Sumber Gambar: Credit

Masih Mengandalkan Uang Kertas dan Logam? Cobalah Manfaatkan 5 Kelebihan ‘e-Money’

Uang kertas dan logam, yang dikenal juga dengan sebutan uang kartal, merupakan alat bayar yang sah untuk melakukan transaksi dalam kehidupan sehari-hari. Walau bentuk maupun dimensinya cukup mudah untuk diselipkan di kantong, namun beberapa aspek yang dimilikinya membuat eksistensi uang kartal terkadang terasa ketinggalan zaman.

Masih teringat jelas di benak saya akan kenangan masa kecil dulu, saat sekeping uang logam Rp100 sudah mampu untuk membeli beberapa butir permen. Kini jangankan membeli sebutir permen, kebanyakan anak kecil pun akan protes bila diberikan uang logam sebagai salam tempel kala lebaran.

Keberadaan uang pecahan kecil yang nilai riilnya kian menyusut kadang menimbulkan permasalahan lain. Jumlah uang receh yang sering diperoleh sebagai kembalian tanpa disadari dapat terus menumpuk, tanpa bisa digunakan sebagai alat pembayaran sebelum terkumpul cukup banyak.

Membayar transaksi dengan segembol uang logam tentu tidaklah praktis. Selain berat serta berdimensi cukup besar, pihak penjual pun akan membutuhkan waktu untuk menghitung dan memverifikasi transaksi tersebut. Lalu, bagaimana caranya menyiasati keadaan ini? Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan e-money.

Sebagai alat pembayaran, e-money memiliki sejumlah karakteristik yang membuatnya unggul dibanding uang kartal. Berikut adalah beberapa kelebihannya:

Penggunaan e-money untuk membayar tarif tol. Sumber Foto: Bobby Priambodo

Praktis

Pengalaman saya berkutat dengan uang receh yang kian menumpuk di atas merupakan salah satu alasan mengapa e-money unggul. Dengan menggunakan e-money, saya dapat mengurangi “koleksi” uang logam di dompet serta celengan ayam di rumah.

Selain praktis dari segi dimensi, penggunaan e-money juga bisa mempercepat transaksi dan bahkan mengurangi inflasi. Sebagai contoh, di kala lebaran saat keberadaan uang pecahan kecil menjadi langka, saya harus menunggu lama sebelum akhirnya merelakan uang kembalian dari beberapa transaksi karena si penjual tidak memiliki uang receh. Kelangkaan uang meningkatkan permintaan terhadap uang kartal, yang ujung-ujungnya mendorong inflasi. Semuanya ini bisa diminimalkan bila semakin banyak orang yang memanfaatkan e-money.

Terlebih lagi, keberadaaan situs e-commerce serta berbagai layanan online yang menjamur akhir-akhir ini membuat keberadaan e-money menjadi semakin signifikan. Tak perlu lagi beranjak dari rumah untuk membeli berbagai barang atau jasa, cukup akses dari komputer maupun smartphone, dan bayar dengan e-money.

Dilengkapi fitur pengaman

Beberapa transaksi yang dilakukan dengan e-money, seperti penggunaan kartu debit maupun kredit, membutuhkan proses verifikasi dari pengguna. Keberadaan proses ini membuat penggunaan e-money relatif lebih aman dibanding uang kartal. Ketentuan pengamanan alat bayar elektronik ini bahkan semakin dipertegas dengan Peraturan Bank Indonesia nomor 11/12/PBI/2009 yang mewajibkan penggunaan chip khusus pada instrumen e-money.

Walaupun fitur pengaman yang terdapat pada e-money tidak seratus persen mencegah pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menyalahgunakannya, namun setidaknya proses ini bisa mengurangi kemungkinan terjadinya hal tidak diinginkan.

Teknologi yang diterapkan untuk melakukan pengamanan juga semakin berkembang. Sebagai contoh, beberapa bank telah menggunakan fitur multi factor authentification, di mana bank akan mengirimkan PIN khusus yang dikirim via SMS ke nomor ponsel terdaftar, guna mencegah transaksi ilegal. Beberapa perusahaan teknologi, seperti Apple dan Google, bahkan menggunakan sidik jari pengguna sebagai alat verifikasi pada produk e-money masing-masing.

