Membaca Halusinasi & Mengeja Literasi

Sumber : www.google.com

Saya senang. Jika kau tak percaya, lanjutkan ketidakpercayaanmu dengan menyelesaikan tulisan ini dengan senang. Sebenarnya tulisan ini telah duduk santai di sebuah taman atau ruang-ruang hampa dengan perpustakaan yang memiliki buku-buku tidak teratur dan mengikhlaskan dirinya untuk dibaca oleh orang-orang yang selalu merindukan kesunyian. Salah satu penulis lokal pernah berkata dan menulis — di kota, tempat yang menyajikan kesunyian yang pasti adalah perpustakaan dan kita. Dan yang tidak pasti, banyak orang-orang yang sulit berbicara jujur terhadap dirinya. Ada segelintir orang tentu menyimpan dirinya dalam bayang-bayang sunyi milik orang lain.

Kita disambut dua peringatan hari penting dunia luar dan dalam negeri, yakni Hari Buruh Internasional (Mayday) dan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Dua momentum yang tanpa perayaan — bahkan pesta. Tapi tak apa, sederhana tetapi tetap romantis. Keduanya memang punya relasi yang kuat dalam konteks yang linear, sebuah jalur yang saling melengkapi untuk kesempurnaan jalan-jalan yang tak hanya sebatas arus-arus kaku, lancar dan bebas hambatan. Namun keduanya dapat kita daulat sebagai trotoar dan marka jalan, agar terjadi kesinambungan yang ideal dan nyata. Agar para pengendara tak lupa jalan menuju dan jalan pulang. Karena bagaimana pun, manusia akan selalu berupaya kembali dengan alasan-alasan dan perasaan yang sama ketika hendak meninggalkan. Tentu semuanya tak lain dan bukan demi kesejahteraan sosial bagi seluruh — Rakyat kapitalisme birokrat komprador, pemilik modal dan separuh milik untuk para kaum tani dan kelas buruh.

**

Membaca adalah menikmati ketidaktahuan. Kondisi diri yang kadang diakui sekaligus dihindari oleh orang-orang masa kini. Membaca bukan persoalan teks yang memiliki sifat tertulis, juga bukan permasalahan proses menjalani masa yang bukan milik pembaca atau cara-cara nikmat menikmati kesunyian demi hati yang terlalu ramai, namun ini perkara manusianya. Kadang kita memilih untuk tidak tahu demi sesuatu yang hendak ingin kita ungkap. Persoalannya, apakah manusia Indonesia paham betul mengapa statistik dari UNESCO menempatkan Negara kita di posisi yang sangat miris?

Kondisi yang juga akhir-akhir ini menjadi buah dada, sekaligus bibir yang ranum. Ketidaktahuan yang akhir-akhir ini menjadi tren hingga menciptakan ketakutan. Sebut saja masalah samaran — simbol-simbol PKI yang akhir-akhir ini ramai diberitakan media, atas ditangkapnya beberapa pemuda yang mengenakan kaos merah dengan palu dan arit di bagian depan. Ada juga pedagang baju kaos di sebuah kota sederhana, sebut saja Jakarta, yang didapat oleh pihak aparat menjual produk dengan atribut simbol yang katanya dilarang di sana. Saya di sini merasa heran, dan sedikit bebal dengan kejadian-kejadian menyesatkan ini — maksud saya, menyesatkan sejarah. Kemungkinan, kebanyakan dari kita, terlalu banyak menelan pil yang menyebabkan kita terlalu paranoid terhadap apresiasi dalam sejarah panjang umat kaum pekerja industri dan tani yang pernah terjadi pada 1917 dalam sebuah revolusi. Secara hukum, mempelajari komunisme diperbolehkan dalam konteks pendidikan, tetapi dilarang jika ada upaya penyebaran paham itu di lingkungan masyarakat.

