Peradaban dalam Tubuh

Apa yang salah ketika ‘kebahagiaan’ tersusun atas pesona yang biasa-biasa saja? Adik paham maksud kakak? ngomong-ngomong, terima kasih atas hari ini. Atas kopi dan suasana kongkow yang sedikit melenceng dari kebiasaan orang-orang di malam minggu.

Beberapa hari yang pergi. Salah satunya kemarin, ketika senja dirundung masalah serius tentang pemberontakan malam. Ia menandai diri tidakdengan perlawanan atau pertahanan yang cukup membuatnya gelap. Ia gerimis, sempat terpikir di hadapan keramaian saya kemungkinan besar menulis puisi
tentang waktu di dua mata(mu) yang belajar menasbihkan rindu. Dik, bulan juli baru saya usai, baru saja pergi, dik, bersama lebat hujan pagi tadi
yang mencuri beberapa dari diri kita dan kata dari sebuah cinta dan sajak. Percuma kita memeram, cemas atau merontah seperti ketiban perasaan yang salah. Ada rahasia yang mesti harus kau tahu, dik. Di dalam tubuhku, ada peradaban yang pernah kau tinggali, tetapi tak pernah tersimpan baik di kenangan tubuhmu. Anak dan cucu yang Ayah dan Ibu idam-idamkan berniat pergi sebelum ia menebus dirinya dengan kesendirian. Aku bahkan tahu, bahwa kau pernah membuka seluruh apa yang membungkus tubuhmu. Kulit yang kau kenakan melilit di tubuh, dan berharap ia tidak mematikan nafasnya. Cukup dengan meluruhkan kehidupan lain dengan menindih tubuhku dengan dua bukit di bagian indahmu.

Aku tahu, dik, bahwa hidup bukan sekedar menghirup dan mengisi paru-paru dengan segala yang membuatku masih tetap ada, atau perumpamaan dalam kalimat dan paragraf yang entah jadi kitab atau minimal kepercayaan orang yang sedang patah hati. Barangkali kegembiraan kita, menyadari sepenuh mati bahwa kau yang biasa-biasa saja dapat dengan mudah membangun rumah tanpa jendela, dan aku dapat dengan mata menemukanmu di tiap udara yang membawakan surga yang lain. Surga yang tidak pernah dikatakan oleh Tuhan.

Kini, basah persawahan tak dihiraukan padi yang merunduk. Jalan-jalan tanpa pejalan dan pemabuk kehidupan. Ia memilih lembab jalan seperti kematian yang tak juga segera beranjak, dan sementara angin basah karena daun-daun basah, seperti cinta kita yang tabah dieja kesederhanaan.

2016

Like what you read? Give Wahyu W. Gandi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.