Aliran-aliran Karya Sastra yang Keruh

Setiap periode sastra, biasanya ditandai dengan aliran-aliran tertentu yang menjadi ciri khas tentang identitas sebuah periodesasi. Dalam mengungkap pelbagai batasan-batasan, yang berupaya menggambarkan prinsip-prinsip tertentu. Misalnya cara pandang hidup, kondisi sosial dan lain-lain dalam menciptakan karya sastra. Istilah-istilah seperti naturalis, materialis dan idealis adalah salah tiga dari beragamnya aliran-aliran karya sastra. Hingga beberapa diantaranya menemukan sebuah kekeruhan yang cukup mengganggu. Awalnya, ketiga ini merupakan sebuah istilah dalam sejarah intelektual — yang sering digunakan atau minimal ditemukan di kalangan ilmu filsafat sebagai suatu falsafah hidup. Entah hidup yang seperti inikah yang dimaksud. Setiap manusia memiliki pengertian dan cara hidupnya masing-masing, terkecuali kematian. Aliran yang pasti dari sebuah kehidupan adalah hanya untuk menuju ke hilir atau berenang menuju ‘air’ terjun kematian. Namun, terkadang kita menemukan banyak orang-orang yang tak pandai berenang, sembari melawan arus untuk menjauh — menghindari kematian.
Sastra idealisme: sebuah aliran yang bertolak dari cita-cita yang dianut oleh penulis. Kata idealisme seringkali ditemukan dalam materi-materi perlawanan yang sifatnya kokoh dan teguh. Minimal, perlawanan kepada tindakan represif atas diri sendiri kepada pikiran atau mungkin jiwanya. Saya pernah mendengar bahwa idealisme adalah kekayaan yang memerdekakan tanpa takut untuk dicuri, seperti harta — selain lenyap seketika. Jika berbicara dalam sastra, aliran ini menjelaskan segala sesuatu yang ada di alam. Maksudnya ini hanyalah bayangan dari bayang abadi yang tidak terduga oleh pikiran manusia. Kemudian ia memeta-metakan dirinya menjadi lima agar lebih mudah dimengerti: romantisme, simbolik, surealisme, mistisisme dan ekspresionisme. Dari kelima ini, saya sendiri lebih menyukai yang aliran yang terakhir. Sebuah kemampuan ‘ajaib’ ketika melihat realitas yang ada dan tidak ada di luar dan dalam kepala.
Sastra naturalis: Katanya, sebuah perkembangan dari realisme — bagian dari materialisme. Naturalisme berbicara bahwa sebuah karya yang berupaya untuk berbicara secara jujur tentang sesuatu. Maksudnya, ia ingin menggambarkan realitas secara jujur. Namun sayangnya, ibarat air yang terlalu jernih atau sungai yang terlalu tenang, cenderung berlebihan dan bahkan terkesan jorok. Semuanya menjadi begitu benar-benar nyata, tanpa kebohongan. Padahal, kebohongan adalah rahasia terbesar dari kebenaran. Terlalu transparan artinya tak menganut rahasia apapun, termasuk kekeruhan. Tapi, dalam berbagai kasus, aliran naturalis dalam karya sastra begitu sukar ditemui secara gamblang. Berbeda ketika ia menjelaskan dirinya, dengan menemukan dirinya.
Sastra materialisme: Semua hal yang diyakini, segala sesuatu yang melekat pada dirinya dapat diselidiki dengan bantuan akal manusia. Pertanyaan yang kemudian muncul ketika berbicara materialisme adalah apakah dunia yang ada di dalam kepala mutlak harus dimatikan, atau minimal dilupakan begitu saja? Satu-satunya kenyataan di dunia adalah dunia yang ada di luar kepala, dapat disadari dengan indera, tidak dengan rasa atau asa yang pas-pasan. Bagian ini menjadi musuh utama idealisme, sebelum menjadi ideologi. Materialisme membagi dirinya menjadi tiga bagian agar lebih sedikit mudah dimengerti: impresionisme, realisme dan romantisme. Ketiga aliran ini telah memunculkan kekeruhan untuk dirinya sendiri. Salah satunya bahwa romantisme berada diantara dua atau perasaan dilematis — ia termasuk ke dalam materialisme sekaligus idealisme.
Simbol idealisme dari romantisme adalah perasaan. Objek yang dikemukakan tidak lagi asli, tetapi telah bertambah dengan beberapa unsur tambahan dari seorang penulis. Romantisme akan berdiri baik di tataran idealisme ketika memberikan dampak stimulus terhadap cara, rasa, asa terhadap suatu hal yang dianggap perlu.
Simbol materialisme dari romantisme adalah kesedihan atau air mata yang jujur. Imanjinasi lebih berharga dibanding aturan formal atau fakta-fakta yang sifatnya tak tahu cara berkata-kata, atau minimal berada diantara mata-mata yang lupa cara untuk melaporkan kejadian pada saat itu sebelum ia resmi melupakan semuanya. Materialisme romantik memiliki konotasi sebuah usaha-usaha yang sifatnya kadang-kadang berlaku jahat kepada idelisme.
“Rambutmu terlalu panjang, cukurlah agar terlihat rapi dan lebih baik”
Anggaplah bahwa memanjangkan rambut adalah sebuah simbol, lebih tepatnya simbol perlawanan mengenai konstruksi sosial yang sudah terlanjut terbangun dan kokoh, feminisme — maskulinitas. Bahwa yang berambut panjang itu adalah perempuan, dan termaktub kepada sifat yang dianggap feminis — feminim. Simbol perlawanan sebagaimana yang dimaksud, mungkin saja dinamakan oleh sebagian orang adalah sebuah idealisme, walaupun tak terasa begitu mutlak. Romantisme dan idealisme bagai dua hal yang — kesedihan dan hujan.
*beberapa tulisan diatas terinspirasi dari artikel rumpun nektar mengenai aliran-aliran sastra