Komunisme dan simbol-simbolnya yang memiliki kesan buruk dipengaruhi oleh kuatnya doktrin rezim Orde Baru. Dengan persepsi yang diasosiakan sebagai hal yang tabu dan terlarang. Dan masalahnya, tak banyak orang yang membaca kemudian menggali jauh dari persepsi itu dan memahami seluk-beluk sejarahnya. Palu arit, yang melambangkan kaum pekerja industri dan petani, muncul dalam Revolusi Rusia pada 1917 dan terus digunakan (serta dimodifikasi) sebagai lambang komunisme di berbagai negara, termasuk Indonesia. Itu menjadi salah satu simbol komunisme yang terkuat, selain simbol bintang merah, senapan (gerakan kiri di Arfika), dan jangkar (di Jerman Timur), kata sejarawan.

Kebanyakan pembaca yang budiman hanya membaca suatu halusinasi tertentu dan terselubung, hingga lupa cara mengeja yang baik dan benar. Kondisi literasi kita saat ini memang patut berbangga dan boleh menyingsingkan lengan baju. Telah banyak komunitas literasi bermunculan di kota-kota, konsep-konsep kreatif yang diharap mampu membangun daya tarik orang-orang untuk membaca telah bermunculan, serta medium-medium seperti musik, puisi, surat dan kafe telah menyulap diri atas nama sastra dan literasi agar tetap menjadi ruang sederhana untuk menyalurkan kegelisahan-kemuakan orang-orang atas manusia-manusia yang lain, beserta dunianya. Sekali lagi, kita patut bersyukur.

Belum lama ini, sebuah kegiatan literasi bertajuk Asean Literary Festival sukses digelar di Ibu Kota — walau ada beberapa pihak yang ingin kembali ke zaman mengeja, mencoba menggagalkan beberapa item kegiatan itu yang dianggap tidak. Dan belum lagi — juga, beberapa hari ke depan, salah satu event literasi keren yang menurut saya — iya memang dia keren dan baik. Kegiatan yang bertajuk Makassar International Writers Festival (MIWF 2016) yang terbesar di kawasan Indonesia Timur akan kembali dihidangkan dengan menu-menu yang menarik, serta alasan-alasan yang selalu membuat manusia-manusia seperti saya dan kawan-kawan yang lain tertarik ikut dalam keramaiannya yang bersahaja. Apalagi, harapan besar yang diangkat oleh penyelenggara event ini memikul tema; Baca!

Bukan sekedar berhalusinasi hingga mengejar alusi-alusi bodoh, tanpa ritus-ritus yang kita percayai — yakinlah bahwa, membaca seperti kita yang tak seharusnya pergi setelah mampu mengeja kata dengan baik. Mahir membaca karena kita mencintai proses sewaktu menjalani masa-masa sederhana dan menghargai waktu. Sekarang, manusia-manusia bepergian dengan keinginan yang cepat tanpa ingin tahu sebuah proses yang tepat, tanpa usaha yang betul-betul sesuai dengan kemampuan. Semua yang terjadi memang persoalan waktu, tetapi apakah waktu bijak mempersoalkan kematian ketika menyimak Justin Timberlike dalam film In Time. Saya bersyukur, saya tidak terlalu mengerti mata kamera — dibanding matamu yang sayu.

Membaca itu tidak hanya sekedar membaca. Jika teman-teman menonton Mata Najwa pada Rabu 11 Mei lalu, maka kesayuan mata teman-teman layak untuk dimengerti oleh siapapun. Saya yakin bahwa keraguan itu muncul untuk saya. Membaca proses menjalani ketidaktahuan. Sekali lagi, tidak tahu itu keren!

Semoga tak ada lagi kata yang patut kita sayangi — selain kamu dan sejumlah cahaya setengah sembunyi mulai membaca keraguanku, yang seolah tak percaya bahwa mungkin hanya saya yang mengerti cara memeluk lekuk tubuhmu dengan fasih dan mengeja.

**

Kampus Sastra UNM — Makassar 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.