Baju Kaos dan Realisme Magis Kata-kata

Tidak tahu kenapa, dan dengan alasan yang cukup jelas, sejak semester lima mengakhiri dirinya, kebiasaanku yang selalu memakai baju kaos dengan kancing kemeja yang terbuka (jika mengenakan kemeja) berubah menjadi tertutup. Hal ini terjadi tiba-tiba dan mungkin bagi sebagian orang yang tidak terlalu mengenal karakter saya terlihat biasa saja, dan yang merasa sangat mengenal kebiasaanku yang satu ini pastinya bertanya — minimal langsung menanyakan hal ini kepadaku. Maka saya akan menjawab dengan jawaban yang terkesan keren.

“Mungkin karena dia (kemeja) mengikuti situasi hati saya. Tidak seperti dulu lagi yang terbuka”

Tapi, jika pertanyaan ini dilayangkan oleh perempuan yang seharusnya menutup hati saya. Maka jawaban saya akan sejalan dengan mata orang-orang lain di sekitarnya, dan tentu tanpa menyakiti perasaan dan penegasan tentang jawaban saya itu, nantinya. Namun kembali lagi, ini hanya pengandaian.

Iya, saya pribadi menyadari hal ini dan jujur saja, sejak menjadi mahasiswa, saya sangat malas membeli kemeja atau segala hal yang memiliki kerah di leher. Hanya karena saya patuh ataupun lemah di hadapan sebagian dosen, maka saya pada akhirnya memakainya juga, mungkin karena selama ini tidak ada lagi alasan untuk tidak memakainya. Namun, tetap dengan kancing yang terbuka.

Saya menyukai mengenakan baju kaos. Hampir semua aktivitas yang saya lakukan dan jalani, termasuk menghadiri acara yang notabennya bagi kaum yang berkerah termasuk ke dalam acara formal. Mungkin, bukan hanya saya — hampir semua orang menyukainya. Seperti semua laki-laki kepada setiap perempuan. Jelas, karena kaos merupakan salah satu model baju yang dianggap oleh banyak orang itu cukup simpel dan murah. T-Shirt menjadi gaya tersendiri untuk mengkampanyekan sesuatu, mendeklamasikan hal, atau media romantisme bagi sebagian pasangan — pun perasaan. Selain fungsi utamanya yaitu melindungi tubuh dari segala hal yang dapat merugikan hal yang lain.

Fenomena kata-kata kian masuk ke milenium baru. Kekuatan kata-kata kini telah bermetamorfosis menjadi lebih luas dan hampir menyentuh segala aspek yang ada di abad 21 ini. Cinta, kebebasan, keabadian hingga kematian. Atau hal apapun itu, kata-kata adalah harta yang dimiliki oleh seseorang yang hanya dapat lenyap dengan kematian. Namun, jika kata-kata itu ditulis, tentu keabadian ada padanya. Saya kembali mengingat sebuah penggalang kalimat seperti ini, jika ingin mengenal dunia, maka membacalah. Tapi, jika ingin dikenal dunia, maka menulislah! dan saya akan sedikit menambahkan, diakhir kalimat — jika tak ingin mati sia-sia, cintalah saya. Untuk kamu yang selalu merasakan hal yang tidak pernah sama dengan perasaan saya. Mari menyatukan perbedaan.

Apa hubungannya dengan paragrap pertama, kedua dan ketiga? berbicara mengenai pengalaman pribadi, fenomena kancing kemeja terbuka dan keabadian. Saya akan membuatnya saling berhubungan dengan aktivitas saya malam ini, seraya menikmati kendaraan Ibu kota yang berlalu lalang di malam minggu yang biasa-biasa saja.

Baju kaos atau T Shirt kini tak lagi dianggap sebagai pelindung badan atau apapun yang berhubungan langsung dengan kata ‘‘melindungi’’ dan tubuh. Orang-orang kini melupakan dan bahkan tak ingin tahu lagi fungsi utama dari baju kaos. Lihat saja sebagian besar manusia-manusia Ibu kota — bahkan juga desa, jika hendak membeli kaos, tentu saja pertimbangan seperti merek, warna kesukaan, bahan atau simbol yang ada menjadi aspek utama alasan untuk membelinya. Bukan lagi alasan untuk melindunginya. Ini akan sejalan dengan pergeseran makna dan tentu saja mengikuti perkembangan pola dari manusia. Saya tidak akan dapat membayangkan bagaimana jika hal ini menyentil langsung problematika manusia —seperti manusia dengan cinta atau cinta dengan kesedihan.

Jika melihat gaya dan paradigma waktu dan tentu saja, baju kaos itu sendiri — maka akan ditemukan fakta bahwa selain kertas, batu, pasir pantai, atau apapun itu — kaos menjadi medium yang sangat menjanjikan untuk dijadikan ruang menulis. Menulis dengan kata-kata yang dianggap memiliki kekuatan dan daya untuk mewakili si pemakai, tanpa melupakan si pembuat. Hal ini kian ramai dilakukan oleh beberapa pelaku dunia fashion. Bahkan bisa memperkenalkan banyak di dunia ini, termasuk karya-karya sastra klasik dan modern dengan kekuatan magis yang dimiliki karya tersebut dan tanpa melupakan pengarang yang bersangkutan, tentunya. Peran kemeja dalam hal ini, selain tujuan utamanya — tentu menurut saya adalah penghapusan kekuatan magis kata-kata, selain merapikan sudut pandang mata yang melihatnya.

Marilah kita menikmati orang-orang yang lewat dengan tingkat kesadaran yang hampir-hampir saja lenyap.

2016

*dimuat pertama kali di www.revi.us

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.