FILOSOFI TANDING

Tanding (T-Nation.com)

Terkadang inspirasi untuk terus mengembangkan diri datang dari tempat tak terduga. Ya, mungkin aneh dilihat dari judul tulisan ini. Namun, tulisan singkat yang aku sajikan kali ini sangatlah “nyata” di kehidupan sehari-hari kita.

Tulisan ini terinspirasi dari seorang ahli beladiri. Menurutku, terlalu merendahkan beliau jika hanya kusebut ahli, karena beliau lah yang juga membangun nama dan membesarkan beladiri yang kumaksud namun tak akan kusebut ini. Sebut saja namanya Kang Petir.

Mengapa kusebut tempat tak terduga? Karena dewasa ini, istilah beladiri mungkin merujuk kepada dua stereotipe, yaitu suatu kegiatan yang sangat kasar juga tidak manusiawi dimana dua orang bertarung hingga salah satunya menyerah atau tidak mampu bertahan lagi, dan dewasa ini beladiri mulai ditinggalkan dan dianggap hanya mainan anak-anak dengan seragam dan sabuk yang didapat begitu mudahnya dengan sedikit uang dan “ujian kenaikan tingkat”. Sehingga, ya bisa kubilang beladiri akhir-akhir ini tidak merujuk kepada suatu kegiatan yang positif.

Beladiri (http://vsbattles.wikia.com/wiki/Martial_Arts)

Sang ahli beladiri, Kang Petir memiliki tinggi kira-kira lima kaki sembilan inci dengan badan kekar layaknya seorang binaragawan. Dari diri beliau terpancarkan aura seorang petarung yang entah mengapa membuat orang disekitarnya akan respect atau segan dengan beliau ini. Dengan suara berat dan lantang, kira-kira hal ini yang Kang Petir utarakan kepada kami (dengan sedikit tambahan dari penulis),

Di Indonesia ini masyarakatnya kebanyakan hanya berfokus kepada membandingkan diri dengan orang lain, pola pikirnya adalah filosofi banding bukan filosofi tanding.
Juga beladiri (USA TODAY)

Tentu akan timbul pertanyaan, apa itu filosofi banding? Apa itu filosofi tanding? Mengapa hal ini begitu penting?

Dalam dunia beladiri, kita selalu ingin membandingkan beladiri kita dengan beladiri orang lain, apakah teknik pukulan sudah benar, apakah tendangan yang kita lakukan lebih kuat dari beladiri lain, dan lainnnya. Lalu, ketika yang kita lakukan berbeda dengan mereka yang lebih dulu ada atau mereka yang sudah dikenal, kita merasa bahwa kita kalah juga salah.

Karena itu, filosofi “banding” ini merupakan suatu hal yang harus ditinggal. Dimana seharusnya yang ada di pola pikir kita adalah filosofi tanding. Tidak peduli mau orang lain melakukan apa, tidak peduli dia lebih dahulu dikenal (beladirinya), atau lebih efektif katanya, kita tetap memberikan segala yang kita tahu, kita pelajari, kita punya untuk “melawan” dalam konteks ini beladiri lain.

Filosofi ini terbukti efektif. Terbukti dengan besarnya nama beladiri Kang Petir sekarang ini yang merupakan hasil kerja keras ayah dari Kang Petir yang melawan petarung dari preman kelas teri hingga ahil beladiri lain. Beliau mengaplikasikan filosofi tanding ini dan melawan (secara harfiah) semua yang ada di hadapannya. Beliau tidak takut berbeda atau salah atau kalah dari beladiri lain. Beliau tetap yakin dengan kemampuan beladirinya yang merupakan karyanya sendiri, karya yang dihasilkan dari tempaan pengalaman selama lebih dari satu dekade hingga akhir, hingga sekarang beladiri beliau diakui oleh beladiri lain lokal dan internasional.

Kembali ke kehidupan sehari-hari kita, tentu sering kali kita berada dalam pola pikir filosofi banding ini. Melihat teman kita, kolega kita, ataupun saudara kita sukses, kita iri ingin seperti mereka, ingin mendapat apa yang mereka dapat, ingin menjadi “mereka”. Lalu mulai lah kita membandingkan diri ini dengan orang lain hingga akhirnya kita sadar. Kita sadar bahwa kenyataannya kita bukan “mereka”, tidak lebih pintar, tidak lebih kompeten, dalam segala hal, kita selalu berada dibawah. Alhasil,kita akan minder dan menjadi tidak percaya diri. Lalu, takluk kepada keadaan, kalah sebelum “bertanding”.

Berbeda dengan filosofi tanding. Walau kita berdiri sendiri dihadapan lawan sehebat , sepintar, sekuat apapun pasti dapat kita hadapi. Karena kita percaya dengan diri kita sendiri, dengan segala persiapan yang kita lakukan, dengan latihan yang kita jalani, dengan keringat, darah, air mata penuh perjuangan, dengan doa yang kita panjatkan. Sehingga, siapapun atau apapun di hadapan kita, dengan penuh keyakinan, tatapan lurus kedepan, dan tangan tergenggam dapat kita taklukan!

Karena, jika bukan kepada diri sendiri, kepada siapa kita harus percaya?

Jadilah dirimu oleh diri sendiri.