Tiga Puisi di Serambi Indonesia

Mendengar Kabar Ayah
Suaramu parau
Teringat teriakan ayah dulu,
“Wan, sudah waktunya pulang!”
Kala kancing bajuku jadi saksi jemarimu
Membesarkanku sebagai anak lelaki
Tanpa ada siapa-siapa di sisi.
Dengan jiwa teguh menemani haru
Kau tetap ada meski mereka,
Bilang sebentar lagi kau akan tiada.
“Wan, sudah waktunya pulang!”
Burung gagak memecah senja
Dan langit tentu menerima kita
Sebagai ayah dan anak.
2016
Jika Ayah Membacakan Cerita
Huruf-huruf benar-benar hidup lalu berperang
Aku terperangkap seketika dan lupa pulang
Dua buah kura-kura memohon ingin beristirahat
Setelah kupinta kepada ayah, lupakan kata tamat.
2016
Pesan Ayah Kepadaku
Jika batu dan temanmu berubah jadi sesuatu
Kau tak perlu jadi apa-apa untuk,
membuatku bahagia.
Kau tetap kau dan tak perlu jadi apa-apa
Di tepi sungai,
saat kail pancing tenggelam
Kulihat ayah penuh sabar
Meski terus menerus
Di letak kail ayah
Kulempar batu kerikil kecil.
Kulihat pesannya hadir bersama ikan
Yang di dapatkan ayah
Sehabis memancing bersamaku.
2016
Ketiga puisi ini dimuat pada tanggal 18 Desember 2016 di Koran Serambi Indonesia, Banda Aceh. Jika teman-teman berminat mengirimkan karyanya, bisa via email aiyub.azhari@gmail.com dan selagi menunggu karyamu terbit, bisa baca buku beliau yang berjudul “Perempuan Pala dan Serumpun Kisah Lain dari Negeri Bau dan Bunyi” Ia kadang memberi kabar jika puisi akan dimuat. Selamat mencoba!
