat, mengingat udara Seoul di musim dingin kala itu sangat menusuk kulit. Setelah itu, kami bergegas ke stasiun subway terdekat untuk mengejar kereta terakhir menuju tempat kami menginap di Intercity Hotel yang terletak di kawasan Gangseo-Gu.

Esok harinya, tanggal 15 November 2017, jadwal kami adalah menuju ke Universitas Sungkyunkwan. Setelah sarapan di hotel, kami bergegas menaiki bus. Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, kami pun sampai di lokasi. Di Universitas Sungkyunkwan, kami disambut oleh mahasiswa lokal yang bertindak selaku pemandu untuk kami. Universitas Sungkyunkwan ini cukup menarik karena sejarahnya yang panjang. Universitas ini didirikan pada tahun 1398, lebih dari 600 tahun yang lalu. Lokasinya pun cukup strategis di jantung kota Seoul. Reputasinya pun tidak diragukan, setidaknya di negaranya. Setelah mendapat kuliah singkat tentang profil dan sejarah kampus, kami mengikuti tur kampus. Di sekitar gedung kampus yang selayaknya gedung-gedung perkantoran, kami berkeliling di sekitar. Terdapat bangunan seperti asrama mahasiswa yang tetap mempertahankan ciri khas arsitektur Korsel di masa lampau. Ada juga perpustakaan Jongyeonggak yang merupakan perpustakaan pertama yang didirikan di Korsel pada tahun 1475. Suasananya cukup menenangkan, dengan udara sejuk diselingi hangatnya matahari pagi, ditemani daun-daun berwarna kuning, merah, dan hijau yang berguguran.

Selepas dari Sungkyunkwan, kami bergegas untuk makan siang, dilanjutkan dengan kunjungan ke Samsung Innovation Museum. Di museum ini kami diperlihatkan sejarah Samsung sebagai suatu perusahaan yang berdiri sejak tahun 1938. Kami diperlihatkan barang-barang elektronik yang diproduksi Samsung pada awal berdirinya seperti televisi, kulkas, kalkulator, pendingin ruangan, dan mesin cuci. Kami melihat-lihat produk awal mereka yang sangat sederhana sampai produk-produk terkini mereka mulai televisi UHD, hingga kulkas yang disisipi artifical intelligence atau teknologi serupa sehingga bisa digunakan untuk memutar musik. Kami juga melihat prototype awal dari telefon genggam berukuran tebal yang menjadi cikal bakal dari produk flagship Samsung seperti Galaxy S & Note. Bahkan, Samsung melalui anak perusahaannya, juga sempat memproduksi alat maupun kendaraan militer seperti tank yang diekspor ke beberapa negara. Selain itu diputarkan juga rekaman video sejarah Samsung menggunakan layar besar di suatu ruangan kedap suara. Museum ini terbilang cukup besar, karena dibutuhkan kurang lebih 45 menit untuk menjelajahi satu gedung. Gedung museum ini terletak dalam satu komplek dengan Samsung Headquarters di kawasan Suwon.

Setelah puas menjelajahi museum, kami bergegas menuju studio Korean Broadcasting System (KBS) yang berfungsi sebagai kantor berita dan produser dari drama Korea yang biasa kita tonton. Di dalamnya terdapat banyak ruangan yang difungsikan sesuai kebutuhan dari studio. Ada ruangan khusus yang berisikan properti drama, ada juga ruangan khusus berisikan blue screen untuk memproduksi siaran berita. Nantinya setelah melalui proses editing, di layar televisi menampilkan globe yang berisikan perkiraan cuaca di beberapa lokasi seperti yang lazim kita lihat. Tidak terlalu banyak ruangan yang bisa kita masuki, setelah itu kami melanjutkan tur dengan berjalan di dalam komplek studio. Terdapat satu perkampungan kecil dengan bangunan-bangunan hanok atau rumah yang khas dengan plafon yang tidak terlalu tinggi. Suasananya pun menyenangkan karena kami seperti diajak bernostalgia dengan suasana di Korsel sebelum era modern. Hal yang saya suka dari Korsel adalah pengelolaan cagar budaya yang baik. Di tengah gempuran hutan beton, masih terdapat bangunan-bangunan yang mempertahankan ciri khas arsitektur Korea Selatan di masa lampau sehingga perjalanan ini terasa sangat memorable. Di tengah modernnya kota Seoul, saya masih mendapat feel tentang sejarah Korea Selatan dan suasananya di masa lampau dengan melihat beberapa bangunan tertentu yang tidak serta-merta dipugar menjadi lebih modern, namun tetap mempertahankan sisi otentiknya.

Setelah mengunjungi KBS selama 75 menit, kami diantarkan menuju kawasan Hongdae. Kawasan ini cukup ‘hidup’ di malam hari karena terdapat toko-toko dan bar yang buka sampai pukul 10 malam. Saya, bersama lima orang teman, memisahkan diri untuk jalan-jalan sendiri. Ada yang berbelanja skincare untuk diri sendiri atau oleh-oleh, ada yang berbelanja pakaian. Pilihan toko pun cukup beragam, mulai dari Nature Republic, Innisfree, Tony Moly, H&M, Adidas, hingga SPAO, brand asli Korsel. Di gang-gang Hongdae juga banyak kedai kecil yang menjual makanan ringan mulai dari sate-satean, Tteokbokki, dan juga Odeng. Ini yang menjadi ciri khas kota Seoul di pusat-pusat keramaian seperti Myeong-dong atau Hongdae, banyak variasi street food yang bisa kita coba di setiap gang. Jujur, saya sangat suka berbelanja street food setiap berkunjung ke pusat keramaian seperti ini, terutama Tteokbokki, karena rasa pedasnya yang khas di tenggorokan, yang membantu menghangatkan di tengah angin Seoul yang menusuk ke tulang. Harganya pun setara apabila dibandingkan dengan jajanan di dalam mal di Jakarta ataupun Surabaya.

Puas berkeliling, jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, stasiun sudah tutup. Kami pun mencari taksi. Setelah mencari cukup lama karena rata-rata mereka banyak yang sudah dipesan, kami pun menemukan taksi yang mau mengantar kami pulang. Kami harus bernegosiasi harga waktu itu, karena mereka sudah mematikan argo. Naik taksi sebenarnya tidak direkomendasikan apabila berkunjung ke luar negeri, karena tarifnya yang sangat mahal. Naik MRT menjadi pilihan karena lebih cepat dan jauh lebih terjangkau tarifnya.

Fakhri Farhansyah

A @ChelseaFC fans since 7 years of age. My old account was locked by Twitter.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade