Pilihan Hidup dan Traveler Sombong

(St. Dominic Church, Macau. Photo by Wuri Kinanti)

Tergelitik saat membaca suatu tulisan di suatu media yang di share pada jejaring sosial tentang “14 ciri traveler sombong”. (http://liburmulu.com/ciri-ciri-traveler-sombong-itu/)

Penulis mencirikan bahwa traveler sombong adalah seorang yang hanya ingin berjalan sendiri tanpa mengikuti tour dengan waktu lama dan budget murah serta seorang yang mencari destinasi sulit dan antimeanstream.

Dari pernyataan artikel tersebut saya tidak membenar atau salahkan. Menurut saya sesuatu yang dianggap sombong adalah bukan dari pilihan yang dijalanin orang tersebut, tetapi bagaimana orang tersebut menyikapi pilihannya dengan pilihan orang lain.

Saya hanya menyayangkan bahwa artikel diatas ditulis dengan bahasa yang terkesan sombong. Artikel yang sama ditulis pada detik.com (http://m.detik.com/travel/read/2014/01/27/084130/2478720/1382/14-tanda-anda-seorang-traveler-yang-sombong) dengan bahasa yang menurut saya terlihat lebih baik. Sehingga sang pembaca tidak merasa terintimidasi dengan sebutan sombong dari penulis artikel layaknya artikel pertama.

Menyikapi tentang ciri-ciri traveler dari artikel tersebut, saya berpikir semua orang punya pilihan saat mereka mengambil keputusan dengan apa yang ingin mereka jalanin. Layaknya hidup dimana prioritas seseorang berbeda-beda, sehingga keputusan gaya traveling mereka juga berbeda.

Ada yang memang mencari pengalaman hidup dan jati diri, ada pula yang hanya mengistirahatkan tubuh dari penatnya pekerjaan. Lama atau sebentarnya mereka traveling dan pilihan apakah harus beransel atau berkoper dengan budget rendah maupun tinggi, semua itu kembali soal pilihan masing-masing. Tidak baik mempersoalkan pilihan traveling seseorang, hal itu sama layaknya mempersoalkan pilihan hidup orang tersebut.

Sederhana, beberapa teman dengan alasan mengejar mimpi keliling dunia membuat keputusan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan dan berjalan bertahun-tahun, beberapa orang dengan alasan yang sama tapi memiliki pekerjaan, mereka menyiapkan jadwal cuti dari satu tahun sebelumnya. Ada pula beberapa teman yang memprioritaskan untuk menikmati perjalanan dengan nyaman dan mewah dan beberapa lagi dengan dana yang sama mereka lebih memprioritaskan berjalan budget minim dengan alasan dana bisa digunakan untuk perjalanan selanjutnya.

Hal-hal tersebut adalah soal pilihan dan prioritas. Tidak ada yang salah dan benar dari sebuah keputusan akan pilihan dan prioritas gaya traveling, sama halnya dalam kehidupan. Setidaknya cukup dimulai dari diri kita sendiri untuk menghargai semua pilihan hidup seseorang bila kita ingin pula dihargai.

wuri_kinanti
(Tabalong, 12 Maret 2016)
One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.