Sumber Gambar: Money Management

Alat kontrol bujet

Bank menetapkan batasan dalam penggunaan e-money yang dapat mencegah pengguna melakukan transaksi berlebihan. Beberapa batasan yang diberlakukan antara lain nilai transaksi maksimum harian untuk kartu debit, plafon kredit untuk kartu kredit, serta saldo maksimum untuk kartu jenis prabayar. Kesemuanya bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu kontrol bujet bulanan.

Kartu prabayar merupakan alat yang sangat pas untuk membatasi transaksi harian. Di samping ketentuan saldo maksimumnya yang cenderung kecil (sekitar Rp1 juta), pengisian ulang maupun penggunaan untuk melakukan transaksi pun cukup terbatas hanya di tempat-tempat yang sudah dilengkapi perangkat Electronic Data Capture (EDC). Keterbatasan itu tentu menjadi insentif untuk mengurangi belanja impulsif, bukan?

Dapat ditelusuri

Setiap transaksi yang dilakukan dengan e-money tercatat dalam sistem informasi bank, serta dapat diakses oleh para pengguna dengan relatif mudah. Berbekal data ini, pengguna dapat menelusuri belanja apa saja yang telah dilakukan, dan dapat merencanakan keuangan ke depannya dengan lebih bijak.

Selain itu, sifat e-money yang mudah ditelusuri juga merupakan nilai plus ditinjau segi keamanan. Bila suatu saat terjadi musibah di mana uang yang terdapat dalam rekening bank mendadak raib, setidaknya bank memiliki catatan ke mana uang mengalir serta di mana atau siapa penerima dari aliran uang. Tentunya fitur ini menjadi petunjuk penting bagi kepolisian untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut.

Memiliki penawaran spesial

Dari semua nilai plus yang telah saya utarakan di atas, salah satu kelebihan utama e-money dibanding uang kartal adalah keberadaan penawaran spesial yang sering diberikan bank kepada para penggunanya. Dengan memanfaatkan e-money, para pengguna bisa mengubah transaksi yang dilakukan menjadi cicilan dengan bunga nol persen, serta mendapatkan poin yang dapat digunakan untuk transaksi berikutnya.

Para pengguna e-money juga sering dimanjakan dengan berbagai potongan harga yang membuat transaksi menjadi semakin hemat. Bank sering kali bekerja sama dengan berbagai merchant untuk melakukan promosi, mulai dari potongan harga yang berlaku secara terbatas, hingga memberikan bonus khusus kepada para pengguna e-money.

Beberapa hal yang sering saya nikmati dari penawaran spesial ini antara lain berupa upsize gratis untuk makanan maupun minuman, potongan harga biaya tol di kala musim liburan, serta biaya parkir gratis di saat-saat tertentu. Siapa sih yang akan menolak diskon?


Walau memiliki kelebihan-kelebihan yang saya sebutkan di atas, sayangnya e-money belum dapat sepenuhnya menjadi pengganti uang kartal. Salah satu penyebabnya adalah distribusi jumlah penduduk di tanah air, yang menurut survei dari BPS, sebesar 47 persen dari total warga negara Indonesia di tahun 2015 masih bermukim di pedesaan dengan akses layanan keuangan terbatas.

Penggunaan e-money yang masih terbatas juga terkendala masalah infrastruktur yang belum memadai. Tidak semua penjual memiliki akses kepada perangkat EDC maupun koneksi internet, sehingga membuat uang kartal masih menjadi alat bayar yang lebih umum digunakan.

Namun saya percaya, bila Gerakan Nasional Non Tunai dan Layanan Keuangan Digital yang dicanangkan oleh Bank Indonesia mendapat respons baik, bukan tidak mungkin bila kelak kita akan lebih khawatir saat tidak sengaja meninggalkan smartphone di rumah daripada dompet, karena di situlah uang kita berada.